oleh Dirno Kaghoo
SUHARTO dalam kisah ini bukanlah Soeharto “Sang Diktator” di masa Orde Baru itu. Tapi Suharto ini juga punya kisah yang tak kalah populernya, minimal di kampungnya sendiri. Popularitas “Suharto Kampung” ini ada pada kebiasaan mengkonsumsi minuman keras secara berlebihan. Dalam kondisi tidak sadar ia menjadi anak manis nan cerdas.
Sebaliknya, betapa bodoh ia bila keadaan membaik. Banyak pihak telah berhasil memanfaatkan kebodohannya pada saat ia tengah sadar. Suharto adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Saudara tertua mereka dapat disebut sebagai “Petualang Handal”. Namanya Sukarno.
Tahun-tahun hidup produktif Sukarno dihabiskan di luar kampung. Saudara tua kedua setelah Suharto adalah perempuan bernama Sukarni, yang kerap dipanggil “Ni” saja. Kemudian disusul saudari perempuan lain yang bernama Suharti. Sukarni tidak menikah seumur hidupnya. Sukarni benar-benar dipercayakan kedua orang tuanya memelihara dan merawat semua kebun pala milik keluarga.
Sedangkan Suharti menikah dengan seorang pelaut sehingga separuh masa hidupnya dihabiskan di Jakarta menunggu suami turun dari kapal. Suharti dan Sukarno berjuang mempertahankan hidup mereka bukan dari hasil kebun pala, tetapi Sukarni dan Suharto yang berdiam diri di kampung halaman, mereka hidup dari hasil pala yang mereka kelolah. Tahun 1974 ketika usia saya belum genap setahun, Sukarni menggendongku ke dalam gereja untuk penabisan. Akupun ikut dalam paradigma penamaan versi keluarga ini. Di antara kedua nama kecil dan nama besarku, diselipkan sebuah nama sedang (tengah); Sudirno. Entah apa makna nama itu. Sayapun tidak tahu.
Selaku anak bungsu, Suharto berlaku cengeng terhadap kakaknya yang perempuan. Sukarni sering dimarahi kalau Suharto pulang ke rumah lantas makanan belum tersedia. Maklumlah Sukarni harus mengurus kebun pagi-pagi buta dan pulang pada jam 10.00 untuk menanak nasi. Suharto masih asyik mendengkur, sementara Sukarni baru saja selesai menyiangi rumput yang menghalangi pertumbuhan bibit pala yang ditanaminya kemarin sore. Lima jam sejak pukul 06.00 Sukarni telah menanam 25 bibit pala di lahan kosong. Lima tahun kemudian perempuan bujang itu sudah bisa menikmati hasil jerih payahnya. Ia sangat gembira karena dapat menghidupi adiknya setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia. Sukarni memelihara seekor anjing yang diberikan nama “kasih”. Kasih dilatih oleh Suharto untuk melengu panjang sebuah panggilan yaitu embo.
Kebiasaan kasih ini seringkali dimanfaatkan Sukarni untuk memanggil adik bungsunya itu dari tanjung, sehingga teluk kampung menampung suara anjing itu dan dinding-dindingnya memantulkan gema suara si kasih. Demikian setianya Sukarni dan kasih anjingnya, mengurus si embo Suharto.
Beberapa tahun kemudian Suharto menikah dengan gadis kampung tetangga. Telah dua windu pernikahan mereka belum kunjung mendapatkan momongan. Kebiasaan minum miras sulit dihilangkan dari diri Suharto. Isterinya menjadi dominan mengurus berbagai keperluan rumah tangga mereka.
Beberapa kali mereka berdua mengunjungi dan menetap di rumah orang tuanya yang ditinggali Sukarni dan kasih. Bila paceklik datang Suharto dan isterinya pergi meninggalkan Sukarni dan kasih. Mereka hanya datang pada saat sedang ramai-ramainya memanen hasil pala.
Sebagai anak tertua, Sukarni tidak diperbolehkan mengeluh atas perbuatan Suharto dan isterinya. Itu lantaran pesan orang tuanya, Sukarni selaku anak tertua yang berada di kampung menjadi wakil dari orang tua bila kedua orang tua telah meninggal dunia. Sukarni melakoni peran sebagai “Yakang Geghanti Gaghurang” (anak tertua pengganti orang tua). Saat sedang gundah hati, Sukarni mengirim surat kepada kedua saudaranya di rantau. Isinya seputar kebingungan atas perlakuan Suharto dan sebuah permohonan untuk kembali ke kampung halaman mengurus peninggalan kedua orang tua mereka. Suharti adik perempuan Sukarni beberapa kali datang mengunjungi kakaknya yang sedang rindu bersua.
Ia datang sebagai orang metropolis sedikit lebih maju pemikirannya daripada yang lain. Entah karena pikiran rasional membuat Suharti berhati-hati menyimpulkan sebuah perkara. Suharti tidak begitu percaya sepenuhnya pada Sukarni, namun ia membangun pendekatan lebih familiar dengan Suharto dan isterinya agar mereka sanggup hidup akur dengan kakak mereka yang bujang itu.
Sayang sekali, niat baik Suharti mendapat penolakan dari Suharto dan isterinya. Saking marahnya, Suharto menjual gadai sebagian dari peninggalan orang tua mereka kepada salah satu pedagang kampung. Lahan yang ditanami 80 pohon pala digadai seharga 2 juta rupiah.
Sepohon pala dihargai Rp 25.000 saja. Padahal pohon-pohon pala di lahan seluas 1500 meter persegi itu adalah pohon pala yang sangat produktif berumur lebih dari 20 tahun atau lebih dari 15 tahun membiayai semua keperluan rumah tangga mereka. Sukarni menangis tak karuan atas perbuatan adiknya. Katanya, selamat tinggal pohon-pohon yang aku cintai. Jasa besar pohon-pohon pala itu setiap kali panen memberikannya 60 kg biji pala kering dengan harga pasar kala itu Rp 45.000/kg dan 7,5 kg fulli kering dengan harga pasar saat itu Rp 60.000/kg, sehingga total kehilangan yang ditangisi Sukarni adalah Rp 216.450.000 per sekali panen. Penjualan gadai lahan yang dilakukan Suharto akan berakhir pada tahun 2025.
Dengan sendirinya, terhitung sejak tahun 2000 dimana dalam setahun minimal 2 kali melakukan panen, maka total uang yang diserap pedagang kampung dari keluarga Sukarni adalah sebesar Rp 10.822.500.000,-.
Perbuatan Suharto membuat Sukarni banyak berpikir dan akhirnya mulai diserang penyakit diabetes melitus. Ia bertahan hidup sepanjang 6 tahun kemudian. Setelah itu ia meninggal dunia dalam kesendiriannya sementara kebun-kebun pala yang tersisa dari total harta mereka letaknya sangat jauh dari kampung dan perlu menyewa tenaga kerja untuk memanen hasilnya. Itupun jumlahnya tidak banyak.
Kehidupan keluarga Suharto menggantung-gantung seperti belatung. Suharto melirik ketenangan kakak perempuannya yang memiliki harta kebun pala milik dari suaminya di kampung yang berbeda. Seperti biasa, Suharto usai menghabiskan dua juta di tangannya, kemudian memburu harta iparnya. Lagi-lagi isterinya berperan sebagai dalang penggadai yang menandatangani lembaran kwitansi penggadaian. Duapuluh pohon pala milik ipar Suharto dijual gadai kepada pedagang kampung berbeda. Di atas kwitansi nampak tertulis dengan huruf balok yang jelas, TELAH DITERIMA UANG GADAI POHON PALA SEBANYAK 20 POHON DARI XXXXXX, SEBESAR RP 1.000.000. YANG BERTANDA TANGAN : NAMA ISTERI SUHARTO (NAMA SUAMI SUHARTI)……. Kali ini Suharti menjadi korban perlakuan buruk Suharto adiknya yang paling dikasihinya itu.
Satu ketika Sukarno mengirim surat kepada Suharto. Isinya berita duka atas kematian anak perempuan semata wayang yang umurnya belum genap 22 tahun. Sebulan kemudian disusul lagi berita duka yang sama. Sukarno ditinggalkan isteri tercintanya, meninggal dunia karena sakit. Sudah wajib hukumnya bagi Suharto untuk menyisihkan sebagian harta yang dikumpulkannya dan didermakan pada kakaknya yang dirundung duka di negeri orang. Suharto benar-benar bingung menanggapi isi kedua surat yang beruntun itu. Sementara uang hasil gadai sudah habis terpakai. Singkatnya, tak satupun yang dapat dikirimkan oleh Suharto yang saat itu berkuasa atas sisa harta keluarga.
Setahun kemudian Sukarno yang uzur itu menikah lagi dengan seorang janda muda beranak lima. Bagi Sukarno, anak-anak dari isteri barunya adalah berkat bukan beban. Anak-anak ini kremos-nya minta ampun. Nakalnya menyesakkan dada. Oleh sebab itu sulit bersosialisasi dalam keluarga besar Sukarno. Suharto masih memiliki “rumah palace” yang bisa diperjualbelikan. Rumah yang sedang dipugar oleh Alm.
Sukarni tetapi belum selesai sudah kehilangan sumber daya ekonominya akibat ulah si bungsu itu. Banyak pihak tidak setuju atas niat Suharto karena rumah itu bukan hanya peninggalan dari kedua orang tuanya, melainkan peninggalan dari kakek buyutnya. Ketika Suharto hendak menjual, maka pihak keluarga besarnya akan menggugat. Tetapi Suharto tidak kehilangan akal.
Kecerdikannya adalah menjual kintal rumah sebagian. Sedikit demi sedikit kepada tetangga di sebelah rumah palace yang kebetulan sedang membangun dan butuh perluasan halaman rumah. Upaya ini dicium oleh Suharti. Suharti memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya sebelum semuanya menjadi ludes. Demikian juga Sukarno, dia kembali ke kampungnya untuk memburuh harta keluarga yang masih tersisa agar dapat dikelola menjadi sumber daya bagi keluarga barunya. Bila para perantau sudah kembali ke sarangnya, maka jelaslah mereka akan memeriksa detail kepemilikan bersama.
Mengetahui semua posisi telah berubah drastis, maka saling tuding menuding pun tak terhindarkan. Terjadilah konflik dalam tiga rangkai bersaudara kandung itu. Suharti sempat mengalami shock berat dan nyaris melumpuhkan separuh raganya lantaran tak mampu menerima perlakuan buruk Sukarno dan Suharto. Untunglah Suharti masih bisa hidup dari usaha yang ditekuni anak-anaknya yang giat membangun rumah mereka.
Kini Sukarno masih terus menerus memburuh harta sementara Suharto terus menerus bergeliat dalam kemabukan yang melemahkan syarafnya. Kehidupan keluarga ini benar-benar hancur. Suharti terus menerus mengenang Sukarni yang selama ini dinilai salah mengelola kepemilikan mereka. Suharti baru menyadari bahwa tanggungjawab yang diemban kakak perempuannya itu tidaklah mudah dilakukan.
Saat ini Suharto menawarkan diri menjadi kuli pada pedagang yang membeli pohon pala mereka. Dirinya menjadi budak di atas tanah miliknya sendiri. Ia hanya dibayar Rp 20.000 sehari. Hasil gajinya itu bahkan tidak cukup membeli sebotol minuman keras. Dia tak bisa menghentikan kebiasaan minum karena stress yang berlebihan. Keluarganya semakin dililit hutang.
Dirinyapun tidak bisa meminta tolong pada Suharti karena malu pada iparnya sendiri. Ia menjadi manusia paling bodoh dan nyaris gila. Menanti kehidupannya membaik hingga tahun 2025. Berapa banyakkah orang asli Siau yang berlaku bodoh seperti ini? (*)
