
Penulis: Sri Surya
PT Sasa Inti (Sasa), produsen santan siap pakai berbahan dasar kelapa, menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan ekosistem kelapa nasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rantai pasok bahan baku sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Komitmen ini diwujudkan melalui kolaborasi strategis bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Kapasitas Sistem Rantai Pasok dan Model Kemitraan Penyediaan Bahan Baku Kelapa melalui Kerja Sama Pentahelix.”
FGD ini menjadi wadah dialog multipihak untuk berbagi perspektif dan merumuskan strategi penguatan rantai pasok kelapa yang adaptif, berkelanjutan, dan inklusif.
Inisiatif tersebut sejalan dengan peran Sasa sebagai pelaku industri yang mengelola fasilitas pengolahan kelapa di Minahasa Selatan, sekaligus mengembangkan berbagai program pemberdayaan petani guna meningkatkan kualitas panen dan daya saing produk berbasis kelapa.
Kelapa merupakan komoditas strategis bagi industri pangan Indonesia serta sumber penghidupan utama bagi ribuan petani.
Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Minahasa Selatan, tercatat sebagai salah satu sentra produksi kelapa nasional dengan luas perkebunan mencapai 47.164 hektar dan total produksi sekitar 42.209 ton per tahun.
Potensi ini menjadikan kelapa sebagai tulang punggung perekonomian daerah dan penopang mata pencaharian masyarakat setempat.
Namun, meningkatnya aktivitas industri pengolahan di wilayah sentra produksi turut memicu persaingan bahan baku, yang berdampak pada stabilitas pasokan dan fluktuasi harga di tingkat petani.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penguatan sistem rantai pasok kelapa yang mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan industri dan keberlanjutan kesejahteraan petani.
“Kelapa bukan hanya bahan baku industri, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penguatan rantai pasok harus dirancang secara komprehensif agar mampu menjawab tantangan pasar sekaligus memberi nilai tambah yang adil bagi petani,” ujar Ir. H. Snowerdi Sumardi, M.M., Chief Manufacturing Officer PT Sasa Inti.
Sejalan dengan Sasa Sustainability Framework, kerangka kerja keberlanjutan yang diterapkan di seluruh rantai nilai perusahaan, Sasa telah merintis program pemberdayaan petani kelapa di Minahasa Selatan sejak 2024.
Program ini dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk membangun ekosistem kelapa yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Melalui pengoperasian fasilitas pengolahan kelapa yang memanfaatkan hasil panen lokal, Sasa menempati posisi strategis dalam menghubungkan produksi di tingkat petani dengan industri hilir.
Kehadiran fasilitas tersebut mendorong proses hilirisasi, memperkuat nilai tambah komoditas kelapa, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk olahan dalam negeri.
“Bagi Sasa, keberlanjutan rantai pasok tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan petani. Karena itu, kami mendorong kemitraan jangka panjang yang berfokus pada peningkatan produktivitas, kualitas panen, dan kepastian serapan hasil petani,” jelas Rida Atmiyanti, S.Psi, MM, Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti.
Program pemberdayaan ini mencakup penguatan kemitraan hulu–hilir, edukasi agronomi berbasis praktik modern, serta pendampingan petani dalam menjaga kesinambungan pasokan.
Dengan pendekatan tersebut, penguatan rantai pasok kelapa diharapkan dapat berkontribusi langsung terhadap ketahanan industri sekaligus pembangunan ekonomi lokal.
