“Karenanya, jika kita tidak berhati-hati, masa nataru menjadi momen yang rawan, sehingga kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan harus lebih ketat, apalagi dengan mobilitas yang tinggi dan masa karantina yang dipersingkat,” tambahnya.
Lebih lanjut Dicky mengatakan, naskah akademik Peta Jalan Adaptasi Pengendalian dan Pemulihan Dampak Covid-19 ini memberikan arahan langkah apa saja yang perlu dilakukan oleh semua pihak untuk mempercepat transisi masa pandemi menuju endemi untuk tercapainya target pembangunan kesehatan.
Peta jalan ini mengungkap enam pokok permasalahan sektor kesehatan Indonesia yang perlu dimitigasi dalam upaya pemulihan dampak Covid-19 yakni (1) Belum tercapai abang batas herd immunity, (2) Belum optimalnya deteksi dini dan pencegahan, (3) Belum memadai kapasitas lonjakan faskes saat krisis, (4) Belum konsistennya perilaku adaptif publik, (5) Belum optimalnya koordinasi dan monitoring, (6) Potensi penurunan kualitas layanan kesehatan.
Adapun solusi yang ditawarkan peta jalan ini dalam bentuk aksi adaptasi agar tercapainya pemulihan sektor kesehatan dilakukan dengan cara meningkatkan vaksinasi, melakukan komunikasi risiko, menerapkan tes-lacak-isolasi, melakukan terapi anti-virus, melakukan pengawasan, melakukan pengendalian perbatasan, menerapkan perilaku 5M, memperbaiki kualitas udara, memberikan insentif kepada tenaga kesehatan, perlindungan pada kelompok rentan, melakukan evaluasi berkala, penguatan sarana dan prasarana sektor kesehatan, memberikan pendanaan serta melakukan riset dan
diplomasi kesehatan.
“Kombinasi antara peningkatan program vaksinasi dan konsistensi dalam menaati 5M merupakan hal yang paling penting selama masa pandemi. Selain itu, kebijakan dari pemerintah dan penyebaran informasi harus selalu dipastikan sampai kepada masyarakat hingga ke pelosok negeri untuk meminimalkan dampak,” kata Dicky.
Di sisi lain, Dicky berpendapat penanganan pandemi Covid-19 berbeda dengan penanganan bencana alam.
Dampak bencana alam cenderung terjadi dalam satu periode, pemulihannya bersifat linier yaitu kesiapsiagaan, respons, pemulihan, dan mitigasi.
Sementara peristiwa pandemi cenderung dapat terjadi dalam beberapa gelombang, sehingga tantangannya adalah proses pemulihannya bersifat lebih kompleks dan rumit.
(***/srisurya)
