“Setengah Hati”

BITUNG — Riuh suara burung gagak diujung kelurahan mulai hilang seiring datangnya malam, tergantikan suara mesin genset. Perlahan satu persatu bohlam di rumah warga menyala, serta beberapa lampu jalan. Alivian terlihat santai di depan rumah mertuanya yang berada di persimpangan
pertama jalan masuk kelurahan. Sambil menghisap rokok, pria paruh baya yang kebetulan menjabat sekretaris kelurahan ini memperhatikan kendaraan ojek lalu lalang dengan harapan ada pesan dari kelurahan Binuang.
“Beginilah keadaan kami setiap hari, selain hanya mengharapkan listrik dari
tenaga genset, kami juga hanya bergantung informasi dari kelurahan tetangga
karena signal telepon disini tidak ada,” ujar Alvian sambil menghembuskan asap rokoknya dengan nafas panjang.
Dirinya masih teringat beberapa tahun lalu, ketika Pemkot Bitung memberikan bantuan alat komunikasi handy talky, namun sayang alat tersebut tidak dapat difungsikan. Padahal menurutnya, warganya sangat girang dengan adanya bantuan tersebut karena impian bisa mendapat informasi dari luar sedikit bisa teratasi. Namun sayang, hanya bantuan antena yang mereka terima, sedangkan pesawat atau alat untuk berkomunikasi tidak ada.
“Katanya perangkat radionya menyusul, jadi hanya antena yang dipasang dulu. Tapi satu tahun alat tersebut tak kunjung dibawa. Hingga awal tahun ini ada petugas dari Pemkot Bitung yang datang mencabut antena tersebut dengan alasan akan ditarik,” katanya lirih sambil menatap isterinya, Polona di ruangan tamu yang sibuk melakukan aktifitas menyeterika.
Polona sendiri harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan seterikaan.
Mengingat listrik hanya menyala 10 jam, sehingga ia harus bergegas menyelesaikan dua keranjang baju untuk diseterika sebelum genset bantuan tersebut dimatikan.
Untuk menikmati cahaya listrik di malam hari, Alvian dan Polona harus
mengeluarkan Rp55 ribu setiap bulannya. Biaya ini sendiri belum termasuk jika ingin menggunakan seterika, TV, Kulkas taupun alat elektronik lainnya. Karena setiap barang elektronik dikenakan biaya Rp5000 per bulan. Jadi total yang harus dikeluarkan oleh keluarga ini sebulan Rp75 ribu.
Namun fasilitas penerangan ini sendiri belum dinikmati oleh semua kepala
keluarga, karena masih ada sekitar 40 kepala keluarga dari 200-an kepala
keluarga yang hanya mengandalkan lampu botol dengan alasan biaya tersebut terlalu mahal. Apalagi di situasi seperti sekarang ini yang nyaris tidak ada aktifitas melaut dan hanya mengandalkan hasil kebun, yakni kopra yang panen setiap 3 bulan sekali.
Memang sangat memiriskan, bak peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga pula, demikianlah kondisi warga keluarahan Motto. Sudah terpinggirkan, perhatian pemerintah juga boleh dikatakan sangat minim. Padahal hanya beberapa kilometer di seberang Selat Lembeh, ribuan warga di enam kelurahan kota Bitung lainnya menikmati listrik selama 24 jam tanpa batas. Namun entah mengapa, puluhan tahun wilayah Motto dan wilayah Lembeh lainnya tetap tergantung pada lampu botol setiap malam. Bahkan boleh dikatakan, Lembeh yang memiliki wilayah eksotis hanya dipandang
sebelah mata dalam program pembangunan setiap tahunnya.
Terbukti dari pemberian bantuan yang kerap kali tidak lengkap dan hanya setengah-tengah. Seperti bantuan listrik tenaga surya yang katanya ada 50 unit namun hanya diterima 48 unit. Belum lagi bantuan alat komunikasi yakni handy talkie yang hanya diberikan pemancar namun pesawat radio tidak ada dan kini bantuan telepon satelit namun sayang belum bisa dioperasikan hingga saat ini.
Bantuan kelambu yang harusnya 2 buah tiap kepala keluarga, namun yang diterima hanya 1 kelambu. Bantuan bencana alam yakni pembangunan talut namun kini dialihkan ke kelurahan lain, padahal wilayah tersebut berhadapan langsung dengan laut lepas yang sangat rentan dengan gelombang pasang.
Hal yang sama juga terjadi pada bantuan pembangunan fasilitas umum seperti sekolah atau sarana lain. Seperti bantuan pembangunan ruangan perpustakaan yang tidak jelas hingga kini. Padahal di halaman sekolah SMP Negeri 10 Motto sudah berdiri fondasi gedung yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2011, yang tenggang pembangunannya sudah berakhir bulan Mei lalu. Tapi impian puluhan siswa SMP Negeri 10 untuk bisa membaca buku di perpustakaan hanya impian karena gedung tak kunjung rampung.
“Kami terkadang berpikir, apakah wilayah Motto ini masih bagian dari kota Bitung atau tidak. Karena bantuan yang kami terima hanya setengah-setengah yang jelas hanya menimbulkan kekecewaan,” desah Alvian.
Ketertinggalan wilayah Motto dan wilayah Lembeh lainnya ini sudah berulang-ulang disampaikan masyarakat. Malah menurut Alvian, pihaknya sudah lelah menyampaikan apa-apa yang mereka butuhkan dalam setiap kesempatan. Entah itu lewat Musrembang tingkat kelurahan, kecamatan hingga tingkat kota, namun tetap saja tidak ada tanggapan. Kalaupun ditanggapi, pelaksanaannya hanya setengah-setengah dan kerap kali tidak sesuai dengan yang diusulkan dalam Musrembang.
“Semoga kedepannya ada keajaiban bertandang ke kelurahan kami, agar warga tetap memilih untuk tinggal membangun Motto lebih maju,” harap Alvian seraya beranjak dari tempat duduknya dan masuk kedalam rumah mengajak isteri dan anaknya untuk makan malam, sebelum suara genset berhenti bersenandung. Kelurahan itu kembali diselimuti gelap dalam temaran cahaya lampu botol. (en)
