
Jakarta, BeritaManado.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Selasa, 22 April 2025.
Dilansir dari Suara.com jaringan BeritaManado.com, harga emas Antam untuk ukuran satu dibanderol di angka Rp2.016.000 per gram.
Harga emas naik tajam sebesar Rp36.000 dibandingkan harga pada Senin, 21 April 2025.
Kenaikan serupa juga terjadi pada harga buyback (harga beli kembali), yang turut melonjak sebesar Rp36.000.
Pada hari ini, harga buyback emas Antam tercatat sebesar Rp1.865.000 per gram.
Angka ini meningkat dibandingkan harga buyback pada Minggu sebelumnya.
Berikut adalah harga emas antam pada hari ini, seperti yang dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam:
• Emas 0,5 gram Rp1.058.000
• Emas 1 Gram Rp2.016.000
• Emas 2 gram Rp3.972.000
• Emas 3 gram Rp5.933.000
• Emas 5 gram Rp9.855.000
• Emas 10 gram Rp19.655.000
• Emas 25 gram Rp49.012.000
• Emas 50 gram Rp97.945.000
• Emas 100 gram Rp195.812.000
• Emas 250 gram Rp489.265.000
• Emas 500 gram Rp978.320.000
• Emas 1.000 gram Rp1.956.600.000
Harga Emas Dunia Naik
Harga emas global terus naik, bahkan melonjak tajam pada awal pekan ini.
Tercatat, harga emas global menembus rekor tertinggi di level USD3.430 per troy ounce.
Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter AS dan meningkatnya tekanan politik terhadap Federal Reserve (The Fed).
Seperti dilansir dari FXStreet, pada Senin pagi (waktu setempat), emas diperdagangkan di kisaran USD3.419, usai sebelumnya sempat menyentuh level terendah harian USD3.329.
Lonjakan harga emas lebih dari 2,56 persen dalam satu hari.
Adapun ketegangan panas antara Presiden Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell dinilai sebagai salah satu penyebabnya.
Kritik tajam dari Trump yang menyebut bahwa Powell sebagai “pecundang besar” dan mengeluhkan lambatnya upaya menurunkan suku bunga menjadi pemicu ketegangan itu.
Kritik ini juga memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi intervensi politik dalam kebijakan moneter independen AS.
Ketua The Fed sebelumnya menyatakan, bank sentral saat ini mengambil pendekatan “tunggu dan lihat.”
Dia juga mengakui adanya risiko stagflasi kombinasi dari pertumbuhan lambat dan inflasi tinggi yang dapat menantang mandat ganda bank sentral.
Ketegangan ini turut berdampak melemahkan dolar AS.
