Kota Manado

Serat Abaka dari Talaud Jadi Target Eksplorasi Karantina Pertanian Manado

Serat Abaka dari Talaud Jadi Target Eksplorasi Karantina Pertanian Manado
Karantina Pertanian MAnado bersama salah satu pembudidaya Abaka

Manado, BeritaManado.com – Memasuki tahun ke 2 Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Komoditas Pertanian (Gratieks), Kementerian Pertanian memiliki target adanya peningkatan nilai ekspor 20 persen.

Berbagai upaya dilakukan seluruh unit kerja Kementerian Pertanian, termasuk Karantina Pertanian Manado.

Karantina Pertanian Manado terus mengeksplorasi wilayah Sulawesi Utara untuk mengupayakan adanya penambahan volume ekspor maupun jenis komoditas ekspor baru.

Salah satu target eksplorasi Karantina Pertanian Manado adalah serat abaka di Desa Tarun, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Berdasarkan data IQFAST Karantina Pertanian Manado, tahun 2019 serat abaka sudah pernah diekspor ke Inggris dan ditahun 2020 juga masuk pasar Jepang.

“Pekan lalu kami lakukan kunjungan lapangan ke kebun pisang abaka untuk melihat langsung budidaya pisang abaka dan menggali informasi kendala-kendala yang dihadapi petani pisang abaka,” ujar Donni Muksydayan, Kepala Karantina Pertanian Manado.

Menurut Donni, Abaka merupakan tanaman endemik yang tumbuh liar di Talaud namun sekarang sudah mulai dibudidayakan.

Tanaman dengan nama latin Musa textilis termasuk dalam famili Musaceae atau jenis pisang-pisangan.

Bentuknya menyerupai pohon pisang, namun buahnya sangat kecil serta memiliki serat yang sangat kuat dibagian pelepahnya.

Kekuatan serat abaka inilah yang menurut Donni dapat menjadi nilai tambah karena setelah diolah dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan tali tambang kapal, karpet, maupun barang-barang souvenir seperti tas, sandal atau topi.

Konon, serat dari batang pisang ini juga digunakan sebagai bahan baku kertas uang dengan kualitas terbaik, sehingga dipakai untuk mencetak dolar Amerika dan euro.

“Serat abaka merupakan salah satu produk unggulan dari Talaud selain kelapa, kopra, cengkih, dan pala,” tambah Donni.

Namun sayang pemanfaatan pohon pisang abaka sebagai produk unggulan belum optimal.

Menurut Alwin Atini, petani pisang abaka, harga serat abaka yang masih rendah menjadi kendala utama yang mereka hadapi saat ini.

Alwin menyebutkan harga serat abaka yang sudah diproses hingga kering dihargai Rp15.000 per kg.

Nilai tersebut tidak sebanding dengan beban operasional dalam mengolah serat abaka.

Kondisi tersebut diyakini menyebabkan masyarakat Talaud belum begitu tertarik membuka kebun pisang abaka.

Menurut Alwin harga yang tidak sesuai dan tidak kompetitif menyebabkan petani lebih memilih berusaha ke komoditas lain seperti Kopra sehingga terkadang Pisang Abaka tidak terawat dan tidak dipanen.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara