Berita Utama

Ray Dondokambey dan Energi Baru di Balik Sukses Likupang Tourism Festival 2026

Ray Dondokambey dan Energi Baru di Balik Sukses Likupang Tourism Festival 2026
Ray Dondokambey (paling kanan), foto bersama dengan Bupati Joune Ganda, Wakil Bupati Kevin Lotulung dan artis Vicky Salamor. Foto: BeritaManado

Penulis: Alfrits Semen

Pantai Paal, Desa Marinsow, kembali menjadi panggung besar pariwisata Minahasa Utara.

Selama tiga hari, 21 hingga 23 Agustus 2026, kawasan wisata di Likupang Timur itu tidak hanya dipenuhi wisatawan dan masyarakat.

Pantai Paal berubah menjadi ruang tempat budaya, olahraga, UMKM, musik, tradisi dan hiburan bertemu dalam satu perayaan.

Adalah Likupang Tourism Festival (LTF) 2026.

Di balik panggung besar itu, ada satu nama dari generasi muda yang mendapat tanggung jawab tidak kecil.

Ray Dondokambey.

Untuk pertama kalinya dipercaya menjadi koordinator sebuah event pariwisata sebesar LTF.

Ray membawa tantangan sekaligus kesempatan, bagaimana membuat festival tahunan Minahasa Utara itu bukan hanya ramai, tetapi juga punya cerita, punya daya tarik dan meninggalkan dampak bagi pariwisata Likupang.

Ray Dondokambey dan Energi Baru di Balik Sukses Likupang Tourism Festival 2026

Dan tiga hari penyelenggaraan memberikan jawabannya.

LTF 2026 berjalan dengan wajah yang lebih beragam.

Wisata bahari tetap menjadi latar utama, tetapi panggung festival diisi dengan kekayaan budaya Minahasa Utara, kompetisi, permainan rakyat, olahraga, kuliner, UMKM hingga hiburan musik.

Sejak hari pertama, suasana Pantai Paal sudah menunjukkan bahwa LTF bukan sekadar acara di pinggir pantai.

Ketika budaya membuka pintu Likupang
Jumat, 21 Agustus, LTF resmi dibuka Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, didampingi Wakil Bupati, Kevin William Lotulung.

Pembukaan langsung membawa identitas Minahasa Utara ke tengah panggung.

Tarian Kabasaran, Tumatenden, kolintang, parade kostum bahari hingga pertunjukan budaya menjadi bagian dari awal perjalanan festival.

Ribuan masyarakat dan pengunjung ikut menyaksikan.

Pesannya sederhana, tetapi penting.

Sebelum Likupang dijual sebagai destinasi wisata, Likupang harus terlebih dahulu memperkenalkan jati dirinya.

Kekayaan alam menjadi daya tarik pertama.

Namun budaya dan masyarakatlah yang memberikan jiwa.

LTF 2026 kemudian bergerak dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.

Bukan hanya penonton yang diberi ruang.

Pelaku UMKM ikut mengambil bagian.

Produk dan kuliner lokal dipertemukan dengan pengunjung yang datang ke Pantai Paal.

Sejak awal, Ray memang menempatkan UMKM sebagai bagian penting dari konsep festival.

Dalam persiapan LTF, ia menegaskan kegiatan tersebut diharapkan memberi efek ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM di Likupang dan Minahasa Utara.

Ray Dondokambey dan Energi Baru di Balik Sukses Likupang Tourism Festival 2026

Di sinilah ukuran sebuah festival mulai berubah.

Keberhasilan bukan hanya berapa banyak orang yang datang.

Tetapi berapa banyak masyarakat lokal yang ikut bergerak ketika orang-orang datang.

Hari kedua, Likupang tidak berhenti bergerak.

ADVERTISEMENT

Olahraga, permainan rakyat dan budaya mengambil ruang.

Ada voli pantai, domino, lomba halangan, masamper, hingga pacuan roda sapi yang menjadi salah satu atraksi tradisional yang mencuri perhatian.

Rangkaian tersebut membuat LTF tidak terjebak menjadi festival musik semata.

Wisatawan datang untuk menikmati pantai, tetapi mereka juga mendapatkan pengalaman tentang Minahasa Utara.

Ada tradisi.

Ada kompetisi.

Ada kuliner.

Ada interaksi dengan masyarakat.

Dan ada cerita yang bisa dibawa pulang.

Konsep seperti inilah yang membuat sebuah festival pariwisata memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pengalaman wisata, bukan hanya agenda kalender pemerintah.

LTF 2026 sejak awal memang dirancang untuk memadukan wisata bahari, seni budaya, olahraga, permainan rakyat, hiburan dan ekonomi kreatif.

Bagi Ray Dondokambey, semua itu bukan pekerjaan sederhana.

Mengoordinasikan sebuah festival yang melibatkan pemerintah daerah, perangkat daerah, pelaku UMKM, komunitas, seniman, peserta lomba, aparat keamanan, masyarakat hingga pengunjung dalam jumlah besar membutuhkan kemampuan mengelola banyak kepentingan sekaligus.

Dan LTF 2026 menjadi pengalaman pertamanya memegang kendali sebuah event pariwisata sebesar ini.

Di situlah energi generasi muda diuji.

Bukan sekadar menghadirkan ide yang terdengar bagus, tetapi mengubah ide menjadi sesuatu yang benar-benar berjalan di lapangan.

Ray datang dengan pendekatan yang lebih segar.

Ia membawa perspektif generasi yang tumbuh di tengah perubahan cara orang menikmati hiburan, berwisata dan mencari pengalaman.

Tetapi ia tidak meninggalkan akar lokal.

Justru sebaliknya.

Budaya lokal ditempatkan berdampingan dengan hiburan modern.

Pacuan roda sapi bisa hadir dalam festival yang sama dengan konser musik.

Masamper berdampingan dengan panggung hiburan.

UMKM lokal mendapatkan ruang di tengah arus pengunjung.

Pantai Paal menjadi latarnya.

Inilah salah satu wajah LTF 2026.

Ketika Pantai Paal menjadi milik semua orang.

Minggu, 23 Agustus, menjadi klimaks.

Final pacuan sapi, rangkaian semarak kemerdekaan, penampilan kolintang anak-anak, dan video perjalanan LTF menjadi bagian dari hari terakhir.

Kemudian malam tiba.

Pantai Paal kembali dipenuhi masyarakat.

Vicky Salamor tampil sebagai salah satu magnet utama penutupan.

Ribuan orang bernyanyi dan larut dalam suasana konser.

Namun ada satu momen yang membuat penutupan LTF 2026 terasa berbeda.

Ketika Vicky menyanyikan “Ibu Pertiwi”, suasana hiburan berubah menjadi momen kebersamaan.

Ray Dondokambey dan Energi Baru di Balik Sukses Likupang Tourism Festival 2026

Ribuan penonton ikut bernyanyi.

Doa pun dipanjatkan bagi saudara-saudara di NTT, Sumatera dan Kalimantan.

Pada saat itu, LTF seakan keluar dari batas geografis Likupang.

Pantai Paal bukan lagi hanya tempat orang datang menikmati festival.

Ia menjadi ruang kecil tempat orang mengingat bahwa pariwisata juga bisa membawa pesan kemanusiaan dan persaudaraan.

Bupati Minahasa Utara Joune Ganda sejak awal menegaskan bahwa LTF tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Festival harus memberikan multiplier effect dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Minahasa Utara hingga ke tingkat internasional.

Pesan tersebut menjadi penting ketika melihat kembali tiga hari perjalanan LTF 2026.

Ada ribuan pengunjung.

Ada UMKM.

Ada budaya.

Ada olahraga.

Ada ekonomi kreatif.

Ada hiburan.

Bahkan ada wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara yang ikut merasakan atmosfer festival.

Artinya, LTF mulai bergerak dari sekadar kalender kegiatan menuju sebuah ekosistem kecil pariwisata.

Dan di tengah proses itu, Ray Dondokambey mendapatkan ujian sekaligus panggung pertamanya.

Gen Z dan masa depan pariwisata Likupang
Mungkin keberhasilan terbesar Ray bukan terletak pada kemeriahan panggung.

Bukan pula semata pada jumlah orang yang datang.

Melainkan pada keberaniannya menerima tanggung jawab besar di usia muda dan membuktikan generasi baru bisa ikut mengambil bagian dalam menentukan arah pariwisata daerah.

Ray adalah representasi dari generasi yang akan hidup lebih lama dengan konsekuensi dari keputusan hari ini.

Ketika generasi muda diberikan ruang untuk mengelola event pariwisata, yang diuji bukan hanya kemampuan mengorganisir acara.

Yang diuji adalah cara mereka melihat masa depan daerahnya.

Dan dari LTF 2026, sebuah pesan terlihat cukup jelas: Likupang tidak kekurangan potensi.

Yang dibutuhkan adalah cara baru untuk mengemas, memperkenalkan dan menghubungkannya dengan dunia.

Tiga hari di Pantai Paal mungkin telah berakhir.

Panggung telah dibongkar.

Lampu festival dipadamkan.

Pengunjung mulai meninggalkan kawasan.

Tetapi pekerjaan terbesar justru baru dimulai.

Bagaimana membuat orang yang datang ke LTF ingin kembali ke Likupang?

Bagaimana membuat UMKM tetap mendapatkan manfaat setelah festival selesai?

Bagaimana menjadikan budaya lokal bukan sekadar pertunjukan, tetapi bagian dari pengalaman wisata?

Dan bagaimana membuat nama Likupang semakin kuat sebagai destinasi pariwisata Minahasa Utara dan Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah LTF 2026 benar-benar meninggalkan jejak.

Ray Dondokambey telah melewati tiga hari pertamanya.

Ia datang sebagai generasi muda dengan sebuah tanggung jawab besar.

Ia pulang dari Pantai Paal dengan sebuah pengalaman yang tidak kecil.

Dan jika LTF 2026 adalah awal, maka generasi seperti Ray bisa menjadi bagian penting dari bab berikutnya perjalanan pariwisata Likupang dan Minahasa Utara.

Ray Dondokambey dan Energi Baru di Balik Sukses Likupang Tourism Festival 2026

Karena pada akhirnya, sebuah festival tidak diukur dari seberapa terang panggungnya ketika malam tiba.

Tetapi dari seberapa lama cahaya itu tetap menyala setelah semua orang pulang.