
Manado, BeritaManado.com – Penetapan Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Prabowo Subianto sebagai calon presiden mendapat tanggapan dari berbagai pihak.
Pengamat politik Sulawesi Utara (Sulut) Josef Kairupan saat dihubungi wartawan BeritaManado.com mengatakan bahwa penetapan Gibran Rakabuming Raka memberi nuansa baru demokrasi Indonesia.
“Disepakatinya Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto sebagai calon presiden oleh Koalisi Indonesia Maju yang terdiri dari 8 partai politik yaitu Golkar, PAN, Demokrat, Gerindra, Gelora, PBB, Garuda, dan Prima telah memberi nuansa baru demokrasi Indonesia,” ujar Josef Kairupan
Menurut Dosen di Fisip Unsrat Manado ini, terlepas dari pro kontra putusan MK yang meloloskan calon wakil presiden berumur dibawah 40 tahun dengan syarat telah memiliki pengalaman sekurang-kurangnya kepala daerah kabupaten/kota, publik tanah air dikejutkan dengan tampilnya seorang tokoh milenial sebagai calon orang nomor dua di Republik ini.
“Sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini, calon presiden yang ditawarkan oleh parpol kepada publik adalah mereka generasi ‘X’ rentang usia 41-56 tahun ataupun generasi ‘baby boomers’ dengan rentang usia 57-75 tahun berusia,” tukas Josef.
“Tetapi saat ini calon milenial generasi ‘Y’ dengan rentang usia 25-40 tahun, di tawarkan oleh Koalisi Indonesia Maju sebagai cawapres,” kata dia.
Ia pun menuturkan beberapa kelebihan karakter pada generasi milenial.
“Kelebihan generasi milenial yaitu enegik dan memiliki kemauan yang sangat kuat untuk pemecahan masalah dan yang terpenting adalah kemampuan menguasai teknologi digital di era globalisasi saat ini,” ucapnya lagi..
Walaupun ada beberapa kelompok yang mempersoalkan cawapres dengan usia dibawah 40 tahun, namun kata Josef bukan orangnya tetapi proses pengesahan persyaratannya yang dinilai terburu-buru, sarat kepentingan dan intervensi dominasi kekuasaan.
“Tetapi apa mau dikata semua sesuai persyaratan yang ditentukan,” kata dia.
Bagi beberapa Parpol tertentu, kata Josef Kairupan, hal ini mengecewakan.
“Tetapi bagi masyarakat pemilih hal ini memberikan efek kejut, yang membuat Pilpres semakin semarak,” pungkasnya.
TamuraWatung
