
MANADO – Pembangunan Rumah Sakit Siloam yang bertaraf internasional yang akan dibangun di Kota Manado masih harus melalui kajian matang.
“Pengkajiannya menyangkut apakah pembangunan rumah sakit itu sesuai dengan tata ruang Kota Manado atau tidak. Ini yang menjadi persoalan,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sulawesi Utara, Olvie Atteng, Senin (24/10).
Ia mengatakan, beberapa waktu sebelumnya pembangunan rumah sakit internasional itu sudah memasuki tahapan kerangka acuan-analisis dampak lingkungan (KA-ANDAL). Pembahasan KA-ANDAL tersebut pada akhirnya harus dihentikan karena kemungkinan tidak sesuai dengan tata ruang.
“Sekarang ini masih dalam penelitian, apakah cocok dibangun atau tidak. Sekali lagi kalau memang setelah dilihat dalam tata ruang dan cocok, tidak ada masalah ketika dibangun,” jelasnya.
Karena ditegaskan Atteng, dalam peraturan pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) mengatakan, apabila dalam pelaksanaan pembangunan tidak sesuai dengan tata ruang, Komisi AMDAL bisa menolaknya.
“Hal ini cukup tegas sehingga pembangunannya memang harus dikaji matang sehingga tidak menabrak aturan tata ruang yang sudah diperdakan,” kata Atteng.
Kewenangan melakukan penolakan atas dokumen tersebut menurut dia adalah kewenangan Komisi AMDAL Kota Manado. Bukan Komisi AMDAL Provinsi Sulawesi Utara.
“Itu adalah kewenangan mereka (Komisi AMDAL) Pemerintah Kota Manado. Mereka sudah terlisensi dan punya kewenangan untuk itu. Tapi yang pasti prosesnya masih sementara jalan dan dikaji,” katanya.
Di Kota Manado rencananya akan membangun rumah sakit bertaraf internasional, Siloam Hospital Manado. Namun belakangan pembangunan rumah sakit yang rencananya memanfaatkan bangunan eks Matahari Departemen Store di ruas jalan Sam Ratulangi, depan Korem 131 Santiago terhenti. Terinformasi pembangunannya terkendala tata ruang. (niel)

@ Om John,
untuk pembahasan per point :
1. Sangat setuju!
2. Kalau pengelolaan limbah lebih baik dari RS Kandou mungkin kita stuju, tapi tetap yg namanya limbah, apale dekat pante sangat menggangu dan bisa bepengaruh terhadap laut dan isinya serta BUnaken kedepannya.
melihat RS Siloam yg ada di Jakarta … Limbah tetap jadi masalah apalagi limbah RS.
3. Justru itu masalahnya John, bukan tempat yg jauh .. transportasi yg terhambat. nah, kalo mo beking di eks matahari, lebe lama le mo sampe karena macet apale oto so lebe banya. Ckckckck
lagian se contoh kamari ada yg mati lantaran jao? kalo dari belang kong pi RS Kandou sih di eks-matahari pun jaoh om .. hehehehe
4. belum tahu kita kalo ini .. masih absurd
intinya, harus ada dan sesuai dengan RTRW
Rgds,
Sam
Kita dukung sih RS Siloam atas pertimbangan berikut:
1. So lia itu RS Kandou Malalayang? Di beberapa tempat, kita pe WC masih da lebe bersih sto dari tu ruangan.
2. RS Siloam tentunya punya program dan sarana pengelolaan limbah dimana tentunya masih lebih baik dibanding RS Kandou
3. Tempat yang strategis di pusat kota adalah sangat baik untuk masyarakat warga kota. Bayangkan akibat tukar guling RS Gunung Wenang dulu, berapa banyak korban kecelakaan/sakit yang meninggal di perjalanan karena lokasi RS Kandou yang terlalu jauh?
4. Memang dapa lia pembangunan ini dipersulit supaya doi tampias lebe besar. Apalagi pangeran ada mo bacalon bupati.
Semoga saja masalah ini bisa diselesaikan dengan baik, sehingga pembangunan rumah sakit siloam manado bisa dilanjutkan kembali.
wah .. wah …
Terjadi tarik ulur tentang pembangunan RS Siloam.
Alasan yg dikemukakan sangat2 benar dan saya setuju.
CUMA … Ujung2nya pasti RS ini akan jadi dibangun.
seperti biasa, kalau ada yg koar2 berarti masih “LAPAR” .. hehehe
Paling kwa, kalo James Riyadi so bayar pa Pemerintah, tu koment2 rupa AMDAL so ilang. ganti dengan komen2 yg memuji pembangunan RS.
UUD Sob … Ujung2 DOI
SHS plin plan plennnnn. Ujung2 egois
Paling tarik ulur dulu, nanti kalo so baku mengerti , ijin pasti kluar….
Sedang MSM bisa ator SHS masa James Riady nda bisa..
Pemerintah stress mo kase IZIN. Masak james riady mo ator pa SHS, rakyat/pantai hancur