Kota Bitung

Mataingkere Aertembaga, Mata Air yang Menyimpan Jejak Leluhur, Ritual Adat hingga Sejarah Panjang

Foto: Leonora Ola Tompunu Turun Langsung Bersihkan Mataingkere, Jaga Jejak Sejarah Leluhur Aertembaga.

Penulis: Syarif Umar l Bitung

Di tengah permukiman masyarakat Aertembaga, Kota Bitung, terdapat sebuah mata air yang tidak sekadar menjadi sumber kehidupan. Mata air tersebut menyimpan jejak sejarah, tradisi, serta memori masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

ADVERTISEMENT

Mata air itu dikenal dengan nama Mataingkere, yang dalam perjalanan sejarah dan perkembangan masyarakat kemudian dikenal sebagai bagian dari identitas Negeri Air Tembaga (Aertembaga).

Bagi masyarakat setempat, Mataingkere bukan sekadar sumber air. Kawasan ini memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat.

Leonora Ola Tompunu (64), keturunan keluarga Arnoldus Sompotan, mengatakan Mataingkere sejak dahulu dipercaya menjadi salah satu pusat kegiatan spiritual masyarakat, khususnya ketika warga hendak melakukan ritual adat setelah menghadapi berbagai peristiwa penting.

Salah satu tradisi yang masih dikenang hingga kini adalah kebiasaan masyarakat mendatangi Mataingkere setelah selesai berperang melawan Mangindano dan Loloda.

Di tempat tersebut, mereka dipercaya melakukan upacara adat Semampet, sekaligus membersihkan diri.

“Dulu air tembaga ini, Mataingkere ini, menjadi pusat spiritual. Ketika selesai berperang melawan Mangindano sama Loloda, mereka sering datang ke sini untuk melakukan upacara adat Semampet atau membersihkan diri,” tutur Leonora.

Jejak keberadaan Mataingkere bahkan disebut tercatat dalam sejumlah literatur sejarah sejak sekitar tahun 1800-an. Dalam catatan tersebut, terdapat kisah mengenai dua tokoh yang disebut kerap datang ke kawasan mata air setelah berperang untuk melakukan pembersihan diri.

Jauh sebelum kawasan ini dikenal seperti sekarang, keberadaan Mataingkere juga berkaitan erat dengan tradisi masyarakat dalam menentukan lokasi permukiman.

Dalam tradisi masyarakat masa lalu, pencarian sumber mata air menjadi salah satu tahapan penting sebelum membangun permukiman maupun sumur.

Masyarakat terlebih dahulu mencari tanda-tanda keberadaan sumber air melalui rangkaian adat. Dari proses tersebut kemudian ditemukan sumber air yang dinilai dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Orang Minahasa kalau membangun permukiman biasanya duluan mereka cari mata air. Makanya hampir di setiap kampung ada penanda atau situs-situs tua yang awalnya menjadi sumber mata air,” jelasnya.

Pada masa lalu, kawasan Mataingkere juga dilengkapi tempat mandi yang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Keberadaan mata air itu sekaligus menggambarkan bagaimana sumber air memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Minahasa sejak masa lampau—bukan hanya sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai bagian dari terbentuknya sebuah permukiman.

Nilai sejarah Mataingkere semakin kuat karena kawasan ini disebut berkaitan dengan perjalanan sejarah masyarakat sejak masa Portugis-Spanyol hingga era pemerintahan Belanda.

Dalam sejumlah literatur yang menjadi rujukan masyarakat setempat, mata air ini dipandang sebagai salah satu ruang yang menyimpan jejak perjalanan sejarah dari berbagai zaman.

Lebih dari sekadar sumber air, Mataingkere menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat yang menyimpan memori lintas generasi.

Tempat ini juga dipercaya memiliki nilai kesucian dalam tradisi masyarakat setempat. Karena itu, kawasan Mataingkere hingga kini masih dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai khusus dan dihormati oleh warga.

Memasuki momentum Hari Ulang Tahun Negeri Aertembaga, kepedulian masyarakat terhadap situs bersejarah tersebut kembali terlihat.

Warga berbondong-bondong membersihkan kawasan Mataingkere. Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya menjaga keberadaan situs bersejarah yang memiliki arti penting bagi masyarakat.