Berita Utama

Joune Ganda Ungkap Program 2027 Minut: Air, Listrik hingga Teknologi Pertanian Jadi Satu Kawasan

Joune Ganda Ungkap Program 2027 Minut: Air, Listrik hingga Teknologi Pertanian Jadi Satu Kawasan
Joune Ganda memberikan keterangan kepada wartawan usai mengikuti rapat paripurna DPRD Minahasa Utara dengan agenda Pembicaraan Tingkat I Rancangan APBD Tahun Anggaran 2027, Sabtu (12/9/2026). Foto: BeritaManado

Penulis: Alfrits Semen | Minahasa Utara

Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, mengungkap sejumlah program strategis yang akan menjadi bagian dari arah pembangunan daerah pada 2027.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjaga pembangunan tetap berjalan di tengah ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga untuk memperkuat ketahanan pangan, air dan energi masyarakat.

Penjelasan itu disampaikan Joune Ganda kepada wartawan usai mengikuti rapat paripurna DPRD Minahasa Utara dengan agenda Pembicaraan Tingkat I Rancangan APBD Tahun Anggaran 2027, Sabtu (12/9/2026).

Joune mengatakan, kondisi kekeringan dan karhutla yang sedang dihadapi Minahasa Utara menjadi perhatian pemerintah dalam menyusun program dan anggaran 2027.

Karena itu, program-program yang akan dibahas bersama DPRD tidak hanya berorientasi pada pembangunan dalam kondisi normal, tetapi juga memasukkan langkah antisipasi terhadap kejadian luar biasa.

“Kita sedang menghadapi problem, situasinya kita sedang menghadapi bencana kebakaran dan kekeringan. Ini juga menjadi perhatian yang kami sampaikan kepada pimpinan dan seluruh anggota Dewan agar ini juga menjadi target kita di dalam proses mengatasi persoalan ini,” kata Joune.

Menurutnya, pemerintah daerah tetap akan menjalankan sejumlah program prioritas nasional yang diarahkan ke Minahasa Utara.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah penguatan ketahanan pangan melalui program Water, Energy, Food Security for Regional Integrated Development (WEFSRID).

Joune menjelaskan, program tersebut bukan sekadar memberikan manfaat dari sisi pembangunan fisik, tetapi juga membawa pendekatan teknologi yang lebih maju dalam pengelolaan kawasan pertanian.

Dalam konsep yang dijelaskan Joune, berbagai kebutuhan dasar untuk mendukung produktivitas pertanian akan dibangun secara terintegrasi dalam satu kawasan.

Mulai dari ketersediaan air melalui embung, pembangkit listrik, penggilingan padi berteknologi tinggi hingga sistem irigasi dan distribusi air yang lebih optimal.

“Ini bukan hanya manfaat yang kita akan dapatkan, tetapi teknologinya secara lebih maju,” ujar Joune.

Ia menjelaskan, ketersediaan air menjadi salah satu bagian penting karena kondisi iklim saat ini membuat ketahanan air semakin strategis bagi daerah.

Dengan sistem embung dan irigasi yang terintegrasi, distribusi air untuk kebutuhan pertanian diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal.

Di sisi lain, keberadaan pembangkit listrik dan penggilingan padi berteknologi tinggi akan mendukung rantai produksi pertanian dalam satu kawasan.

“Jadi ini memang ibaratnya kita akan mendapatkan metode bercocok tanam ketahanan pangan yang lebih maju,” katanya.

Bagi Joune, pendekatan tersebut penting agar ketahanan pangan tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga bagaimana seluruh ekosistem produksinya dibangun secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Program tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan Minahasa Utara 2027 yang menempatkan transformasi dan keberlanjutan sebagai bagian penting pembangunan daerah.

Dalam sambutan APBD 2027, Minahasa Utara disebut menjadi bagian dari pengembangan wilayah yang berkaitan dengan peningkatan aktivitas pariwisata Manado-Likupang, pengembangan pusat pertumbuhan kawasan perbatasan, pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL), pembangunan SPAM Regional Bimatara serta program WEFSRID.

Joune menilai program-program tersebut harus dilihat sebagai satu kesatuan dalam membangun ketahanan daerah.

Terlebih, pemerintah daerah saat ini harus menghadapi tantangan perubahan iklim yang berdampak terhadap ketersediaan air, produktivitas pertanian dan potensi karhutla.

Joune sebelumnya menegaskan kebijakan anggaran tidak boleh hanya menunggu bencana terjadi. Pemerintah harus bergerak menuju kebijakan yang lebih preventif, adaptif dan berbasis risiko.

Di sisi pembiayaan daerah, Joune juga mengakui masih ada dinamika terkait transfer ke daerah (TKD).

Ia mengatakan pemerintah daerah terus memantau perkembangan kebijakan pemerintah pusat terkait TKD, termasuk peluang tambahan penerimaan yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembangunan daerah.

Menurut Joune, Pemkab Minahasa Utara bersama Wakil Bupati Kevin William Lotulung juga akan terus melakukan pendekatan kepada kementerian terkait, terutama Kementerian Keuangan, agar dana bagi hasil yang menjadi hak daerah dapat direalisasikan.

“Kami dan Pak Wakil tetap berusaha melakukan pendekatan ke kementerian, terutama di Kementerian Keuangan, agar dana-dana bagi hasil kita juga bisa dirilis supaya kita bisa pakai untuk menambah pembangunan di Kabupaten Minahasa Utara,” ujar Joune.

Ia berharap struktur APBD 2027 yang saat ini masih dalam tahap pembahasan dapat mengakomodasi kebutuhan prioritas daerah.

Menurutnya, pembahasan bersama DPRD masih akan berjalan dan memungkinkan adanya penyesuaian terhadap program maupun struktur anggaran.

Namun, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa program-program strategis yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat tetap mendapat perhatian.

Terutama ketahanan air, pangan dan energi yang semakin penting di tengah ancaman perubahan iklim.

Dengan pendekatan tersebut, Joune berharap pembangunan Minahasa Utara tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga membangun fondasi agar daerah lebih siap menghadapi tekanan lingkungan dan ekonomi pada tahun-tahun mendatang.