Nasional

Harga Minyak Dunia Bergejolak, Bahlil Pastikan BBM Subsidi Tak Naik

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keynote speech di INTECHSEA 2026
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat memberikan keynote speech pada ajang INTECHSEA 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Penulis: Tim Redaksi

Harga minyak dunia yang bergejolak di tengah ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian pemerintah. Namun, masyarakat pengguna BBM bersubsidi mendapat kepastian: pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi meski harga minyak dunia bergerak di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

ADVERTISEMENT

Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat memberikan keynote speech pada ajang Innovation Technology for Social and Environmental Awards (INTECHSEA) 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Dalam keterangan resmi yang diterbitkan Kementerian ESDM pada Selasa (15/9/2026), pemerintah menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur membuat harga minyak dunia bergejolak dan pasokan energi semakin sulit diprediksi.

Kondisi tersebut membuat pertanyaan mengenai harga BBM bersubsidi kembali menjadi perhatian masyarakat.

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik

Bahlil menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi meski harga minyak dunia mengalami tekanan.

“Untuk harga subsidi, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa komitmen ini diambil demi menjaga daya beli masyarakat.

Kebijakan tersebut sebelumnya juga ditegaskan Bahlil pada 11 September 2026. Saat itu, ia mengatakan pemerintah memutuskan tetap menjaga harga BBM bersubsidi sebagai bagian dari upaya melindungi daya beli masyarakat menengah ke bawah.

“Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” kata Bahlil di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Pertamina Patra Niaga kemudian memastikan kebijakan tersebut berlaku hingga akhir 2026.

“Pertamina Patra Niaga mengikuti kebijakan Pemerintah dalam penetapan harga BBM. Meskipun terdapat fluktuasi pada sejumlah parameter pembentuk harga, seperti harga minyak dunia dan nilai tukar, untuk BBM subsidi sesuai arahan Pemerintah tidak ada kenaikan harga hingga akhir 2026,” ujar VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).

Harga Pertalite dan Biosolar Tetap

Berdasarkan harga yang berlaku pada September 2026, Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi atau Biosolar berada di level Rp6.800 per liter secara nasional.

Khusus masyarakat Sulawesi Utara, harga Pertalite tercatat Rp10.000 per liter dan Biosolar subsidi Rp6.800 per liter berdasarkan harga BBM Pertamina yang berlaku mulai 1 September 2026.

Baca juga: Harga BBM Terbaru 1 September 2026 di Sulut, Pertamax Turbo Rp20.000

Sementara itu, sejumlah BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian harga pada September. Kondisi ini membuat perhatian masyarakat semakin tertuju pada kepastian harga BBM subsidi.

Mengapa Harga BBM Subsidi Tetap Dijaga?

Bahlil menjelaskan kebijakan tersebut diambil di tengah kondisi kebutuhan BBM nasional yang masih jauh lebih besar dibandingkan produksi dalam negeri.

“Kebutuhan BBM kita kurang lebih 1,6 juta barel per hari, sementara lifting kita sekitar 600-610 ribu barel per hari,” ujar Bahlil.

Kesenjangan tersebut membuat Indonesia masih membutuhkan pasokan minyak mentah dari luar negeri.

Karena itu, pemerintah juga melakukan diplomasi energi untuk mengamankan pasokan. Bahlil mengungkapkan dirinya turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Rusia untuk membahas, antara lain, negosiasi pasokan minyak mentah jangka panjang guna menutupi defisit kebutuhan dalam negeri.

Bahlil juga menegaskan posisi pemerintah dalam menjaga kepentingan energi nasional.

“Indonesia adalah negara merdeka, tidak ada satu pun kekuatan asing yang bisa mengintervensi kebijakan pasokan energi kita demi kepentingan nasional,” katanya.

Harga BBM Dijaga, Beban Subsidi Tetap Jadi Perhatian

Menahan harga BBM bersubsidi bukan berarti tekanan terhadap anggaran negara hilang.

ANTARA melaporkan harga Indonesian Crude Price (ICP) berada pada kisaran US$106-US$108 per barel pada 11 September 2026, jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel.

Dalam APBN 2026, pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp210,1 triliun. Jika digabungkan dengan kompensasi, alokasi subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp381,3 triliun.

Realisasi subsidi dan kompensasi hingga semester I 2026 telah mencapai Rp233 triliun atau 52,1 persen dari pagu APBN. Angka tersebut meningkat 44,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi memberikan perlindungan terhadap daya beli masyarakat, tetapi pada saat yang sama membutuhkan pengelolaan fiskal yang cermat ketika harga minyak dunia bergerak tinggi.

Bahlil Dorong Hilirisasi agar Manfaat Ekonomi Tinggal di Daerah

Selain menjaga harga BBM, Bahlil dalam kesempatan yang sama menyoroti pentingnya hilirisasi mineral agar manfaat ekonomi sumber daya alam tidak hanya terkonsentrasi pada kegiatan ekspor bahan mentah.

Bahlil membandingkan nilai ekspor nikel Indonesia sebelum dan sesudah kebijakan penghentian ekspor nikel mentah.

“Ekspor nikel kita pada 2017-2018, saat masih berupa bahan mentah, hanya 3,3-3,4 miliar dolar AS per tahun. Setelah kita tutup ekspor nikel mentah, pada 2023 ekspor kita sudah mencapai 33 miliar dolar AS,” ujarnya.

Namun, Bahlil mengakui manfaat hilirisasi belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh daerah penghasil tambang.

Karena itu, pemerintah mendorong smelter berkolaborasi dengan pengusaha lokal, UMKM dan koperasi. Tujuannya agar nilai tambah dari sumber daya alam dapat lebih banyak berputar di daerah.

“Bahan baku pertumbuhan yang ada di daerah, perputaran ekonominya harus dikuasai oleh daerah. Jadikan orang daerah sebagai tuan di negerinya sendiri,” katanya.

Bahlil juga menyatakan dukungan terhadap rencana Universitas Hasanuddin mendirikan Institut Mineral Kritikal untuk memperkuat riset mengenai mineral strategis yang banyak terdapat di kawasan timur Indonesia.

“Institut Mineral Kritikal dari Unhas, saya dukung seribu persen,” tegasnya.

Pada akhirnya, pemerintah menghadapi dua tantangan sekaligus: menjaga harga energi agar daya beli masyarakat tidak semakin tertekan, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam di dalam negeri.

Bagi masyarakat, kepastian bahwa harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026 menjadi kabar penting di tengah masih tingginya ketidakpastian harga energi global.

Baca juga: Desil 9-10 Bakal Dibatasi Beli Pertalite? Ini Rencana Pemerintah dan Potensi Penghematannya

Baca juga: Konsumsi Pertalite Meningkat Pascakenaikan Pertamax, Stok Tetap Terjaga