
Ratahan – Dua siswa SMKN 1 Touluan didampingi orang tua mereka saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang diselenggarakan (16/04), mendatangi pihak sekolah untuk meminta agar kedua siswa tersebut bisa diikutsertakan
pada pelaksanaan UN. Namun sangat disayangkan, meski diperbolehkan ikut, pihak sekolah mengaku tidak bisa menjamin akan kelulusan mereka. Spontan saja, pernyataan pihak sekolah ini kemudian mematahkan niat dan harapan kedua siswa pun orang tua mereka, yang kemudian langsung memutuskan untuk tidak ambil bagian pada pelaksanaan UN di SMK 1 Touluaan.
Alasan pihak sekolah sendiri mengenai nasib 2 siswanya tersebut, tentu jelas sebagaimana tertuang dalam aturan penilaian kelulusan siswa. “Kita memberikan kesempatan mereka ikut UN, namun kita tidak menjamin kelulusan mereka. Ini disebabkan kedua siswa itu tidak mengikuti ujian kompetensi nasonal praktik, teori dan juga tidak ikut UAS yang dilaksanakan sebelum UN. Dimana ini merupakan bagian dari penilain yang juga akan
menentukan hasil pada pelaksanaan UN. Nah mendengar hal ini, kedunya pun
terpaksa dengan sendirinya mengaku tidak akan ikut UN lagi,” jelas Kepala
Sekola SMK 1 Touluaan Drs Fecky Lintong MPd yang mengaku optimis kelulusan 127 siswanya 100 persen.
Sementara itu Kadis Dikpora Mitra Dra Olvie Sumual MPd, melalui kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Perguruan Tinggi Dra Meyke Rondonuwu membenarkan hal tersebut. “Kita ijinkan mereka ikut UN, namun karena keduanya tidak ikut ujian kompotensi dan UAS, sehingga kita tidak bisa
menjamin kelulusan mereka. Padahal itu sangat penting kerena menjadi faktor
penilaian dari pusat. Apalagi hasil tersebut sudah dikirim ke pusat. Intinya kewajiban pihak sekolah sudah dilakukan yakni melaksanakan home fisits jauh sebelum pelaksanaan ujian kompetensi dan UAS,” tegas Rondonuwu. (Dul)
