
Jakarta, BeritaManado.com — Kongres Nasional XVIII Pemuda Katolik segera digelar di Semarang, Jawa Tengah, pada 12-14 November mendatang.
Pengurus Pusat Pemuda Katolik menggelar kongres di masa pandemi COVID-19 dengan konsep hybrid (perpaduan daring dan luring).
“Pengurus Komisariat Daerah (Komda-tingkat provinsi) akan mengikuti kongres secara luring. Sementara, Pengurus Komisariat Cabang (Komcab-tingkat kabupaten/kota) akan mengikuti secara daring,” jelas Maskendari, Ketua Steering Comittee (SC) Kongres, Selasa (9/11/2021).
Maskendari melanjutkan, pelaksanaan kongres juga menerapkan protokoler kesehatan secara ketat.
Peserta luring dan panitia dipastikan sudah mengikuti vaksinasi COVID-19 hingga tes Swab PCR.
“Dengan menaati protokol kesehatan, Pemuda Katolik melalui pelaksanaan Kongres ini memastikan alur konsolidasi dan estafet kepemimpinan organisasi tetap terlaksana sebagaimana mestinya,” katanya.
Presiden RI Ir.H Joko Widodo diagendakan membuka Kongres tersebut, serta dihadiri Ketua MPR-RI, Para Menteri, Gubernur Jawa Tengah, dan Walikota Semarang.
Selain itu, kongres jua akan dihadiri para alumni, tokoh agama, dewan penasihat, dewan pakar, dan para pastor moderator.
Sementara, kongres akan dibuka dengan misa syukur yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko, serta diikuti oleh 31 Komda dan Lebih dari 200 Komcab.
Maskendari menggarisbawahi, kongres Nasional XVIII ini setidaknya memiliki beberapa arti penting.
Pertama, Redefining Moment, di mana melalui kongres ini, Pemuda Katolik ingin mengevaluasi serentak mendefinisikan ulang eksistensinya bagi gereja, bangsa dan tanah air.
Menurut dia, pemuda Katolik menyadari, perubahan internal organisasi adalah syarat bagi laju dan gerak organisasi ke luar.
Karena itu tim SC telah menyusun draft-draft konsep perubahan organisasi untuk penyempurnaan Angaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).
Pemuda Katolik menyesuaikan diri dengan tuntutan jaman yang terus berubah.
“Poin-poin perubahan itu, antara lain pembentukan kepengurusan Luar Negeri, pembentukan Organisasi Sayap, hingga soal Sekretariat Organisasi,” ucapnya.
Christopher Nugroho Sekjen Pengurus Pusat Pemuda Katolik menambahkan, selain menyempurnakan internal organisasi, Pemuda Katolik dalam konteks perannya sebagai bagian dari sosial politik Indonesia menyadari bahwa perlu mendiskusikan Tahun Politik 2024.
Dalam konteks demokrasi, kata Christopher, penyelenggaraan Pemilu langsung (Pilpres dan Pileg) sangat bagus dalam menumbuhkan kehidupan demokrasi yang lebih partisipatif.
Namun, Pemilu Serentak juga telah menimbulkan ekses baru yang berpotensi mengurai keberagaman negara bangsa ini.
