BeritaManado.com

Prabowo Seorang Haji, Saya Protestan dan Kakak Kami Katolik

June 26
07:43 2014

Hashim Djojohadikusumo

 

Manado – Keluarga Calon Presiden RI Prabowo Subianto,  asal di Sulawesi Utara. Ibu Prabowo lahir di Manado berasal dari Langowan. Lahir tanggal 1 September 1921.

Ayah Prabowo seorang guru seorang profesor dengan 5 kali menteri dibawah Presiden Soekarno dan Soeharto. Kakek Prabowo adalah RadenMas Djojohadikusumo pendiri Bank Negara Indonesia yang sekarang BNI 46.

Ini diungkap oleh Hashim Djojohadikusumo yang merupakan adik kandung dari Prabowo Subianto, ketika menghadiri deklarasi dukungan Partai Demokrat Sulut pada Prabowo-Hatta, Selasa (24/6/2014) malam.

Sedangkan latar belakang agama, ibu Prabowo lahir seorang Kristen dan meninggal Kristen.

 

Tidak pernah berpindah agama. Dikeluarga kami agama tak jadi masalah – Hashim Djojohadikusumo dihadapan ratusan kader Demokrat Sulut

 

“Prabowo seorang haji, saya Kristen Protestan, kakak kami Katolik. Saya Protestan ikut mami. Saya anggota Gereja Kristen Indonesia GKI kebayoran baru,” jelas Djojohadikusumo

Ditegaskannya lagi, dikeluarga Prabowo, agama tak jadi masalah. Setiap hari Natal sudah 60 tahun lebih, Prabowo merayakan hari Natal, seorang Muslim yang merayakan Natal. “Saya sebagai orang Kristen merayakan Idul Fitri. Saya minta maaf Minal Aidin wal Faizin pada sahabat, orang tua, kakak saya. Itu keluarga kami. Kami rukun dari masalah agama,” kata Djojohadikusumo.

Bahkan ditambahkannya, ada orang Yahudi di keluarga mereka, dimana sepupu mereka menikah dengan orang Yahudi. “Itu tidak ada masalah di keluarga kami. Katolik sama Protestan nggak masalah, Islam nggak masalah, juga dengan Yahudi,” tegas Djojohadikusumo.

Djojohadikusumo mengakui, Prabowo Subianto bisa jadi Presdien semua agama, ras, suku dan semua kelompok. Orang Kristen, Islam, Hindu, Budha akan dihidupi dan dibelanya.

“Karena itu adalah tugas pokok setiap Presiden untuk membela dan melindungi rakyatnya. Itu adalah visi dia dari dulu. Dia dalam militer dia membela Pancasila dan Republik Indonesia, dia membela Undang-Undang Dasar, bela Bhineka Tunggal Ika. Dia hampir mati 4 kali untuk Republik Indonesia,” jelas Djojohadikusumo.

 

(robintanauma)

 

 

 

 

 

30 Comments

  1. Haji Plus March 24, 14:35

    Dalam bermasyarakat, kita semua dibatasi oleh norma-norma yang ada dan hidup di lingkungan kita, secara lokal dan nasional. Jadi kita harus memahami norma-norma agama, norma susila, norma kebiasaan, dan norma hukum. Jangan sampai kita hanya mengerti satu norma, sehinga melanggar norma-norma lainnya.

    Kalau sudah satu pemahaman di antara individu masyarakat Indonesia, pasti persatuan dan kesatuan akan lebih mudah diwujudlan. Semoga!

    Reply to this comment

Write a Comment

nineteen − five =