Berita Utama

Paruh Kedua Agustus 2026, Gunung Lokon Alami 388 Kali Gempa Vulkanik Dangkal

Paruh Kedua Agustus 2026, Gunung Lokon Alami 388 Kali Gempa Vulkanik Dangkal
Armando Mangule dengan latar belakang Gunung Lokon

Penulis: Frangki Wullur I Tomohon

Aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, selama periode 16–31 Agustus 2026 didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal (VB).

Berdasarkan evaluasi aktivitas Gunung Lokon yang disampaikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), selama periode tersebut tercatat 388 kali Gempa Vulkanik Dangkal, 10 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 21 kali Gempa Hembusan, 3 kali Tremor Non-Harmonik, dua kali Gempa Tektonik Lokal, serta 80 kali Gempa Tektonik Jauh.

ADVERTISEMENT

Data tersebut menjadi salah satu parameter penting dalam pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Lokon yang saat ini masih berada pada Level II (Waspada).

Petugas Pengamat Gunung Lokon, Armando Mangule, mengatakan hasil pengamatan instrumental menunjukkan kegempaan Gunung Lokon pada periode tersebut masih didominasi oleh Gempa Vulkanik Dangkal, sementara Gempa Vulkanik Dalam relatif jarang terekam.

“Berdasarkan hasil pengamatan, kegempaan Gunung Lokon didominasi Gempa Vulkanik Dangkal (VB), sedangkan Gempa Vulkanik Dalam (VA) jarang terekam,” kata Armando.

Aktivitas Vulkanik Belum Menunjukkan Peningkatan

Meski Gempa Vulkanik Dangkal menjadi jenis gempa yang paling banyak tercatat, hasil evaluasi secara keseluruhan menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Lokon berdasarkan data visual dan seismik belum menunjukkan adanya peningkatan.

Dari pemantauan data RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement), energi kegempaan mulai menunjukkan pola kenaikan pada 24 Agustus 2026 hingga 31 Agustus 2026.

Namun, kenaikan tersebut berasal dari gempa-gempa permukaan.

“Data RSAM menunjukkan adanya kenaikan energi mulai 24 Agustus hingga 31 Agustus. Kenaikan tersebut berasal dari aktivitas gempa permukaan,” jelas Armando.

Sementara itu, hasil pemantauan deformasi menggunakan GPS menunjukkan adanya pola inflasi dengan laju rendah sejak Juni 2025 hingga Januari 2026.

Untuk periode 1 Januari hingga 31 Agustus 2026, deformasi tidak mengalami perubahan signifikan dan polanya masih cenderung mendatar.

Asap Kawah Terpantau Setinggi 100 Meter

Dari hasil pengamatan visual selama 16–31 Agustus 2026, Gunung Lokon yang memiliki ketinggian 1.579 meter di atas permukaan laut (mdpl) umumnya mengalami cuaca cerah hingga mendung.

Angin terpantau bertiup lemah hingga kencang ke berbagai arah, antara lain utara, timur laut, timur, tenggara, selatan dan barat laut.

Saat kondisi cerah, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan ketinggian sekitar 100 meter di atas puncak.

Pada malam hari melalui pemantauan CCTV kawah, teramati adanya api di dasar Kawah Tompaluan pada 19 dan 25 Agustus 2026. Sementara kondisi vulkanik lainnya belum tampak.

Potensi Gas Beracun dan Erupsi Freatik

PVMBG menyebut potensi ancaman bahaya Gunung Lokon saat ini antara lain kemungkinan keluarnya gas beracun dari kawah sewaktu-waktu serta potensi terjadinya erupsi freatik secara tiba-tiba.

Masyarakat yang berada di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon juga diminta mewaspadai potensi lahar, terutama pada musim penghujan maupun ketika terjadi hujan deras dengan durasi lama di kawasan puncak.

Dengan mempertimbangkan hasil analisis dan evaluasi hingga 31 Agustus 2026, tingkat aktivitas Gunung Lokon tetap Level II (Waspada).

Radius 1,5 Kilometer dari Kawah Tompaluan

Pada status Level II tersebut, masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas atau mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan sebagai pusat aktivitas.

Jika terjadi letusan dan hujan abu, masyarakat diimbau tetap berada di dalam rumah. Apabila harus berada di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan pelindung hidung dan mulut berupa masker serta pelindung mata.

Perkembangan aktivitas Gunung Lokon akan terus dipantau dan dievaluasi secara berkala. Perubahan tingkat aktivitas maupun rekomendasi akan disampaikan apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.