Karena itu, ia memakai bahan-bahan di sekitarnya untuk membuat berbagai produk perawatan tubuh dan rambut, seperti daun jambu, mahkota dewa, daun kelor, kopi, dan cengkeh.
“Negeri ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Masing-masing punya khasiat tersendiri. Misalnya, cengkeh bisa menghilangkan jerawat, sementara pala bersifat anti-aging. Bahan-bahan lokal ini cocok untuk merawat kulit kita,” kata Yefni, yang terbiasa meracik masker sendiri sejak masih remaja.
2. Aroma dan teksturnya pas
Dari temuan LTKL, konsumen Cina juga menekankan pentingnya produk perawatan yang menggunakan ramuan tradisional Cina.
Mereka tidak lagi terobsesi pada apa pun yang diberi label asing dan lebih percaya diri akan budaya mereka sendiri.
Begitu juga dengan Indonesia. Produk skincare buatan Indonesia cenderung disukai pasar domestik, karena dirancang sesuai iklim tropis.
Danang membandingkan antara produk lokal dan produk Eropa.
Menurutnya, tekstur produk lokal cenderung ringan, cocok untuk orang yang tinggal di negara tropis, sementara produk Eropa terasa terlalu berat dan membuat kulit jadi tidak nyaman.
“Selain itu, aroma produk Eropa sering kali terlalu tajam, sedangkan aroma produk lokal lebih pas dengan selera kita. Sudah banyak produk lokal yang menggunakan bahan lokal sebagai penambah aroma. Misalnya, kopi yang sekarang dipakai sebagai bahan scrub. Selain kulit mendapat tambahan antioksidan, aroma kopi juga enak banget ketika dihirup,” kata Danang.
Sepakat dengan pemikiran tersebut, Yefni menggunakan berbagai rempah lokal sebagai bahan baku.
Di samping memberi berbagai khasiat, rempah seperti cengkeh dan pala juga memberi aroma khas, yang disukai oleh orang Indonesia.
3. Harga terjangkau
Dibandingkan produk impor, harga produk lokal jauh lebih terjangkau, karena menggunakan bahan lokal dan diproduksi secara lokal juga.
Meskipun demikian, Danang menjelaskan, “Harga produk lokal beragam. Tidak bisa disangkal, harga tidak bohong. Artinya, produk lokal dengan harga lebih mahal punya kualitas yang lebih baik daripada produk lokal berharga murah. Katakanlah untuk produk vitamin C. Teksturnya, mixing-nya, dan layering-nya pasti terasa berbeda,” kata Danang, menegaskan bahwa yang penting produk itu aman, ditandai dengan adanya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
4. Bisa berdayakan banyak orang
Proses produksi untuk produknya masih dikerjakan sendiri oleh Yefni. Namun, ia menggandeng beberapa pihak lain untuk membantu.
Misalnya, ia membeli bahan dari penduduk setempat, meminta bantuan orang lain untuk kirim produk, dan mendapatkan kemasan produk berupa besek tanaman bili dari teman sesama pengusaha.
“Kolaborasi itu perlu, karena sekaligus bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Seandainya usaha saya lancar, volume produksi juga akan meningkat. Artinya, saya akan membeli lebih banyak bahan dari penjual. Perekonomian penduduk terbantu, petani pun ikut sejahtera. Semua pihak senang,” kata Yefni, yang sedang mengurus perizinan usahanya di BPOM.
Nelson menyebutkan, keberlanjutan juga diupayakan dari sisi ekonomi. Karena itu, Pemda Gorontalo ikut mendorong kemajuan bisnis para pelaku usaha UMKM.
“Kami melakukan pembinaan bagi mereka terkait standarisasi produk dari sisi pasar, menjalin komunikasi, dan membuka jaringan. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya membuat produk, melainkan membuat produk dengan baik. Harapannya, semangat masyarakat akan terjaga, baik petani maupun pelaku usaha UMKM yang berbasis potensi lestari.”
(***/rds)
