Pilar Demokrasi
Hasil Kerjasama beritamanado dengan KBR68H
Jakarta – Pembagi-bagian uang saat kampanye sudah lumrah terjadi. Sebagian besar penerimanya adalah masyarakat menengah ke bawah yang memiliki pengetahuan politik yang minim. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Malang, Hendry S.T mengungkapkan, minimnya pemahaman kaum menengah mengenai pemilu membuat mereka dengan mudah menerima transaksi money politic. “Jadi ketimbang nanti yang menang kualitasnya buruk, dimanfaatin sekarang saja dengan menerima transaksi itu,” kata Hendri dalam talkshow Pilar Demokrasi, Senin (26/8). Malang Corruption Watch (MCW) menemukan bahwa 77% warga Malang tidak mengetahui siapa calon kandidat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur yang akan dipilih pada 29 Agustus mendatang. Jangankan visi, misi, dan program kerja, wajah para kandidat pun belum tentu diketahui oleh para calon pemilih. Koordinator Pendidikan Pemilih MCW, Hayyik Ali Muntaha mengatakan, tidak mudah untuk membuat masyarakat paham mengenai penyelenggaraan pemilu yang bersih. Kebanyakan dari mereka merasa politik dan pemilu tidak menjadi bagian dari kehidupannya. “Mereka lebih suka membicarakan tentang kebutuhan mereka seperti kesehatan, pendidikan, dll. Tapi sebenarnya muara dari semua persoalan kebutuhan itu adalah kesalahan dalam memilih kandidat saat pemilu,” kata Hayyik. Kini MCW berserta sejumlah organisasi lainnya gencar untuk menyosialisasikan pemilu bersih tanpa amplop. Meski mengalami sejumlah kendala, namun mereka berharap beberapa kelompok yang diajak ke dalam forum bisa berpikir bahwa uang dalam pemilu nantinya akan menyusahkan kehidupan mereka selama lima tahun mendatang. Meski begitu, Hayyik tidak menampik bahwa masyarakat masih sangat sulit untuk menolak pemberian dari kandidat. “Tidak mudah memang menyampaikan kepada publik, bahkan saudara dan teman kita untuk menolak pemberian dari calon kandidat,” sambung Hayyik. Tak hanya berbentuk uang, praktik suap untuk membeli suara masyarakat dalam pemilu juga. (*)
