
Manado – Rekomendasi Ombudsman Republik Indonesia kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia yang mengebohkan civitas Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, karena dalam rekomendasi tersebut Ombudsman meminta agar menteri pendidikan dan kebudayaan Prof. DR. M. Nuh DEA mencopot jabatan Donald Rumokoy selaku Rektor Unsrat mendapat tanggapan dari pihak Universitas.
Rektor Unsrat melalui Kabag Humas Daniel Pangemanan SH MH menuturkan bahwa rekomendasi Ombudsman tidak final untuk dijalankan atau dieksekusi. “Dalam hal ini perlu diklarifikasi bahwa terkait permasalahan DR Julius Pontoh menyangkut keberadaan dekan FMIPA telah tuntas di wilyah kementerian. sebab sudah sangat jelas dalam surat Sekretaris Jenderal Kemendikbud bahwa putusan tersebut sudah tidak bisa dijalankan karena masa periodenya telah berlalu,” papar Pangemanan kepada beritamanado.
Pangemanan kemudian menjelaskan bahwa “Dalam surat sekjen kemendikbud nomor 15562/A.A5/HK/2012 tertanggal 2 Maret 2012 point tiga menyebutkan putusan PTUN Manado dengan mengangkat Julius Pontoh sebagai Dekan FMIPA unsrat periode 2006-2010 tidak mungkin lagi dapat dilaksanakan. Sementara itu jabatan dekan FMIPA pada periode tersebut telah terisi, begitu pula dengan jabatan periode 2010-2014, hal mana merupakan perubahan keadaan yang terjadi setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap,” jelas Pangemanan.
“Berdasarkan dengan landasan itu maka Kemendikbud merekomendasikan dalam surat tersebut juga bahwa perlu alternatif penyelesaian lain yang tersedia dalam UU nomor 5 tahun 1986 pasal 117 bahwa, apabila Rektor tidak dapat melakukan putusan tersebut. wajib memberitahukan ketua PTUN Manado. juga Julius Pontoh dapat mengajukan permohonan kepada ketua PTUN agar Rektor Unsrat dibebani kewajiban membayar sejumlah uang atau kompensasi lain yang diinginkan,” tambah Pangemanan.(jk)

huahahaaa..,.,.komentar kalo suruh2 org minum cap tikus cma datang dari org stres ato so stengah gila karna dp orang yg bblg so baminum cap tikus lebe dulu.,..cma jago ganti2 nama disini..,.,carita dari mana ngoni yg benar kng ada menang???,,.cma ada carita dari PROVOKATOR itu samua…,.cma jago bayar PTUN lebe kng mo bastel..,.,menteri so kase kaluar permen 33.,.,cma jadi carita mati caretaker kng dari unima..,.,kantara org2 stres en biongo itu kase komentar model bagini..,.hahahaha…,..torang tunggu jo dp tanggal main..,.,
sedap sekali mangada org2 biongo model bagini..,..jadi yg betul,,.,ngoni jo minum cap tikus flora,.ralfie.,toni.,rodrigo,.cs nanti qta batambah akang..,..,haahahaha..,,..
Akhirnya yang benar selalu menang, buat nikom yg donald pe pesuruh lebe bae minung cap tikus jo kong babataria di jalan sama dgn tu pangemanan jubir unsrat….kacian deh…loe bedua eh betiga sama donald….
info terbaru carteker rektor sk a.n rektor UNIMA dan menteri memanggil pontoh dan rektor untuk mengclarifikasi permasalahan karena menteri akan mrngclarifikasi ke sekneg rekommendasi ombudsman…….kasian banyak komentar dari pangemanan yang dijilat kembali.
mana kang itu surat sanksi?? nda ada noh.,,cuma kase senang pa ngoni karna ngoni so bayar itu putusan.,,,.karna depe hakim biongo sakali kalo mengeluarkan putusan bagitu,.. putusan sanksi disiplin diberikan yg bukan dari atasan langsung..,,hakim cacat model bagitu..,, jelas skali depe biongo sama dengan itu elsa dengan pontoh,., apalagi pontoh..,,so trouble maker bagus gigi jari memang ngana…
Ganti rugi betul diatur dalam UU TUN kpd yg menang dalam hal ini penggugat pak pontoh, kmudian pengadilan TUN mnyurat ke rektor hadir utk negosiasi brapa yg akan di bayar, tapi anehnya beliau tdk hadir utk mnentukan ganti rugi, hal ini sangat melecehkan pengadilan yg mau mmlkasanakan hukum acara, akhirnya TUN mnetapkan rektor dikenakkan sangsi disiplin, karena tdk melkasanakan putusan TUN yang incracht, jadi tdk usah pakai2 teori hans kelsen….itu hanya teori, pakai aja yg fakta hukum formal bahwa rektor sdh kenak sangsi disiplin selesai, blg jo pa DR ba calonjo gub torang dukung.ok
Tolong jangan kita membrikan pernyataan yang akan memperkeruh suasana. Kita harus arif dan bijaksana dalam melihat dan menilai keadaan yang terjadi di UNSRAT manado. Sebab semuanya seperti ada yang kendalikan bukan lagi PP dan UU serta keputusan yang dijalankan. Oleh sebab itu berdoalah minta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tentang persoalan yang terjadi di keluarga besar UNSRAT. Yang lainnya masih ada seperti statuta unsrat yang dipaksakan sehingga mengorbankan yang lain seperti Pasac Sarjana Unsrat dan FKM unsrat. serta hal yang sangat tidak rasional dan logis tentang pemilihan calon Rektor 100 % memilih si A. Tolong dipahami apakah ini demokrasi yang baik?
Yang bekeng kesalahan rektor lama, yang harus dipecat itu rektor sesudahnya. Boleh bagitu dang? Atas dasar tudingan melakukan maladministrasi, justru mau menimbulkan maladministrasi baru. Sebaiknya itu tim ten membantu HT utk membuat mesin waktu. Waktu diputar kembali mundur ke 2006 supaya putusan ptun bisa dieksekusi. Agar pahlawan pendidikan tinggi sulut bertambah satu orang. HT. Viva tim ten!
Koreksi utk BM.com, di UU istilah “Ombudsman” bkn “Ombudsmen”, kemudian soal rekom pemecatan, Ombudsman keliru karena tidak memahami kasus dengan benar, dalam ajaran Kelsen, norma mengikat dari keputusan TUN tersebut telah lewat waktu (lingkungan kuasa waktu telah berakhir) sehingga kekuatan eksekutorial dari keputusan tersebut dlm hal jabatan tidak dapat diberlakukan lagi dan kalau itu dipaksakan akan menimbulkan “Mall administrasi” terhadap Unsrat, Fakultas MIPA dan Dekan saat ini. Rekomendasi pemecatan juga menjadi tdk valid karena analisa substansi kasus keliru, dalam kasus ini “Ombudsman hendak menegakan keadilan diatas landasan ketidakbenaran”. Solusi terbaik bagi Ombudsman adalah merekomendasikan pemberian ganti rugi kepada Dr J. Pontoh dan memberikan teguran kepada Prof Sondakh (mantan Rektor) karena beliau yang tidak menghargai proses demokrasi Pildek waktu itu.