
Bagi sebagian besar warga Indonesia, menatap layar gawai (gadget) bukan lagi sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan sudah menjadi denyut nadi kehidupan.
Berdasarkan data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di tanah air telah menembus angka luar biasa yakni 235,26 juta jiwa, dengan tingkat penetrasi mencapai 81,72 persen dari total populasi.
Lebih mengejutkan lagi, laporan dari GoodStats mencatat bahwa masyarakat Indonesia sukses menjadi “jawara global” dalam urusan screen time, dengan rata-rata durasi penggunaan ponsel mencapai 5,7 jam per orang setiap harinya.
Di tengah kepungan notifikasi yang tiada henti, sebuah gerakan penyeimbang mulai berdengung, yakni detoks digital. Namun, dengan sederet manfaatnya, tren ini terlihat masih berjalan di tempat.
Memahami Esensi dan Manfaat Detoks Digital
Secara sederhana, detoks digital adalah periode waktu ketika seseorang secara sukarela berhenti menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel pintar, komputer, dan media sosial.
Tujuannya bukan untuk kembali ke zaman batu, melainkan untuk mengurangi stres, mencegah kecemasan, dan memulihkan kembali fokus pada kehidupan nyata.
Dengan melakukan detoks, seseorang diharapkan mampu memutus rantai ketergantungan pada notifikasi yang terus-menerus memicu kecemasan.
Bagi sebagian orang, istilah detoks digital mungkin terdengar intimidatif, seolah-olah kita harus membuang semua gawai dan hidup terisolasi. Padahal, esensinya jauh dari itu.
Ria Damayanti (41), seorang karyawan swasta di Jakarta yang juga pelaku detoks digital, mengaku pada awalnya dia bahkan tidak tahu istilah formal dari apa yang dilakukannya.
Dia baru familier dengan frasa tersebut setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Menurut Ria, detoks digital yang diterapkannya bukanlah bentuk mengisolasi diri secara ekstrem dari teknologi.
“Detoksku bukan yang bener-bener gak pakai barang digital atau ngilang dari medsos gitu ya, tapi aku batasin aksesnya,” ujarnya kepada Xinhua di Jakarta pada Kamis (4/6/2026).
Strateginya cukup cerdik, dia menghapus aplikasi media sosial di ponselnya, namun sesekali tetap memantau pembaruan informasi secara terbatas melalui laptop.
Dampak Kecanduan Gawai dan Penyebab Tren Jalan di Tempat
Ketertarikan seseorang untuk membatasi diri dari teknologi biasanya berakar dari rasa tidak nyaman akibat ketergantungan. Ria, misalnya, memutuskan mengambil jeda karena merasa gim, ponsel, dan media sosial telah membuat dirinya tidak fokus dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Dampak buruk dari ketergantungan berlebih ini bukan sekadar perasaan subjektif. Muhammad Fijar Rotul Akbar (37), konselor di BINUS International Jakarta, menegaskan bahwa kecanduan gawai membawa dampak negatif yang nyata secara fisik, psikologis, sosial, hingga akademik atau pekerjaan.
“Kalau dilihat dari sisi fisik, penggunaan gadget berlebihan bisa membuat mata lelah, sakit kepala, kurang tidur, postur tubuh memburuk, dan badan kurang bergerak,” tutur pria yang akrab disapa Fijar itu kepada Xinhua di Jakarta pada Jumat (5/6/2026).
Sementara itu, dari sisi psikologis, seseorang bisa menjadi lebih mudah cemas, sulit fokus, cepat bosan, mudah marah, atau merasa tidak tenang kalau tidak memegang ponsel, imbuhnya.
“Dari sisi sosial, hubungan dengan keluarga atau teman bisa merenggang. Fenomena ini sering memicu masalah di mana orang hadir secara fisik, tetapi pikirannya ada di layar gawai,” ungkap Fijar.
Dia juga menyebutkan bahwa dampak ketergantungan gawai pada anak dan remaja juga bisa terlihat pada menurunnya konsentrasi belajar, kurangnya kemampuan mengelola emosi, dan berkurangnya kebiasaan berinteraksi secara langsung.
