Steven Ijin masuk keruangan pemantauan dan minta ijin suster yang jaga untuk berdoa buat saya.
Namun yang dilakukan bukan berdoa buat saya tapi berteriak membentak saya “Papi Bangun! Papi Bangun!
Papi Jangan tidur saja, Papi harus kuat, Papi harus sehat!” reaksi saya ketika mendengar teriakan Steven sekujur tubuh saya menggelepar dan merontah ingin mencari Steven namun oleh suster dan mantri yang berada pada saat itu di ruang ICU menenangkan saya kemudian reaksi dari teriakan Steven pada sore harinya saya mulai sadar dan meminta Handphone pada istri saya melalui suster.
Keesokan harinya Rabu tanggal 23 September 2020 saya benar-benar sudah sadar dan yang saya rasakan saat itu saya seperti orang yang baru bangun setelah tidur panjang kelelahan karena perjalanan jauh. Begitu saya sadar saya bertanya kepada suster “Saya ada dimana?”
Kemudian dijawab suster tersebut kalau saya ada di RSPP Prof. Dr. R.D Kandou dan saya diberitahu oleh suster saya tidak sadarkan diri selama 6 hari dan bapak hebat luar biasa karena bapak adalah satu-satunya pasien yang hidup di Sulawesi Utara (dari 19 pasien yang dipasang ventilator sampai dilepas).
Kemudian saya lihat ada Handphone di meja dekat tempat tidur saya dan saya tanyakan “ini Handphone siapa?
Lalu suster menjawab “Ini Handphone Pak Immanuel yang bapak minta tadi malam dan Handphone tersebut diantar persis tadi malam jam 12. ”.
ternyata sebelum betul-betul sadar, saya sempat meminta Handphone saya.
Langsung saya ambil handphone tersebut dan saya telpon pak Andy M. Iqbal Kajati Sulut.
“Pak, Ijin saya sakit, terus dijawab pak Kajati “Saya sudah tahu, saya monitor kamu, jangan banyak pikir pekerjaan dulu dan yang lain-lain kamu istirahat saja dulu, ikuti peraturan Rumah Sakit dan tetap semangat”.
Puji Tuhan Mujizat terjadi terhadap diri saya, dimana saya sudah dinyatakan tidak ada harapan secara medis namun ternyata Tuhan masih sayang dan memberikan saya kesempatan yang kedua.
Setelah diobservasi ternyata ginjal saya masih bagus, gula darah saya normal juga jantung saya ok.
Karena saya selalu melihat Virus Covid 19 dengan Mindset saya ternyata pada malam hari setelah saya sadar sekitar antara pukul 23.00 WITA saya melihat ada seorang Bapak memakai Peci dan sarung berada di Ruangan ICU.
Orang tersebut berdiri di depan kamar mandi (pintu kamar mandi terbuka setengah) dan berdoa dengan menggunakan bahasa Arab.
Setelah selesai berdoa orang tersebut menyapa saya, “Selamat malam Pak Immanuel” sambil menghampiri saya dan bersalaman sambil mengatakan “Selamat Pak Immanuel semoga cepat sembuh” kemudian orang tersebut keluar dari ruang ICU.
Pada saat itu saya sempat berpikir apa yang salah dari yang telah saya lihat, yang masuk ke ruangan ICU adalah Dokter dan Para Medis yang berpakaian APD lengkap, sedangkan orang itu tidak, lalu orang itu siapa?
Saya tidak banyak berpikir atas apa yang lihat, selanjutnya saya tidur.
Keesokan paginya saya bertanya kepada suster tentang apa yang saya alami tadi malam dan suster tersebut menceritakan bahwa orang yang saya ceritakan adalah pasien Covid pertama (kembali dari umroh) dan pasien tersebut sudah meninggal .
Puji Tuhan, ternyata Tuhan memperlihatkan kepadanya apa yang selama ini ibarat setan itu ada tapi tidak ada sebagaimana dilihat dari adanya Pandemi COVID-19.
Disamping COVID-19, ternyata telah terjadi pendarahan lambung dan dirinya harus dirawat selama 14 hari.
“Setelah lambung saya normal kembali dan dilakukan test Swab terhadap saya, kemudian saya dinyatakan negatif untuk kedua kalinya, kemudian tepat tanggal 17 Oktober 2020, saya diperbolehkan pulang dari rumah sakit untuk isolasi mandiri selama 14 hari dan saya mulai aktif kembali bekerja di kantor tanggal 2 November 2020,” ungkapnya.
Satu hal yang saya ingin sampaikan kepada bapak ibu yang membaca kisah saya, bahwa Covid itu ada dan nyata.
Covid bukanlah sesuatu yang aib sehingga tidak perlu disembunyikan dari orang lain namun apabila ada anggota keluarga yang terjangkit Covid agar menginformasikan ke seluruh keluarga, teman, sahabat, baik grup-grup yang ada dalam WA kita untuk minta didoakan agar kita disembuhkan dari Covid-19. Dan jangan takut menghadapi Covid.
“Didalam menghadapi Covid, kita harus rileks, tidak banyak pikiran, banyak istirahat dan jangan lupa taat SOP COVID-19, seperti pakai masker, jaga jarak dan sering cuci tangan,” harapnya.
(***/Frangki Wullur)
