
Penulis: Alfrits Semen
Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di Kabupaten Minahasa Utara tidak sekadar menjadi momentum seremonial.
Pesan yang disampaikan dalam apel Haornas menekankan pentingnya menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, memimpin apel peringatan Haornas 2026 di lingkungan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Senin (14/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Joune Ganda membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Dalam sambutan Menpora yang dibacakan Bupati Joune, ditegaskan olahraga harus dipandang sebagai investasi bangsa, bukan sekadar biaya.
“Olahraga adalah investasi bangsa, bukan biaya,” demikian pesan Menpora yang disampaikan Joune Ganda.
Menurutnya, investasi melalui olahraga berarti membangun manusia Indonesia secara utuh, terutama dalam membentuk karakter yang disiplin, tangguh, sportif dan memiliki daya juang.
Di sisi lain, olahraga juga menjadi investasi penting bagi kesehatan masyarakat agar semakin bugar, produktif dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Karena itu, tema Haornas 2026, “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!”, diminta tidak berhenti sebagai slogan, tetapi harus menjadi gerakan nasional sekaligus bagian dari agenda pembangunan.
Dalam sambutan tersebut, pemerintah daerah mendapat penekanan khusus untuk menjadi motor utama gerakan masyarakat aktif dan bugar.
Para gubernur, bupati dan wali kota diminta memastikan tersedianya ruang publik, fasilitas olahraga, jalur pejalan kaki dan jalur bersepeda, serta program olahraga yang mudah, murah, aman dan inklusif.
Olahraga juga diharapkan hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan sekolah, tempat kerja, desa dan kelurahan, ruang publik hingga keluarga.
Car Free Day, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai kegiatan rutin, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk membangun budaya masyarakat yang aktif bergerak.
Pesan lainnya adalah perubahan paradigma dalam mengukur keberhasilan pembangunan olahraga.
Keberhasilan tidak semata-mata diukur dari banyaknya event olahraga yang digelar, tetapi dari perubahan perilaku masyarakat.
Pemerintah harus mengetahui berapa banyak masyarakat yang aktif bergerak, berapa banyak yang rutin berolahraga, serta apakah tingkat kebugaran masyarakat mengalami peningkatan.
“Data dan indikator harus menjadi dasar kebijakan,” demikian salah satu penekanan dalam sambutan tersebut.
Selain olahraga masyarakat, aspek inklusivitas juga menjadi perhatian.
Anak-anak, pemuda, perempuan dan laki-laki, lansia, masyarakat perdesaan maupun perkotaan serta penyandang disabilitas harus memiliki kesempatan yang sama untuk bergerak dan berolahraga.
Dalam konteks pembangunan olahraga nasional, prestasi atlet tetap harus didorong.
Namun, prestasi tersebut tidak dapat dipisahkan dari budaya olahraga di tengah masyarakat.
Atlet juara, sebagaimana pesan Menpora, lahir dari masyarakat yang gemar berolahraga.
Karena itu, budaya olahraga, prestasi olahraga dan industri olahraga harus dibangun sebagai satu ekosistem.
Peringatan Haornas 2026 pun menjadi ajakan bagi pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi olahraga, komunitas, keluarga dan seluruh masyarakat untuk bergerak bersama.
Masyarakat tidak harus menunggu fasilitas yang mahal atau program yang rumit untuk mulai berolahraga.
Berjalan, berlari, bersepeda, senam bersama atau melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan masing-masing dapat menjadi langkah sederhana membangun kebiasaan hidup aktif.
Haornas 2026 pada akhirnya diarahkan bukan hanya untuk mengejar prestasi olahraga, tetapi membangun budaya masyarakat dari pasif menjadi aktif, dari aktif menjadi bugar, dari bugar menjadi produktif, hingga melahirkan Indonesia yang semakin kuat.
