
Penulis: Tim Redaksi
Hampir setiap ibadah, kata itu terdengar. Di ujung doa, di tengah kalimat permohonan, bahkan sebagai “pemanasan” sebelum Amin, Hallelujah.
Terasa rohani. Terasa khusyuk. Tapi pernahkah Anda berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya artinya?
Jawabannya mungkin akan mengubah cara Anda berdoa selamanya.
Asal Usul Kata Hallelujah: Bukan Sekadar Seru-seruan
Kata Hallelujah berasal dari bahasa Ibrani kuno: Hallelu-Yah.
Ia terdiri dari dua bagian yang sangat spesifik maknanya:
- Hallelu — bentuk jamak imperatif dari kata halal, artinya “pujilah!” (perintah kepada banyak orang)
- Yah — bentuk pendek dari YHWH (Yahweh), nama Allah dalam Alkitab Ibrani
Terjemahan harfiahnya adalah: “Pujilah TUHAN!” — sebuah seruan, sebuah ajakan, sebuah perintah.
Kepada siapa seruan itu ditujukan? Kepada manusia. Bukan kepada Tuhan.
Di Alkitab, Hallelujah Selalu Muncul dalam Konteks Ini
Kata Hallelujah muncul puluhan kali dalam Alkitab, terutama di Kitab Mazmur. Perhatikan polanya:
Dalam Mazmur 146–150 — yang dikenal sebagai Mazmur Hallelujah — setiap mazmur dibuka dan ditutup dengan seruan ini. Fungsinya jelas: pemimpin ibadah mengajak jemaat untuk bersama-sama memuji Allah.
Di Wahyu 19:1-6, paduan suara besar di surga berseru “Hallelujah!” satu sama lain — merayakan kemuliaan Allah bersama-sama.
Polanya konsisten: Hallelujah adalah seruan horizontal — dari manusia kepada manusia — yang objek pujiannya adalah Tuhan.
Ini bukan percakapan kepada Tuhan. Ini ajakan tentang Tuhan, kepada sesama.
Lalu Apa Masalahnya Bila Dipakai dalam Doa?
Di sinilah letak kekeliruan yang selama ini luput dari perhatian.
Ketika seseorang berdoa, ia sedang berbicara langsung kepada Tuhan. Itu adalah komunikasi vertikal — manusia kepada Allah.
Tapi ketika di tengah doa itu ia mengucapkan “Hallelujah”, secara harfiah ia sedang berkata kepada Tuhan: “Pujilah diri-Mu sendiri!“
Bayangkan logikanya: Anda sedang berbicara kepada seseorang, lalu tiba-tiba Anda menyisipkan kalimat yang menyuruh orang itu untuk memuji dirinya sendiri. Janggal, bukan?
Secara teologis dan linguistik, menyisipkan Hallelujah di dalam doa adalah sebuah kontradiksi.
