Oleh Pdt. Dr. Richard Daulay (Mantan Sekum PGI)

Terkejut, sedih, disertai rasa duka yang mendalam. Itulah ekspresi saya setelah bangun pagi, Sabtu 13 Februari 2021, dan membaca khabar duka lewat whatshapp dari Pdt. Feybe Lumanauw, tentang dipanggilnya sahabat baikku Bapak Dr. Sinyo Harry Sarundajang.
Masih duduk di samping tempat tidur sambil merenung betapa “kematian datang seperti pencuri di malam hari”, sayapun berdoa mendoakan isteri dan anak cucu almarhum, semoga mendapat penghiburan dari Tuhan.
Saya langsung menelepon mantan Anggota DPD/MPR RI Fabian Sarundajang, putera almarhum, yang berada di Manado, menyampaikan ucapan turut berdukacita. Saya juga menelpon Anggota DPR RI/MPR RI Vanda Sarundajang, putri beliau, yang langsung terisak-isak menerima telepon saya. Saya mengucapkan doa melalui telepon kiranya Tuhan menguatkan semua keluarga yang berduka, terutama ibu dan anak-anak serra cucu-cucu.
Vanda sedang berada di RS Siloam MRCC, untuk mengurus hal-hal berkaitan dengan prosesi pemakaman, yang menurut rencana jenazah akan dimakamkan di Manado.
Persahabatan kami sudah berlangsung belasan tahun. Sejak beliau Gubernur Sulut dan saya Sekum PGI, kami sering berkomunikasi untuk mensinergikan tugas dan panggilan gereja di tengah negara dan bangsa. Sidang MPL PGI Januari 2007 berlangsung di Manado, berjalan dengan sukses berkat dukungan beliau.
Dan, banyak lagi kegiatan PGI yang beliau dukung moral dan material. Kami sering berdiskusi tentang isu-isu kebangsaan, masalah-masalah gereja dan isu-isu kerukunan umat beragama.
Kalau sedang bertugas di Jakarta, beliau sering menelepon dan mengundang saya bertemu sambil makan di berbagai restoran hotel-hotel bintang lima di sekitar Bundaran HI. Kalau saya ke Manado, didampingi sahabat oikoumene saya, Dr. Royke Roring, Bupati Minahasa saat ini,kami bisa berjam-jam ngobrol di kantor Gubernur, sambil makan siang.
Saya banyak belajar dari beliau tentang seluk-beluk kepemimpinan atas dasar segudang pengalaman dan jam terbang beliau sebagai seorang tokoh bangsa dan tokoh gereja.
Selain orangnya ramah, rendah hati, bijaksana, beriman, dan berjiwa seniman, saya dapat menyaksikan bahwa Bapak Sarundajang memiliki beberapa kelebihan dalam profesinya di berbagai bidang.
Sesungguhnya beliau diberkati Tuhan dengan memiliki beberapa keistimewaan dengan “multi talenta”.
Pdt. Dr. Richard Daulay
Beliau berkarir sebagai birokrat, yang sukses menapaki tangga birokrasi pemerintahan, dari tangga bawah sampai tangga paling tinggi: Inspektur Jenderal Departemen Dalam Negeri.
Beliau juga seorang politisi dan pejabat, yang pernah jadi Walikota dan juga Gubernur, dan telah mengukir banyak karya dan prestasi. Beliau juga seorang diplomat, yang tahun 2009, sangat sukses menggelar Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference) di Manado, dihadiri sejumlah kepala pemerintahan negara sahabat.
Saya juga mendapat undangan khusus dari beliau untuk menghadiri acara itu. Bahkan beliau diangkat Presiden Jokowi menjadi duta besar sejak 2018, yang merupakan pengabdian terakhir beliau kepada negara dan bangsa Indonesia.
Beliau juga adalah seorang teknokrat, terutama dalam bidang ilmu pemerintahan, yang sudah menghasilkan banyak buku, bahkan menjadi “textbook” di berbagai perguruan tinggi ilmu pemerintahan.
Bahkan, di usia 66 tahun, tahun 2011, beliau berhasil mempertahankan disertasi untuk gelar doktor ilmu politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan predikat “cum laude”. Memang beliau termasuk manusia “langka”, yang menganut prinsip “long life learning”.
(Baca juga: Mengkaji Pemikiran Sam Ratulangi, Sinyo Harry Sarundajang Raih Doktor)
Sangat wajar, atas prestasi-prestasi yang dicapai beliau, maka pada tahun 2012 beliau dianugerahi Doktor Honoris Causa bidang perdamaian oleh UIN Malang.
