Padahal jika tidak dipanen, batangnya tidak dapat membesar sehingga tidak menghasilkan serat yang lebih banyak, jelas Alwin.
Permasalahan kedua adalah lahan pisang abaka yang minim, mengakibatkan ketersediaan bahan baku batang pisang abaka tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar.
Kendala lainnya adalah masyarakat yang memiliki mesin pengolahan serat abaka masih sedikit.
“Perlu adanya pelatihan keterampilan dalam mengolah serat abaka ini, sehingga masyarakat mendapatkan nilai tambah dari pengolahan serat abaka,” ungkap Alwin.
Donni berharap melalui kunjungan lapangan ini mampu menggali potensi-potensi ekspor yang berasal dari komoditas pertanian seperti di wilayah Kepulauan Talaud ini.
“Kami akan sering lakukan kunjungan lapangan ke sentra-sentra petani dan melakukan koordinasi dengan pelaku usaha maupun pemda setempat,” papar Doni.
Hal tersebut sesuai dengan arahan Kepala Badan Karantina Pertanian agar dalam menggenjot ekspor seluruh UPT karantina pertanian di penjuru tanah air harus melakukan sinergitas dengan seluruh instansi pertanian dan pihak terkait di seluruh Indonesia.
(***/srisurya)
