Berita Utama

Richard Daulay: Selamat Jalan Sobatku Dr Sinyo Harry Sarundajang

Saya pribadi hadir dalam upacara itu. Beliau juga adalah seorang sahabat, bagi berbagai lapisan: presiden-presiden, menteri-menteri, para guru besar, para ustadz, para pendeta dan warga biasa. Beberapa sahabat beliau pun menjadi sahabat saya, termasuk almarhum ustadz Jafar Umar Thalib dan ustad Mohammad Attamimi, di Ambon.

Tetapi yang paling utama dari semua akhiran “at” itu, beliau sudah dipakai Tuhan dalam hidupnya menjadi saluran berkat. Saya termasuk orang yang menerima banyak dukungan moral dan material dari beliau baik selama saya menjabat Sekum PGI, bahkan sesudah saya tidak di PGI lagi.

Perayaan Golden Wedding Anniversary

Pertemuan kami terakhir adalah di Manila, pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-50 pernikahannya dengan isteri tercinta Deetje Adeline Laoh Tambuwun, 17 Juli 2019.

Karir dan prestasi yang diukir pak Sarundajang adalah juga berkat dukungan sang isteri, yang ramah, lincah dan rendah hati.

Benarlah ucapan: “Di belakang laki-laki sukses ada perempuan hebat”. Perayaan Golden Wedding Anniversary yang digelar di Mayuree Grand Ballroom Hotel Dusit Thani, Makati City, Metro Manila, Filipina, ini dihadiri ratusan tetamu yang datang dari Jakarta, Sulawesi Utara dan daerah lain di Indonesia, serta para diplomat yang ada di Manila.

Baca juga: Di Manila, Begini Perayaan Syukur HUT Pernikahan Kel Sarundajang-Laoh Tambuwun ke-50

Saya diminta sobatku ini untuk berkhotbah pada saat upacara kebaktian syukur. Permintaan pelayanan itu disampaikan dengan cara luar biasa pula. Satu bulan sebelumnya, beliau menelepon dan mengundang saya makan siang di sebuah restoran di hotel Grand Hyatt, Jakarta. Saat itulah saya diminta untuk menyampaikan Firman Tuhan pada ibadah syukur itu.

Saya memilih Firman Tuhan dari Kitab Ester (Ester 4: 16). Kitab Ester mercerita tentang peran Ratu Ester sang permaisuri Raja Ahasyweros, yang berjuang keras menyelamatkan umat Israel dari ancaman genosida yang dirancang oleh Haman.

Menghadap raja tanpa diundang sama dengan “bunuh diri” di zaman itu. Ternyata, Ester nekad menghadap raja tanpa diundang dengan prinsip: “.. kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (And if I perish I perish). Saya mengaplikasikan sikap Ester itu dengan sikap Bapak Sarundajang ketika ditugaskan presiden Megawati Soekarnoputri menjadi pelaksana tugas Gubernur di dua Maluku, yaitu Maluku Utara dan Maluku. Maluku Utara, April – November 2002 dan Maluku, Desember 2002 – September 2003 untuk menyelamatkan rakyat Maluku dari kehancuran akibat konflik etnik-politik yang melibatkan agama, yang memakan banyak korban.

Beliau bercerita kepada saya, bahwa beliau memutuskan untuk menerima amanat menjadi “juru damai” (peace maker) ke Maluku itu dengan prinsip “one way ticket”, (bukan tiket pergi pulang), yang senada dengan tekad Ratu Ester “kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati”.

Keluarga besar Sarundajang-Laoh Tambuwun. Perayaan Golden Wedding Anniversary yang digelar di Mayuree Grand Ballroom Hotel Dusit Thani, Makati City, Metro Manila, Filipina ini dihadiri tetamu yang datang baik dari Sulawesi Utara, Jakarta, beberapa kawasan di Indonesia serta para Diplomat yang ada di Manila. (Foto BeritaManado.com)
Keluarga besar Sarundajang-Laoh Tambuwun. Perayaan Golden Wedding Anniversary yang digelar di Mayuree Grand Ballroom Hotel Dusit Thani, Makati City, Metro Manila, Filipina ini dihadiri tetamu yang datang baik dari Sulawesi Utara, Jakarta, beberapa kawasan di Indonesia serta para Diplomat yang ada di Manila. (Foto BeritaManado.com)

Bagaikan Ratu Ester, yang setelah berhasil menyelamatkan bangsa Yahudi, Raja mengaruniakan kepadanya berbagai jabatan dan tanda kehormatan, demikian jugalah Doktor Sarundajang setelah sukses menciptakan perdamaian di dua Maluku, promosi demi promosi, prestasi demi prestasi digapainya, bahkan di akhir hidupnya, di usia 76 tahun, beliau masih bertugas sebagai seorang yang mulia Duta Besar Indonesia untuk Filipina Merangkap Kepulauan Marshall dan Palau. Yang pasti hidup Dr. S.H. Sarundayang sudah jadi berkat bagi bangsa, temasuk bagi gereja-gereja di Indonesia.

Mengakhiri obituari ini saya mengutip Firman Tuhan dari Wahyu 14: 13:

“Berbahagialah orang-orang yang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini”. “Sungguh,” kata Roh, “Supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” Amin.-

(rds)

Baca juga:

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara