
Manado, BeritaManado.com — Kondisi Pulau Likri yang terletak di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa sedang tidak baik-baik saja.
Sempat dibanggakan sebagai salah satu destinasi wisata favorit, namun kini kondisinya tidak layak lagi disebut sebagai destinasi wisata.
Informasi terkini tentang Pulau Likri didapat BeritaManado.com dari Tim Stand Up Paddle Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Dr Drevy Malalantang SSi SE MPd MM.
Drevy Malalantang yang juga merupakan Direktur Sekolah Tinggi Pariwisata (STIEPAR) Manado ini memang sering melakukan aktivitas di wilayah perairan Sulawesi Utara bersama tim SUP.
Tak jarang, tim ini juga mendatangan tamu, baik dalam maupun luar negeri untuk menikmati indahnya alam Sulut.
Tamu yang datang, selain sebagai penggiat SUP, sebagaian memang merupakan wisatawan yang ingin menikmati aktivitas perairan di Sulut.
Namun sangat disayangkan, begitu tiba di Pulau Likri terakhir pada Minggu (9/3/2025) pemandangan yang ada jauh dari kata terawat.
“Rumput sudah setinggi orang, toilet rusak, tidak ada air. Kondisi itu yang kami temukan di sana. Sangat disayangkan karena potensi wisatanya besar sekali,” ujar Drevy.
Selain itu, Drevy pun menemukan fakta yang harusnya jadi pengingat, di mana luasan Pulau Likri makin mengecil yang dicurigai akibat abrasi.
“Mari kita cari solusi sama-sama agar Pulau Likri ini dapat tetap terjaga, demi pariwisata kita, khususnya di Danau Tondano,” kata Drevy.
Kondisi ini sangat disayangkan mengingat, Pulau Likri masuk dalam proyek unggulan Kabupaten Minahasa.
Diketahui, Pulau Likri merupakan bagian dari destinasi wisata yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa Nomor 2 Tahun 2023.
Pulau Likri pernah dipaparkan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Lynda Wantania dalam ajang yang menjadi bagian dari Regional Investment Relation Unit (RIRU) Sulut, yaitu North Sulawesi Investment Challenge 2024 di Hotel Luwansa Manado, Kamis (18/7/2024).
Pada ajang itu, Minahasa bersaing dengan 2 kabupaten-kota lainnya yaitu Tomohon dan Bolaang Mongondouw.
Lynda saat itu mengungkapkan, proyek pengembangan Pulau Likri telah berjalan dengan total perkiraan biaya sekitar Rp33 miliar.
(srisurya)