Mengapa harus Gibran yang dijadikan tumbal?
Karena memang ini saatnya.
Pasti kalau Gibran bukan anak Presiden Joko Widodo dan dia Wali Kota Solo, serta direspon rakyat pasti tidak akan membawa pengaruh besar.
Karena kesempatan tidak datang dua kali.
Kalau sudah saatnya itu harus diambil.
Karena itu setelah Gibran, akan muncul Gibran-gibran baru.
Kedua, Gibran bagian dari Ambisi Politik?
Inilah tanggapan-tanggapan yang muncul saat ini.
Malahan ada yang mengatakan karena Jokowi tidak bisa 3 periode dijadikan calon presiden, maka Gibranlah yang dimajukan.
Semua tanggapan tersebut sah-sah saja karena memang lebih gampang menganalisa dan menjustifikasi ketimbang melihat hal-hal positif.
Ambisi boleh saja, tapi jangan ambisius.
Dan jika menyimak yang menjadi program unggulan Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Gibran Rakabuming Raka, melanjutkan program Jokowi, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang tidak ada di calon-calon lainnya.
Dan sudah menjadi rahasia umum, ketika terjadi pergantian kepemimpinan, pemimpin yang baru banyak yang tidak ingin melanjutkan pembangunan pemimpin sebelumnya.
Kalau pun dilakukan, itu bukan menjadi prioritas.
Ketiga, Gibran Strategi Politik?
Inilah yang mungkin menarik disimak.
Kalu Gibran menjadi strategi politik yang menang dalam kontestasi politik, maka kita harus angkat jempol kepada Prabowo Subianto yang mampu membaca ini.
Partai Gerindra rela mengorbankan PKB yang sudah sejak lama membangun koalisi.
