BeritaManado.com – Berita Terkini dari Manado

FINAL Press Release: Laporan Capaian Panitia Penyelenggara WOC 2009 dan CTI Summit serta Langkah Menuju ke COP-15 UNFCCC Kopenhagen

May 26
11:31 2009
World Ocean Conference dan Coral Triangle Initiative

World Ocean Conference dan Coral Triangle Initiative

Informasi terkini tentang strategi dan kebijakan Nasional sesudah World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) Summit digelar di Manado pada 11-15 Mei 2009 yang lalu

Jakarta (25/05) – Setelah melewati masa persiapan panjang dan penuntasan perhelatan bertaraf Internasional: WOC dan CTI Summit di Manado dua minggu yang lalu, panitia hari ini mengadakan rapat pleno untuk pelaporan capaian penyelenggaraan serta langkah-langkah berikutnya dalam rangka mengisi dimensi pesisir dan lautan pada pertemuan COP-15 UNFCCC di Kopenhagen, atas undangan Menteri Kelautan dan Perikanan Bp Freddy Numberi selaku ketua panitia pelaksana WOC – CTI Summit berdasarkan keputusan presiden tahun 2007 dan 2008 pada Senin/ 25 Mei 2009, mulai pukul 10:00 pagi sampai 12:00 siang dan akan dilanjutkan dengan diskusi serta penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba karya tulis WOC.

Seluruh panitia Nasional, mulai dari para ketua bidang, wakil ketua bidang, sekretaris dan anggota masing-masing bidang, diagendakan untuk memberi masukan dan melengkapi draft laporan panitia gabungan Nasional dan lokal, serta merancang langkah-langkah ke depan segera dalam tahun 2009 ini menjelang diadakannya COP-15, sesuai mandat yang disepakati oleh wakil-wakil delegasi pemerintah dan badan-badan internasional atas capaian Manado Ocean Declaration (MOD) dan CT-6 Leaders Declaration, dapat memasukan dimensi iklim dan lautan dalam pembahasannya,.

Freddy Numberi dalam pembukaan rapat menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran di bawah tanggung jawabnya dan mensyukuri kepada Tuhan YME atas kelancaran serta kesukseskan menjebolkan dua deklarasi penting yang mengisi komitmen politis kelautan dunia sejak temu terakhir di tahun 1982. Katanya, “Hasil MOD disambut baik oleh semua peserta dan diadopsi secara aklamasi sehingga selanjutnya dokumen MOD sudah menjadi milik semua Negara”. Sejak tahun 1982, saat negara-negara pengambil keputusan politik berkumpul menghasilkan United Nations Convention of Law at Sea (UNCLOS), tidak pernah terjadi lagi pertemuan politik lainnya yang membahas tentang kelautan dunia.

Ditambahkannya,”Setelah ke-enam Negara Coral Triangle bertemu dan bersepakat untuk melaksanakan Rencana Aksi Regional, sekarang kita perlu menindaklanjuti dengan implementasi Rencana Aksi Nasional dalam waktu dekat”. Untuk itu, pada rapat pleno hari ini, Menteri Kelautan dan Perikanan membuka diri untuk mengundang masukan terhadap upaya-upaya Indonesia ke depan.

Sementara itu, dalam laporannya, sekretaris panitia pelaksana, Indroyono Susilo, yang juga Sesmenko Kesra, memaparkan laporan dan rekomendasi langkah-langkah yang perlu segera dicermati. Menurutnya, “Kita perlu segera berkontribusi pada himbauan Menteri Kelautan dan Perikanan, karena waktu kita tidak banyak untuk mempersiapkan materi dan diplomasi guna bernegosiasi mengisi dimensi kelautan di Kopenhagen nanti. Betapa kita perlu mencari dukungan lebih besar lagi dengan bekal MOD ini”.

Indonesia memiliki sekitar 5,8 juta kilometer persegi wilayah kelautan. Saat diselenggarakan temu UNFCCC COP 13 tahun 2007 di Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan blueprint rencana aksi nasional perubahan iklim bahwa biodiversitas kelautan Indonesia dapat berfungsi sebagai penyerap karbon.

Catatan

· Keppres Kepanitiaan WOC dan CTI Summit serta tanggal dan tempat penyelenggaraan (lampiran)

· Catatan rencana aksi nasional: 61,000 kilometer persegi terumbu karang RI memiliki kapasitas untuk menyerap 73,5 juta CO2 per tahun. Sementara, 93,000 k,ilometer persegi wilayah hutan bakau dapat menyerap 75,4 juta ton CO2 setiap tahunnya.

· Pemanasan global memiliki potensi penyebab pengasaman lautan, peningkatan suhu dan permukaan laut yang bisa menenggelamkan seluruh negara kepulauan, seperti yang dikuatirkan oleh Kepulauan Maldives.

· Secara umum, warga dunia mengakui bahwa laut adalah masa depan dunia. Namun, faktanya, sumber daya laut telah mengalami kerusakan yang parah karena telah terjadi penurunan secara kualitatif dan kuatitatif seperti merosotnya luas terumbu karang dan hutan bakau, penangkapan ikan di luar batas yang merusak daya dukung laut, terjadi pencemaran laut yang berasal dari darat, dan kegiatan di atas laut yang semuanya merusak ekosistem pesisir dan lautan serta terjadinya pemanasan global dengan segala dampak negatifnya bagi kehidupan manusia.

· Apa yang terjadi bila pemanasan global berlanjut?, Bagaimana jika es di Kutub mencair?, Berapa ribu pulau kecil yang bakal tenggelam?, Bagaimana nasib masyarakat pesisir?, Bagaimana dengan nasib biota laut Dunia?, Apa langkah-langkah dunia untuk menghadapi petaka ini?, Pertanyaan-pertanyaan tadi harus dijawab dan langkah-langkah nyata perlu dilaksanakan.

· Dampaknya di Indonesia saja akan sangat signifikan. Apabila tidak ada langkah-langkah nyata, diprakirakan 2000 pulau kita bakalan tenggelam pada tahun 2030. Spesies biota laut Nusantara punah apabila pemanasan global terus berlanjut dan terumbu karang mengalami asidifikasi.

· Walaupun bencana sudah di depan mata, ternyata isu kelautan terhadap perubahan iklim global tidak nyaring terdengar. Laporan para ilmuwan dunia yang bergabung dalam Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC) tidak secara eksplisit membahas peran laut, sebagai wahana penyerapan karbon, misalnya.

· Pada Konperensi Internasional Perubahan Iklim, COP-13 UNFCCC, di Bali, Desember 2007 dan COP-14 UNFCCC di Polandia, Desember 2008 lalu, isu tentang laut sangat minim dibahas. Dari 800 sesi yang digelar pada COP-13 UNFCCC di Bali, , hanya ada satu isu laut, yaitu Coral Triangle Initative (CTI). Apabila ditanyakan kepada masyarakat Dunia, ”Mengapa isu tentang laut tidak muncul ?, ”Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di Dunia, yang harusnya mengusung isu itu”, demikian tanggapan para pemangku kepentingan laut Dunia. ”Bila Indonesia ambil inisiatif, kita akan dukung” serempak mereka berucap.

· Memang, sejak 5 tahun terakhir, Indonesia mulai tampil secara meyakinkan di forum-forum Dunia. Pertemuan Menteri-Menteri Kelautan APEC berlangsung sukses di Bali, September 2005, dan melahirkan The APEC Bali Plan of Action, yang merupakan dokumen kebijakan kelautan tingkat regional Asia Pasifik. Lalu, Indonesia dan Australia bersama-sama menggelar pertemuan Menteri-Menteri Perikanan Regional untuk melaksanakan Program

· Pemberantasan Pencurian ikan (IUU Fishing). Di tingkat semi-regional, berlangsung Arafura Sea and Timor Sea Expert Forum (ATSEF), Sulu – Sulawesi Marine Eco Region (SSME) dan pada Pertemuan Pemimpin APEC di Sydney Australia, September 2007 lalu, Presiden SBY mengusulkan Coral Triangle Initative (CTI), yang kemudian masuk kedalam APEC Sydney Declaration 2007.

· Pada 2007 lalu, Indonesia telah pula resmi menjadi anggota tetap Organisasi Perikanan Regional, seperti Indian Ocean Tuna Comission (IOTC) dan Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). Dalam waktu dekat, Indonesia segera menjadi anggota tetap Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC).

· Berbekal pengalaman menggalang kerjasama kelautan tingkat regional ini, Indonesia kemudian mengambil langkah strategis untuk menghimpun kekuatan kelautan Dunia, guna menetapkan langkah nyata mengantisipasi dampak perubahan iklim global terhadap laut. Gagasan World Ocean Conference kemudian digulirkan.

· Idea yang awalnya dilontarkan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo H.Sarundajang, pada 2006 lalu itu, segera ditanggapi oleh Pemerintah Pusat, yang kemudian menetapkannya sebagai program prioritas Pemerintah Indonesia. Melalui Keputusan Presiden RI No.23/2007, Keppres No.17/2008 dan Keppres No.30/2008, maka Panitia World Ocean Conference 2009 (WOC2009) dibentuk. Bertindak sebagai Ketua Pengarah adalah Menko Kesra, Ketua Pelaksana WOC2009 dijabat Menteri Kelautan dan Perikanan, Wakil Ketua adalah Gubernur Sulawesi Utara, sedang Sekretaris WOC2009 dijabat Sekretaris Menko Kesra dan Wakil Sekretaris WOC2009 adalah Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP.

· Ini merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk tampil prima sebagai salah satu negara unggulan di bidang kelautan Dunia. Rancangan Strategis segera disusun. Tema WOC2009 adalah Ocean & Climate Change, sedang topik WOC2009 adalah ”Ocean Impacts To Climate Change & The Role of Ocean To Climate Change”. 121 Negara yang memiliki laut telah diundang ke Manado pada 11-15 Mei 2009 yl. Manado Ocean Declaration telah disepakati pada WOC2009 yang lalu, yang segera ditindak-lanjuti dengan Rencana Aksi dan Implementasi Aksi.

· Perhatian masyarakat kelautan Dunia mengarah ke Indonesia. Badan-Badan Dunia segera mendukung inisiatif Indonesia ini. United Nations Environmental Program (UNEP) yang bermarkas di Nairobi, Kenya, segera menugasi perwakilannya di Bangkok untuk membantu Panitia WOC’09. Indonesia diundang untuk memaparkan rencana WOC’09 di 8th UNICPOLOS di Markas PBB New York pada 2007 lalu, dan pada Juni 2008. Indonesia juga diminta untuk memaparkan WOC’09 dihadapan pertemuan UNSPLOS-2008, juga di Markas PBB, New York, serta pada 41st Executive Council Meeting Inter-Governmental Oceanographic Commission (IOC)-UNESCO di Paris. Belum lagi dukungan dari organisasi organisasi regional seperti APEC, ATSEF, CT-6 serta dukungan Negara-negara mitra, seperti: AS, Australia, Jepang, China, Jerman, Perancis dan Canada.

· Akhirnya, pada Pertemuan Ke-63 Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), 17 Desember 2008 lalu, di New York, berhasil disepakati Resolusi Majelis Umum PBB, The Omnibus Resolution on Oceans and Law of The Seas, yang intinya menyambut baik dan

mendukung gagasan Indonesia untuk melaksanakan WOC2009 di Manado pada 11-15 Mei 2009 waktu yang lalu.

· Ini memang kerja besar. Kota Manado segera berbenah untuk WOC2009. Lima hotel berbintang yang dibangun telah siap pada Mei 2009 yl. Dengan keterbatasan yang dapat dimaklumi, sekitar 3000 kamar hotel berbintang tersedia saat pelaksanaan WOC2009. Bandara Sam Ratulangi dibenahi, garbarata ditambah, ruang VIP diperluas, Ruang Imigrasi tampil siap dan Apron Bandara diperlebar dan mampu menampung 20 pesawat VVIP.

· Jalan Boulevard dari Bandara Sam Ratulangi menuju Kota Manado dibuat empat Jalur. Disamping itu, pembangunan Grand Kawanua International Convention Center, berkapasitas 3000 orang, dikebut. Tidak tanggung-tanggung, pada 25 Desember 2008 lalu, pembangunan Convention Center ini ditinjau langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungan kerja ke Manado. Presiden juga menyempatkan untuk memimpin Rapat Kabinet Khusus membahas WOC2009 dan CTI Summit.

· Belum lagi, sarana pembangkit listrik tenaga panas bumi 3 X 20 Megawatt, sarana telekomunikasi dan transportasi, sarana internet tanpa kabel serta sarana wisata ke Taman laut Bunaken, harus segera selesai pembangunannya sebelum Mei 2009.

· Selain konperensinya sendiri, yang dihadiri sekitar 300-an delegasi dari 74 Negara dan 12 Badan-badan Internasional, telah disiapkan side events WOC2009, seperti International Symposium on Ocean Science, Technology & Policy, yang akan menggelar 33 sesi dan akan diikuti sekitar 1500 peserta dari seluruh Dunia, bertempat di Manado Convention Center. Kemudian diselenggarakan pula International Exhibition on Ocean Science, Technology and Industry, yang diisi sekitar 250 Stand Pameran kelautan dan perikanan. Juga berlangsung Pekan Budaya dan Pameran Pembangunan yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

· Lebih penting lagi, ada satu serial event WOC2009, berlangsung pada 15 Mei 2009, yaitu Coral Triangle Initative Summit (CTI Summit), yang merupakan pertemuan para kepala Negara CTI, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, PNG, Timor Leste dan Kepulauan Solomon, serta mitra CTI yaitu Perdana Menteri Australia dan Presiden Amerika Serikat.

· Saat CTI Summit ini maka implementasi program-program CTI di 6 negara, dalam rangka penyelamatan terumbu karang seluas 75.000 kilometer persegi dengan penyediaan dana internasional sebesar US$ 250 juta untuk keenam negara, telah dicanangkan pelaksanaanya oleh para Pimpinan 6 Negara tadi. Guna mensukseskan CTI Summit, maka pada 23 Desember 2008 lalu Presiden susilo Banbang Yudhoyono menandatangani Keppres khusus untuk pelaksanaan CTI Summit, yaitu Keppres No.30/ Th.2008, yang menyatakan bahwa CTI Summit adalah bagian dari rangkaian kegiatan WOC2009.

· Waktu bergerak cepat, persiapan WOC2009 yang telah memakan waktu dua tahun akhirnya dapat dilaksanakan secara lintas sektor. Dua produk nyata: MOD dan 6 Negara CT telah ditandatangani. Indonesia menerima mandat penting dan Indonesia terus meneguhkan dirinya untuk menjadi salah satu negara kelautan yang tangguh di Dunia.

 

 

 

 

Ads




0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

4 + eleven =