BeritaManado.com

Wajah Bandara Sam Ratulangi Siap Jadi Cermin Budaya Sulawesi Utara

November 29
10:02 2017

 

Bandara Internasional Sam Ratulangi

Bandara Internasional Sam Ratulangi

 

 

Manado — Jelang akhir tahun, Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado mulai berbenah, mulai dari infrastruktur hingga desain interior demi memberi kenyamanan kepada para pengguna jasa bandara sekaligus sebagai bagian dari peningkatan kualitas pelayanan pengelola bandara di bawah naungan PT Angkasa Pura I (Persero).

Pembenahan yang dilakukan tahap demi tahap ini, bukan hanya sekedar memperbaiki yang rusak atau menambah fasilitas baru, tapi juga memberi wajah baru pada Bandara Sam Ratulangi yang merupakan pintu masuk utama Sulawesi Utara lewat jalur transportasi udara.

Wajah baru yang dimaksud ialah, bandara hanya tak sekedar tempat penumpang naik dan turun pesawat, tapi juga menjadi ruang informasi tentang Sulawesi Utara khususnya soal kearifan budaya hingga apa yang ada di bandara dapat menjadi cermin budaya daerah Nyiur Melambai.

Hal tersebut disampaikan Shared Services Departement Head Bandara Sam Ratulangi, Ida Bagus Ketut Juliadnyana kepada BeritaManado.com, Selasa (28/11/2017) kemarin.

“Jadi ada beberapa hal yang sedang kita kerjakan di Bandara Sam Ratulangi, diantaranya desain bagian belakang tempat check ini yang akan kita coba bikin konsep batik Manado tapi yang di print. Jadi nanti pas check ini yang dilihat itu, selesai check in, begitu mau kelantai dua di ruang tunggu, kita sudah buatkan satu tempat seperti taman, ada lukisan gunung dan sawah, ada miniatur rumah panggung, sepeda ontel dan ornamen lainnya, jadi bisa foto disitu sebagai kenang-kenangan,” ujar Ida Bagus Ketut Juliadnyan.

Lanjutnya, kedepan, proses pembenahan hingga menjadi wajah baru Bandara Sam Ratulangi yang kental budayanya akan terus berlanjut, termasuk memperkaya visualisasi ruang tunggu bandara dengan banyaknya ornamen-ornamen khas Sulawesi Utara bahkan lukisan-lukisan karya seniman daerah hingga pemutaran instrumen-instrument musik tradisional Sulawesi Utara.

“Semua sedang diproses tahap demi tahap, karena kita mau yang ada disini merupakan yang terbaik, bukan hanya sekedar ada yang dipajang. Budaya selalu menjadi daya tarik yang turut menunjang pariwisata jadi kita pun harus memberi yang terbaik disini. Apalagi pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan promosi bidang pariwisata, jadi kami pun membantu pemerintah dengan menonjolkan budaya Sulut keseluruhan,” tambahnya.
(srisurya)

 

 

 

 

 

 

1 Comment

  1. Joni November 29, 17:02

    Ini sepertinya bakalan jadi ide yang buruk. Daripada uang dihamburkan untuk interior yang tidak jelas hasilnya, mendingan dananya dipakai untuk berbenah fasilitas yang masih minim dan amburadul. Misalnya pertama, toilet-toilet yang ada masih jauh dibawah standard internasional dari segi kebersihan dan kenyamanan.

    Area umum publik juga masih dipenuhi perokok yang sangat mengganggu secara umum. Kenapa tidak dibuatkan saja ruangan untuk merokok sehingga para perokok dengan asap rokoknya bisa membunuh satu sama lain dengan nyaman dan tidak mengganggu orang lain?

    Area pick-up untuk motor/mobil juga masih berantakan. Jalan yang sempit digunakan untuk area pick-up publik sedangkan jalan yang lebar di sebelahnya digunakan hanya untuk para pejabat (memalukan!) dan taxi. Minimal harus ada pelebaran jalan di area pick-up paling tidak ekstra 1-2 jalur sehingga kendaraan tidak harus menunggu 10-15 menit hanya untuk masuk dan keluar dari area pick up/parkiran. Jangan hanya ikut-ikutan yang ada di jakarta dengan fasilitas yang minim.

    Reply to this comment

Write a Comment