BeritaManado.com

OPINI: Tangan – Tangan Tersembunyi

June 28
23:38 2017

Oleh: Ferley Bonifasius Kaparang (Advokat di Sulawesi Utara)

Dunia mungkin tidak akan sesemarak sekarang, andaikan perbedaan pandangan tidak menjadi tradisi manusia. Mungkin karena tradisi manusia ini pulalah kaum filosof banyak yang mengkategorikan manusia sebagai mahkluk yang berwatak konflik. Mengutip istilah serta pemikiran Mohamad Sobary dalam bukunya Kebudayaan Rakyat (Dimensi Politik dan Agama-hal. 86), bahwa Kembalikan Agama pada Publik, Ahli agama dan tokoh yang punya otoritas tetap harus ada dan memang diperlukan, tetapi bebaskan rakyat dari intimidasi “salah” , “kafir” , “Yahudi”, dan aneka ancaman neraka yang mengerikan. Selebihnya, bebaskan juga agama dari beban-beban politik. Maka sangat menarik apabila pandangan serta pemikiran kita kali ini, kita utarakan sejenak untuk menengok dinamika hukum, sosial dan politik yang akhir-akhir ini mewarnai bangsa ini.

tidak bisa dipungkiri, kalau jalan menuju Roma, banyak. Ditinjau dari tuanya petuah ini, maka tak berlebihan pula jika ia dikategorikan sebagai sesuatu yang “akrab” dengan watak dasar manusia yang gemar menggunakan cara alternatif. Sebab, orang boleh puas karena bisa menuju Roma, tapi kepuasan itu tak akan bertahan lama kalau jalan yang menuju kesana hanya terhampar secara monoton. Itu-itu saja. Maka dengan beragam dan berbagai cara direnungkan oleh manusia, bagaimana caranya agar bisa “mendarat ke Roma lewat sejuta pintu.

Dalam kenyataannya, pepatah itu memang banyak dijadikan landasan bagi lahirnya beragam kehidupan. Disinilah kemudian orang sering bertengkar perkara “cara” atau metode yang akan digunakan, yang satu sisi sering dianggap perkara simple, namun disisi lain diakui kuat pengaruhnya secara esensial.

Dalam aspek hukum misalnya, perkara “jalan” menuju “keputusan” hukum seringkali dinilai sama “peliknya” dengan hakikat dari keputusan itu sendiri. Menurut kalangan yang beritikad baik terhadap hukum, pola ini dinilai bermanfaat bagi transparansinya kebenaran dan kekuatan hukum. Akan halnya orang yang otaknya memang sudah sarat dengan hasrat untuk mencari celah peluang untuk akal-akalan guna memainkan akal bulusnya, proses hukum dipandang sebagai tahap yang bisa dimanfaatkan untuk lolos dari jerat hukum itu sendiri.

Sebab, pada setiap tahap perkembangan/pentahapan hukum akan dimanfaatkan untuk kepentingan dirinya. Maka itu dalam dunia hukum bisa melihat beberapa model apresiasi masyarakat. Pertama, model masyarakat yang melihat hukum sebagai salah satu lembaga sosial yang bersifat mengayomi, mendidik dan melindungi masyarakat. Sementara yang kedua, adalah kalangan yang berpikir sebaliknya. Mereka yang melihat aspek hukum dengan hukum, pikirannya akan didominasi oleh nafsu “mengelabuinya”, agar “kejahatannya” tak dikendalikan oleh hukum. Pada kalangan yang pertama, unsur taat dan patuh sangat mendominasi kemauannya dalam berhubungan dengan hukum. Minimal, kaum ini akan melewati proses belajar sebagai bagian dari upayanya untuk memahami aturan main.

Lain halnya dengan kalangan kedua, kalaupun ia belajar hukum. Langkah ini lebih ditujukan dalam rangka mencari “kelemahan” yang kira-kira bisa dimanfaatkan. Maka dalam prosesnya kendati sama-sama belajar, kalangan yang seperti ini seringkali lebih kreatif. Walaupun langkahnya bermuatan destruktif merusak. Karena hasrat yang demikian inilah, mereka memiliki dan menyusun strategi dalam berhadapan dengan aspek hukum.

Di era 80’an – 90’an, kita pernah diramaikan dengan film-film laga seperti Agen James Bond 007, L.A. Law, The A Team, The Godfather dan sejenisnya, kita akan melihat bagaimana trik-trik kaum “pengacau” itu meluncur untuk mengelabui hukum. Bahkan tindakannya sudah tricking on the tric trik, dalam rangka mensiasati hukum. Dalam legenda Mafia, kita barangkali masih ingat bagaimana hal-hal tersebut dengan lihai dimainkan dalam beragam aspek oleh manusia model Al Capone, Pablo Escobar dan kawan-kawannya yang dijuluki the untouchable – yang tak tersentuh (hukum).

Berbeda dengan pengelabuan hukum tersebut, di ranah agama juga sering dijumpai dengan pemelintiran tafsir agama yang sejatinya merupakan “hak Tuhan”. Akhir-akhir ini dunia pemberitaan nasional diwarnai oleh isu-isu penistaan oleh segelintir “pemimpin” yang menampilkan kebesarannya dengan mengklaim memiliki berjuta-juta umat untuk menekan penguasa dengan tujuan tertentu yang mereka anggap “mulia”. Mereka menyambutnya dengan riuh dan sangat diagung-agungkan sehingga pemimpin tersebut dimata mereka selevel dengan Tuhan.

Biasanya, dalam masyarakat yang dinamis, dimana perkembangan dan kemajuan sedang dipacu untuk ditingkatkan, kalangan ini akan lebih jelih melihat “peluang”. Sebab, dalam masyarakat yang demikian, pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas dibanding perangkat-perangkat lunaknya, termasuk Hukum. Disini “Kaum penyimpang” selalu melihat kemungkinan untuk “berbuat” dengan leluasa.

Menarik untuk disimak korelasinya dengan berbagai peristiwa hukum di Indonesia saat ini, kita masih menyaksikan betapa ada saja, bagian dari hukum yang belum mengimbangi perkembangan masyarakat yang sejatinya memiliki perbedaan. Para godfather Indonesia yang begitu leluasanya mempengaruhi hukum secara gampang mengeksploitasi inefisiensi politik saat ini untuk mendapatkan keuntungan. Secara nyata yang saat ini sedang terjadi, di satu sisi mereka menampilkan suatu fakta ukuran yang benar menyangkut kontribusi mereka pada konteks pembangunan formal, namun disisi yang lain mereka menancapkan kuku-kuku kekuasaan dari segala aspek dalam mempengaruhi kemurnian hukum serta kesucian politik demokrasi dengan tatanan-tatanan yang sengaja mereka benturkan dengan tirai agama. Siapa yang jadi korban? Siapa yang dimanfaatkan? Di sisi inilah yang saat ini menjadi lampu sorot masyarakat luas yang saat ini terpecah belah akibat ulah mereka yang memanfaatkan kelompok-kelompok radikal dan membenturkannya dengan masyarakat. Entah mereka itu siapa, yang pasti para godfather saat ini sedang memainkan dadu perpecahan demi tujuan akhir mereka yaitu menguasai semua aspek yang dianggap “gendut” dengan jalur “kejahatan”.

Pada satu sisi hal seperti ini memang sulit dinafikan, tapi membiarkan hal ini begitu saja tentu kurang bijak. Maka sepatutnya dalam kondisi yang demikian ini, tingkat kewarasan kita dalam menyikapi setiap kejadian yang akhir-akhir ini secara beruntun terjadi sepatutnya dilipatgandakan. Karena jangan heran trick mereka untuk melancarkan kejahatan kerap kali dijalankan secara luwes dan unpredictable atau tak terduga.

Dan jangan tidak percaya, bahwa bukan mustahil kejahatan-kejahatan tersebut diawali dengan cara propaganda yang dikemas lewat opini dan pemberitaan, sehingga sangatlah mudah meyakinkan publik, hal ini tidak lain adalah pola terselubung dimana kebohongan yang diulang-ulang akhirnya juga akan menjadi “kebenaran” sehingga konflik horizontal yang di design oleh tangan-tangan tersembunyi yang memanfaatkan kondisi sosial, politik serta hukum di negeri kita saat ini dikhawatirkan akan meletup. tetap waspada. (***/risatsanger)

 

 

 

 

 

 

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment