BeritaManado.com

Jadi Pemateri di Konven Pelayan Khusus Wanita GMIM, Mayjen TNI Ganip Warsito Ingatkan Pentingnya Pancasila

August 13
21:25 2017

Mayjen TNI Ganip Warsito saat membawakan materi di Konven Pelayan Khusus Wanita se-Sinode GMIM di Kinamang

Mayjen TNI Ganip Warsito saat membawakan materi di Konven Pelayan Khusus Wanita se-Sinode GMIM di Kinamang

 

 
Manado, BeritaManado.com – Ada yang menarik dalam pelaksanaan Konven Pelayan Khusus Wanita se-sinode di GMIM Kinamang Kayuwatu Manado yang dilaksanakan pada Sabtu (12/8/2017) kemarin.

Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Ganip Warsito SE MM didaulat menjadi pemateri dihadapan sekitar 1500 orang peserta Konven Pelayan Khusus Wanita yang dengan seksama mendengar dan memperhatikan materi yang disampaikan.

Dalam materinya, Jenderal bintang dua TNI ini menjelaskan beberapa ancaman yang kini masuk ke Indonesia, tapi beberapa diantaranya tidak disadari oleh masyarakat, diantaranya media sosial dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Almarhum Prof Sayoga, tokoh sosiologi Indonesia, guru besar yang juga mantan rektor IPB pernah menyampaikan, Indonesia saat ini tengah dijajah oleh media sosial atau sering disingkat medsos.

Namun herannya, yang dijajah tidak merasa dijajah, bahkan rela mengeluarkan uang untuk penjajah.

“Fenomena ini bahkan sudah sampai ke rumah-rumah. Faktanya, sudah beberapa kali medsos mengguncang kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Hal ini tentu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Ganip Warsito.
Lanjutnya, banyak yang belum sadar kalau medsos selain memiliki manfaat yang begitu besar bagi manusia, jika tidak digunakan dengan baik atau hanya memanfaatkan sisi buruknya, dapat dijadikan wahana untuk memecah belah bangsa Indonesia.

“Melalui medsos, berbagai peristiwa dapat digiring menjadi isu sara. Dimana-mana-mana, penistaan agama adalah pelanggaran hukum. Tapi di Indonesia, melalui medsos, kasus pidana dapat digiring menjadi isu sara,” kata Ganip mengingatkan.
Ganip pun menjelaskan, jika mau menjadi bangsa pemenang dalam kompetisi global, maka warganya harus sadar, berbagai potensi ancaman yang saat ini membelit Indonesia, mulai aspek penduduk yang semakin banyak sedangkan sumber makanan semakin sedikit, energi, tanah, migrasi, terorisme dan radikalisme serta medsos, telah dan sedang terlibat dalam berbagai kejadian didalam negeri yang tentunya mengancam esksitensi NKRI.

“Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di daerah ekuator, memiliki garia pantai kedua terpanjang dan luas laut 5,8 juta km persegi yang artinya Indonesia kaya sumber daya alam, kaya energi dan kaya oangan sehingga apa ada yang tidak cemburu dengan Indonesia? Apa ada yang tidak mau memburu kekayaan yang dimiliki Indonesia?” kata Ganip.

Untuk menjaga NKRI dari segala ancaman, Ganip Warsito pun menegaskan pentingnya Pancasila sebagai dasar negara.

“Kita semua sepakat bahwa bila tidak ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu maka itu bukan Indonesia. Dasae negara kita sudah jelas, yakni Pancasila. Cara beragama sesuai dengan sila pertama. Cara berinteraksi dengan sesama manusia sesuai dengan sila kedua. Cara bernegara sesuai dengan sila ketiga. Cara berdemokrasi sesuai dengan sila keempat. Tujuan nasional kita sesuai dengan sila kelima,” jelasnya.

Meski demikian, Ganip mengingatkan, ancaman kelangsungan hidup bangsa Indonesia kedepan sudah semakin nyata.

“Hal ini tentunya memerlukan antisipasi sejak dini. Mari kita sama-sama mencegah hasutan, provokasi dan adu domba, menghilangkan sentimen sara,” kata Ganip.

Diakhir materinya, Ganip pun memberi semangat kepada para pelayan khusus wanita dengan mengambil contoh tiga wanita hebat dalam sejarah Indonesia, yaitu yang pertama RA Kartini yang adalah pelopor emansipasi wanita Indonesia, terkenal dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang yang oleh perjuangannya, para wanita dapat mengeyam pendidikan tinggi, yang kedua Cut Nyak Dien yang tanpa dirinya mungkin Teuku Umar dulu sudaj menyerah sebelum akhirnya bangkit semangatnya dan mengobarkan salah satu perlawanan paling hebat dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan Belanda, yang ketiga Maria Walanda Maramis yang adalah pahlawan nasional asli Minahasa, pejuang kemajuan dan emansipasi wanita di dunia politik dan pendidikan yang lewat artikelnya menunjukkan betapa pentingnya peran ibu dalam keluarga, bagaiamana ibu mengasuh dan menjaga kesehatan keluarga serta memberi pendidikan awal bagi anak, yang lewat kiprahnya lahirlah Organisasi Percintaan Ibu kepada Anak Temurunnya (Pikat).

“Ibu-ibu, jadilah seorang wanita hebat untuk bangsa yang anda kasihi. Dukunglah suami, tunjukkan bahwa dengam keikhlasan dan dukungan yang kuat maka kaum pria sanggup menghadapi kerasnya persaingan dalam kehidupan ini. Mari kita jadikan komisi pelayanan Wanita Kaum Ibu GMIM ini sebagai penjuru didalam ketaatan terhadap agama dan cinta terhadap tanah air, bersama-sama TNI dan komponen bangsa Indonesia lainnya, menjaga persatuan dan kesatuan NKRI,” tutupnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Sinode GMIM Pdt HWB Sumakul PHd, Ketua Panitia Konven Pelayan Khusus Wanita se-Sinode GMIM Serly Adelyn Somputan, Sintel Kasdam XIII/Mdk, Asops Kasdam XIII/Mdk, Aster Kasdam XIII/Mdk, Kapendam XIII/Mdk, Kabintaldam XIII/Mdk. (***/srisurya)

 

 

 

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment