BeritaManado.com

Jackson Kumaat : Tabea, Hotel Aston Manado!

February 23
22:03 2010

Tabea, Hotel Aston Manado!

MANADO – ”Tabea, Selamat pagi,” begitu sapaan pertama petugas security setiap kali masuk pintu Hotel Aston Manado. Mereka juga bersikap ramah, ketika memeriksa tas bawaan di dekat alat metal detector. Dan biasanya, sesampai di meja resepsionis, sapaan serupa kembali diucapkan. Saya sempat heran, apa maksud karyawan hotel menyampaikan salam khas Minahasa tersebut.

Di meja resepsionis, saya berjumpa dengan gadis Minahasa bernama Liane Lantang. Kemudian, karyawan Hotel Aston ini bercerita, bahwa ‘tabea’ merupakan sebuah ‘salam pembuka’ yang ditujukan ke para tamu hotel. Yang saya tahu, ‘Tabea’ adalah bahasa Totemboan, salah satu dari sekian bahasa daerah di Minahasa. Saat ini, salam hangat itu digunakan sebagai icon salam pembuka, bagi setiap tamu yang datang.

Saya kagum dengan icon salam pembuka ini. Mungkin, ini bisa menjadi brand positif, dalam upaya merangsang tingkat hunian hotel. Tapi bagi saya, mempopulerkan bahasa daerah, meski hanya satu kata, sudah merupakan upaya melestarikan nilai-nilai budaya luhur.

Sejalan dengan era otonomi daerah, Minahasa telah berkembang, dan terbagi dalam beberapa kabupaten, yakni Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Tenggara dan Minahasa Selatan. Saya jadi ingat sewaktu masih kecil dulu, warga kampung Tareran Minahasa Selatan saling menyapa dengan mengucap ‘Tabea’. Salam ini begitu akrab dengan di telinga, apalagi disampaikan dengan senyum ramah.

Jackson Kumaat

Penduduk Sulawesi Utara terdiri atas tiga kelompok etnis utama, masing-masing Suku Minahasa, Suku Sangihe dan Talaud, dan Suku Bolaang Mongondow, Masing-masing kelompok etnis terbagi pula subetnis yang memiliki bahasa, tradisi dan norma-norma kemasyarakatan yang khas. Inilah yang membuat bahasa di provinsi itu terbagi dalam Bahasa Minahasa (Toulour, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan dan Batik); Bahasa Sangihe Talaud (Sangie Besar, Siau, Talaud); dan Bahasa Bolaang Mongondow (Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang). Namun demikian, Bahasa Indonesia digunakan dan dimengerti dengan baik.

Ketika liburan Natal lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua di Desa Lansot Tareran Minahasa Selatan, ucapan salam serupa kembali terdengar. Inilah kebanggaan saya sebagai warga Sulut. Jika di Tanah Batak ada sapaan ‘Horas’, ternyata di daerah saya juga masih terpelihara sapaan ‘Tabea’.

Sambil menikmati sop buntut goreng di Cinammon Resto Aston, saya kembali disapa oleh seorang karyawan hotel. Namanya Priehadono Setiabudhi. Ia pun menyapa, ”Tabea, selamat pagi Bung Jacko” Jelas–A’a panggilan pria itu—bukan orang Minahasa. Tapi, ia menganggap sapaan itu memang cool untuk diucapkan, karena memiliki aura positif dalam berkomunikasi.

”Sop buntut gorengnya maknyos lho, tanpa MSG,” kata Assistant Food Beverage Manager itu, berpromosi. Lidah memang tak dapat berdusta. Cita rasa Indonesia memang kaya raya dan rasa. Ucapan salam pembuka yang selaras dengan hidangan Nusantara.

Penulis: Jackson Kumaat

9 Comments

  1. Louis Najoan October 02, 07:59

    “TABEA” Terima kasih Ulasan nya pak Jackson, entah kenapa saya terharu dan mengeluarkan airmata, serasa rindu kampung Tanah Minahasa yang sejuk akan kebersamaan, gotong royong, saling berbagi terutama soal makanan,… saya bangga masih ada yang terus melestarikan kehangatan budaya dalam sapaan Tabea. Terima Kasih Hotel Aston, di era saya yang moderen ini saya sadar kami mulai melupakan kehangatan daerah, tempat asal kita di besarkan. ini menjadi pelajaran bagi saya memelihara nilai-nilai budaya MInahasa di era saya.

    Reply to this comment
  2. Boèng Dotulong July 03, 21:52

    Tabèa,
    Senang membaca adanya satu perusahan(perhotelan) yg telah menggunakan bahasa Minahasa ini, sebagai kata-salam bagi tamu2. Tentunya antara karyawan sendiri “sedapat mungkin” menggunakan bahasa daerah Minahasa entah b To’ndano, To’ntèmboan, To’nsèa, To’mbulu, To’nsawang, dll. Maka bahasa tana’ Minahasa akan tidak terlupakan/terbengkalai.-

    Sighi’ (salam),

    Reply to this comment
  3. Giovanni May 05, 12:45

    Bahasa Daerah di Sulut harus dikembangkan kembali! Jangan sampe punah. Jangan beking kata2 Dr. Sam Ratulangie sia2 wktu dia katakan ‘Sulut takkan kehilangan budayanya”. Saya mohon Pak Gubernur SHS untuk memasukkan curriculum bahasa daerah disetiap Sekolah Negri TK-SMA diluar Manado dan saya minta Pdt. Piet M. Tampi sebagai ketua BPMS GMIM untuk membantu mengembangkan bahasa daerah. Contoh: 2x minggu sebulan Gereja2 GMIM di Woloan, Koha, Lolah, Sonder, Ratahan, Kiawa, Tompaso, Tara-Tara, dll menggunakkan bahasa daerahnya sendiri di ibadah gereja tersebut.

    Pakatuan wo Pakalawiren
    GODBLESS!

    Reply to this comment
  4. elton... April 30, 02:05

    syalom……………” Tabea ” saya menanggapi komentar dari bpk.rudi tarumingkeng.intinya waloupun tidak eksklusif tontemboan,tapi pada dasarnya kata ” Tabea ” berasal dari tanah Minahasa.Dan lebih hebat lagi hanya Aston Manado City Hotel satu2nya hotel di manado yg menggunakan kata tersebut.untuk itu kedepan kami berharap dalam kita akan melaksanakan pemilihan kepala2 daerah marilah kita bersama-sama mengsukseskan agar tercipta suasana damai di tanah Toar Lumimuut yg kita cintai ini………..

    Reply to this comment
  5. Apensia Piring February 27, 11:33

    “TABEA”
    Sapaan penuh kasih dan kekeluargaan dari Tanah Minahasa, untuk orang2 yang dihormati dan dikasihi, baik untuk orang yang telah dikenal atau untuk pertemuan/perjumpaan pertama dengan orang lain…
    “TABEA”
    IN NORTH SULAWESI (MANADO) U FEEL’S LIKE HOME, ^_^

    Reply to this comment
  6. redaksi Author February 26, 18:20

    Prof Rudy C Tarumingkeng , terima kasih atas pencerahannya :) sering-sering prof, memberikan masukan. ditunggu artikel untuk dimuat di beritamanado :)

    Reply to this comment
  7. Jacklin Oley February 25, 12:55

    “Tabea” Bapak Jackson….
    Salam Hangat dari Aston Manado City Hotel.
    Saya berterima kasih sekali Pak, karena salam “Tabea” yang kami “Aston Hotel Manado” gunakan selama ini menjadi inspirasi bagi bapak.
    Article bapak membuat saya kagum dan bangga sebagai PR Hotel.
    Regards,
    Jacklin.

    Reply to this comment
  8. Rudy C Tarumingkeng February 25, 11:39

    Tabea sekatuari waya,

    Sepanjang pengamatan saya, tabea berakar dari kata “tabik” (bahasa melayu yang berarti “greetings” atau salam, syalom etc.

    Semasa kecil, saya tinggal di Kakas (berbahasa rumpun Toulour) — di sana “tabea” juga digunakan. Demikian pula di Airmadidi (Tonsea). Bahkan di pulau Biak (Papua), saya mendengar orang-orang tua saling menyapa dengan “tabea” (saya pernah bekerja agak lama di Papua).

    Jadi “tabea” tidak eksklusif Tontemboan.

    Reply to this comment
  9. Relly Turangan February 25, 05:14

    ”TABEA” Mr. Jacko, ulasan yang sangat menarik, singkat tapi sangat padat akan arti dan makna, sehingga saya yakin pembaca tidak akan menangkap adanya nuansa politik kampanye dan promosi hotelnya, sebagai warga asli minahasa dan karyawan hotel Aston, saya sangat bangga akan pelestarian kata Tabea, yang dipakai oleh salah satu industri keparawisataan, saya mempunyai angan-angan bahwa alangkah lebih terpeliharanya bahasa daerah kita, apabila semua lini kepariwisataan, mulai dari airport, hotel bintang lima sampai melati, menggunakan salam TABEA, untuk menyambut setiap tamu yang datang disulut, dan mungkin hal ini bisa menjadi salah satu agenda bagi siapapun yang akan menjadi pemimpin daerah Sulut, yang kita cintai ini. ”TABEA”

    Reply to this comment

Write a Comment