Ditulis oleh redaksi
Berita Utama, Tokoh Sulut
Aug 28, 2010

Kader PDI-Perjuangan, Benny Ramdhani (Foto BM)
MANADO – Anggota DPRD Sulut, Benny Ramdhani diisukan segera di PAW oleh PDI-Perjuangan dalam status sebagai legislator Deprov. Brani sebutan akrab Benny Ramdhani membidik Partai Gerindra sebagai pelabuhan politiknya.
“Saya siap keluar jika tidak lagi dibutuhkan PDI-Perjuangan. Saya simpati dengan partai ini karena ketokohan Prabowo Subiyanto yang kelak akan menjadi Presiden,” ujar Ramdhani kepada beritamanado, Sabtu (28/08) pagi.
Namun Brani menyangkal jika dirinya akan mengundurkan diri dari PDI-Perjuangan. “Sampai saat ini saya masih kader PDI-Perjuangan. Saya sangat mencintai partai ini,” pungkasnya. (JRY)
Ditulis oleh redaksi
Tokoh Sulut
Aug 24, 2010
SEJARAH - Salah satu tokoh etnis Tionghoa yang berjasa kepada Republik ini adalah Mayor John Lie Tjeng Tjoan. Lahir di Menado 19 Maret 1911 dari ayah bernama Lie Kae Tae dan ibu bernama Maryam Oei Tjeng Nie(keduanya penganut Budha). John Lie meninggal karena stroke 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,Jakarta.
Mendapat Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden Soekarno tahun 1961
Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 November 1995

Ia adalah mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM yang lalu bergabung dengan Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap dengan pangkat kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan sekutu. Atas jasanya pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor.
Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas Negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan. Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blockade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda. Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda, juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan.
Untuk keperluan operasi ini, mayor John Lie memiliki kapal kecil cepat, dinamakan the outlaw.
Seperti yang dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar(1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi “penyelundupan”. Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor ke Sumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dan penembak,seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap tampaknya berasal dari Maluku mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah menembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga buru-buru pergi. Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata dan keperluan lain perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menikah di Usia 45 tahun dengan Margaretha Dharma Angkauw thn 1956. Perkawinan ini tidak dikaruniai anak.

Mayor John Lie bersama keluarga di GBIP Imanuel

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS di Maluku, lalu PPRI/Permesta. John Lie juga di kenal dengan nama Jahya Daniel Dharma tetap berdinas di Angkatan Laut, terakhir berpangkat Laksamana Muda.
Ditulis oleh redaksi
Berita Utama, Tokoh Sulut
Aug 24, 2010

Laksamana Muda John Lie bersama Istri
MANADO – Pahlawan Nasional asal Sulawesi Utara bertambah lagi, sebelumnya DR Sam Ratulangi, Wolter Monginsidi dan Maria Walanda Maramis, kali ini Laksamana Muda (Laksda) Jahja Daniel Dharma alias John Lie resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Pusat.
Senin (23/08), DR Eddy Kusuma dari LPK Kebangsaan Indonesia Bersatu menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemprov Sulut yang diterima Plt Sekprov, Ir Rahmat Mokondongan.
Penyerahan penghargaan turut disaksikan dua keponakan John Lie yaitu, Rosa dan Lisa Lie.
Usai menerima penghargaan, Mokodongan mengatakan, gelar kepahlawanan terhadap John Lie menjadi kebanggaan masyarakat Sulut. “Jasa kepahlawanan John Lie akan terus berkobar, ia akan terus dikenang sampai kapanpun,” ujar Mokodongan. (JRY)
Ditulis oleh redaksi
Berita Utama, Tokoh Sulut
Jul 15, 2010

Ketua Umum USA Kawanua, Emile Mailangkay dan Istri Nelly Pangemanan bersama Beritamanado (Foto Beritamanado)
MANADO - Pekan lalu beritamanado bersua dengan Ketua Umum Kawanua USA, Emile D Mailangkay di Hotel Swissbell Maleosan, Jalan Sudirman Manado.
Dalam pertemuan itu Emile menjelaskan secara panjang lebar tentang keberadaan warga Kawanua di Amerika Serikat yang tersebar dibeberapa kota besar seperti New Jersey, Los Angeles, Boston, Philadelfia, Washington DC dan beberapa kota besar lainnya.
“Kalau saya tinggal di Amerika sejak tahun 1978 dan sudah mendapatkan kewarganegaraan disana,” ujar suami tercinta dari Nelly Pangemanan ini.
Menurutnya, perkumpulan Kawanua USA berdiri tahun 1999 dengan anggota ribuan warga Kawanua di Amerika Serikat dan setiap tahun menggelar kegiatan besar termasuk promosi pariwisata Sulawesi Utara.
“Yang kami lakukan kegiatan promosi pariwisata dan perdagangan, beberapa pejabat Indonesia yang pernah hadir pada pertemuan tersebut seperti, Mantan Menteri Dorodjatun yang juga penasehat Kawanua USA, termasuk 4 Dubes lainnya dan mantan gubernur Almarhum AJ Sondakh beserta beberapa pejabat pemda juga pernah hadir di acara kami” tutur Emile yang datang ke Manado untuk menghadiri Festival Pinabetengan yang difasilitasi budayawan Benny Mamoto.
Emile berkisah, malam kesenian dan perdagangan yang dilaksanakan tahun 2003 di New Jersey, dihadiri 3000 warga Kawanua di Amerika Serikat. (JRY)
Ditulis oleh redaksi
Berita Utama, Politik dan Pemerintahan, Tokoh Sulut
Jul 14, 2010

Mayjen (Purn) Ferry Tinggogoy bersama Wartawan (Foto Beritamanado)
MANADO – Berbagai slogan diusung kandidat calon kepala daerah. Saat kempanye mengumbar banyak janji, tetapi setelah terpilih mengingkari janji-janji itu. Mengingkari janji berarti menghianati amanat rakyat.
Demikian kesimpulan percakapan sejumlah wartawan dengan anggota DPD MPR-RI, Mayjen (Purn) Ferry Tinggogoy di Restoran Oikano, Kawasan Bahu Mall, Manado, akhir pekan lalu.
Tinggogoy membandingkan, diluar negeri banyak yang tidak mau menjadi walikota atau gubernur dengan alasan tanggung-jawab yang berat. “Tapi kalau di negara kita semua ingin jadi walikota,” tuturnya.
Peringkat kedua Pilkada Sulut 2005 ini yang hanya kalah dari SH Sarundajang, juga menyoroti slogan-slogan dari kandidat calon, bahkan beberapa calon kepala daerah hanya mengutamakan pencitraan publik dibandingkan kinerja dan track record .
“”Masyarakat harus jeli, jangan hanya memilih berdasarkan pencitraan, tetapi harus dilihat kompetensi dan kapasitas calon bersangkutan, pilihlah calon yang memiliki visi jelas bukan karena uang,” tegasnya.
Tinggogoy memperingatkan siapa saja yang terpilih nanti wajib menjalankan amanat rakyat. “Janji-janji untuk mensejahterakan rakyat harus dilaksanakan, jika mengingkari janji berarti menghianati amanat rakyat,” tutur Tinggogoy.
Akhirnya Tinggogoy berpesan, seorang pemimpin harus mampu mensejahterakan rakyat melalui pendidikan yang bermutu, kesehatan yang layak, lapangan kerja dan pembangunan infrastruktur yang memadai. (JRY)
Ditulis oleh redaksi
Tokoh Sulut
Jul 12, 2010
JAKARTA - Mantan Kepala Staff TNI Angkatan Laut, Laksamana (Purn) Rudolf Kasenda, meninggal dunia, Minggu (11/07), sekitar pukul 08.00 WITA, di RS Harapan Kita Jakarta.
Almarhum meninggal dunia akibat penyakit jantung yang telah lama diderita dan jenasahnya disemayamkan di Kompleks Angkatan laut, Pangkalan Jati, Jakarta Selatan.
Semasa hidup Almarhum Laksamana Rudolf Kasenda yang dilahirkan di Tanah Toraja Sulawesi Selatan, pada 15 Mei 1934 juga pernah menjabat Dubes RI untuk Korea Selatan tahun 1990-1993.
Ditulis oleh redaksi
Berita Utama, Tokoh Sulut
Jul 6, 2010

Anggota Dekot Manado, Revani Parasan SH (Foto Beritamanado)
MANADO - Sukacita besar dirasakan Anggota DPRD Manado Revani Parasan SH. Tanggal 25 Juni 2010 lalu, suami tercinta dari Vivi Timporok ini genap berusia 40 tahun.
“Sebenarnya harinya sudah lewat, 25 juni lalu, juga sudah dirayakan bersama masyarakat, namun teman-teman anggota dewan ingin merayakan bersama sebagai bentuk kebersamaan,” ujar ayah tercinta dari Meylan, Andini dan Jessica, kepada beritamanado, Selasa (06/07) siang.
Revani kemudian mengundang rekan-rekan sekerjanya bersama staff Dekot Manado dan wartawan menuju kediamannya di Kelurahan Ranotana Weru, Lingkungan VII, dekat GMIM Kanaan untuk makan siang bersama.
“Baru pertama kali saya datang disini, ternyata tempatnya bagus dan nyaman, selamat ulang tahun, semoga perayaan yang sederhana ini dapat memberikan motivasi kepada Bung Revani untuk terus berkarya bagi keluarga dan masyarakat,” tukas Wakil Ketua Dekot Manado, James Karinda mewakili semua yang hadir. (JRY)
Ditulis oleh redaksi
Kota Manado, Tokoh Sulut
Jun 27, 2010

SVR Nonton Bareng di Paal Dua
Manado - Calon Gubernur Sulut, Stefanus Vreeke Runtu, Sabtu (26/06) malam memenuhi undangan warga di Paal Dua dan Perkamil untuk nonton bareng.

SVR Nonton Bareng di Perkamil
Tak ingin kecewakan warga, SVR bersama rombongan sekitar pukul 21.30 WITA mengunjungi dua lokasi sekaligus, Kelurahan Paal Dua dan Perkamil.
Warga yang ditemui beritamanado menyatakan apresiasinya terhadap SVR ditengah jadwal yang padat mau bersama warga dikedua lokasi untuk ikut nonton bareng.
Ditulis oleh redaksi
Berita Utama, Tokoh Sulut
Jun 25, 2010

Wanita Kawanua USA, Ketua Rina Langgar Sumual dan Kawanua USA, Ketua Emile Mailangkay
Los Angeles – Bagi Wanita Kawanua USA dan organisasi induk Kawanua USA, hari Sabtu 12 Juni 2010 merupakan hari yang tidak mudah terlupakan.
Kegembiraan dan kebahagiaan terpancar di wajah setiap orang kawanua yang hadir saat mereka menggelar acara malam perpisahan dengan Konsul Jenderal RI di Los Angeles Subijaksono Sujono dan keluarga yang dalam waktu dekat akan kembali ke Indonesia.
Sebelum makan malam, Carla Taroreh telah memanjatkan doa makan sekaligus doa untuk kelancaran acara. Makan malam bersama dilanjutkan dengan sambutan Ketua Wanita Kawanua USA Rina Langgar Sumual dan sambutan Ketua Umum Kawanua USA Emile Mailangkay. Malam perpisahan yang dilangsungkan di lantai 5 gedung KJRI Los Angeles tersebut dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata oleh Pengurus Wanita Kawanua USA kepada Pak Soni dan Ibu, yang masing-masing diserahkan oleh Grace Manampiring dan Ingrid Rombot.
Acara yang dikoordinir oleh Treesye Lumanauw dan dipandu dengan cermat oleh pembawa acara Irene Pascoal dilanjutkan dengan sambutan Konjen yang menyampaikan terima kasih atas kerjasama serta bantuan yang sudah diberikan oleh warga kawanua kepada KJRI dalam misi KJRI membina masyarakat Indonesia di Los Angeles. Didampingi istri dan ketiga putra-putri, Konjen kemudian menyerahkan Piagam Penghargaan kepada Kawanua USA yang diterima oleh Ketua Umum Kawanua USA.
Pada malam yang diselubung sukacita dan persaudaraan ini, kelompok tari Wanita Kawanua USA telah mempertunjukkan kebolehan mereka menari tarian
Waltz Line Dance diiringi lagu Luri Wisako. dan kemudian Tari Chaka-Chaka yang mendapat sambutan hangat hadirin. Tari Lenso yang menggambarkan tradisi
pertemuan jodoh muda-mudi Minahasa digelar malam itu oleh para penari Felix Singal, Yvonne Sembel dan Els Lihiang.
Acara hiburan lagu-lagu tidak kekurangan akan penyanyi-penyanyi andalan. Diawali dengan Pak Soni yang dikenal memiliki suara merdu menawan bernyanyi
duet dengan penyanyi kondang Jean Jacob, disusul lagu solo favorit Pak Soni Keroncong Tanah Airku yang diiringinya sendiri dengan keyboard.
Konsul Pensosbud Agusti Anwar yang juga hampir selesai bertugas di Los Angeles dengan suaranya yang empuk melayangkan lagu kesayangnnya Berita dari Kawan karangan Ebiet G Ade. Tidak ketinggalan Kepala ITPC Pak Zulfikar yang mengaku ‘kurang PD’ meminta bantuan Jean Jacob menyanyi bersama lagu Ambon Waktu Beta Kacili. Pak Kristianto yang meminta bantuan Ibu Magdalena Tompodung berduet dalam sebuah lagu pilihan. Emile Mailangkay malam tersebut tidak terkecuali didaulat menyanyi trio bersama Jean dan Ibu Magdalena dalam satu-satunya lagu Manado yang ia tahu nyanyikan So Dari Dulu.
Malam yang gembira tersebut tidak kekurangan penyanyi-penyanyi amatir lainnya, antara lain Carla Taroreh, Jeffry Paulus yang berduet dengan Cathy Londa. Ia kemudian juga berduet dengan keponakannya Sophia Paulus dalam lagu beken Andrea Bocelli, The Prayer, penyanyi contry Rocky Lumanauw malam itu membawakan lagu To Love Somebody dengan gaya suara Nashville.
Trio The Laes yang hadir atas undangan mempersembahkan sebuah lagu Batak yang indah disusul dengan lagu Cotton Field yang mengundang hadirin secara spontan turun menyapu lantai.
Dengan iringan suara tajam dua bersaudara Johnny dan Bemmy Piring, keyboard Sem Tielman melanjutkan keramaian dengan lagu Poco-Poco dan beberapa lagu yang pas untuk berchacha dan berjoget.
Tidak terasa di tengah-tengah kehangatan suasana malam yang penuh kenangan, yang dihadiri oleh hampir seluruh staf KJRI Los Angeles, Kepala ITPC dan Kepala IIPC Heldy Putera, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam dan para bapak Kawanua USA menutup acara dengan bersama menyanyi lagu Esa Mokan dan Mangemo Sako Mangemo. (IJ)
Ditulis oleh redaksi
Tokoh Sulut
Jun 7, 2010

Anggota Dekot Manado, Cicilia Longdong (Foto Beritamanado)
MANADO – Kebahagiaan terpancar dari sosok Srikandi Legislator Tikala, Cicilia Longdong. Ternyata hari ini, Senin (07/06), wakil rakyat Dapil Singkil-Mapanget ini resmi menginjak usia 24 tahun.
Cici panggilan akrab Cicilia berencana akan menggelar acara syukur secara sederhana dirumahnya, di Kelurahan Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget.
“Tidak ada perayaan besar-besaran, saya patut bersyukur atas berkat nafas kehidupan dan umur panjang dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar wanita cantik yang masih lajang ini.
Diusia yang masih relatif muda, Cici berjanji tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan rakyat dan akan terus menyuarakan aspirasi demi kesejahteraan masyarakat. “Duduk sebagai anggota legislatif merupakan amanat yang harus dipertanggung-jawabkan kembali kepada rakyat,” pungkas Cici. (JRY)