<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Manado - Berita Terkini Manado Sulut, Berita Manado Cepat &#38; Akurat &#187; Kolom</title>
	<atom:link href="http://beritamanado.com/category/kolom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://beritamanado.com</link>
	<description>berita manado sulut manado minahasa bolmong sangihe talaud sitaro</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 03:29:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Kolom : Manado 2010</title>
		<link>http://beritamanado.com/2010/01/11/kolom-manado-2010/</link>
		<comments>http://beritamanado.com/2010/01/11/kolom-manado-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 00:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Manado]]></category>
		<category><![CDATA[manado]]></category>
		<category><![CDATA[Stefan Obadja Voges]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritamanado.com/?p=5510</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki tahun 2010 Kota Manado mempunyai PR yang tidak sedikit di Bidang Kepariwistaan. Visi Pemkot &#8220;Manado Kota Pariwisata Dunia 2010&#8243;, masih jauh dari kenyataan. Pemkot Manado sesungguhnya telah terbantukan dengan gebrakan Pemprov Sulut yang telah menanamkan Benih Pariwisata Dunia dengan suksesnya penyelenggaraan iven-iven Skala Internasional di Manado. (WOC, CTI Summit dll.) Namun sayangnya laju gerak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5511" class="wp-caption alignleft" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-5511" title="Stefan Obadja Voges" src="http://beritamanado.com/wp-content/uploads/2010/01/Stefan-Obadja-Voges.jpg" alt="Stefan Obadja Voges" width="480" height="261" /><p class="wp-caption-text">Stefan Obadja Voges</p></div>
<p>Memasuki tahun 2010 Kota Manado mempunyai PR yang tidak sedikit di Bidang Kepariwistaan. Visi Pemkot &#8220;Manado Kota Pariwisata Dunia 2010&#8243;, masih jauh dari kenyataan. Pemkot Manado sesungguhnya telah terbantukan dengan gebrakan Pemprov Sulut yang telah menanamkan Benih Pariwisata Dunia dengan suksesnya penyelenggaraan iven-iven Skala Internasional di Manado. (WOC, CTI Summit dll.)</p>
<p>Namun sayangnya laju gerak sepak terjang Pemprov Sulut tidak diimbangi oleh Pemkot Manado, sehingga saat ini apa yang kita lihat dari kota Manado, masih sangat sulit untuk dikatakan sebagai salah satu Kota Pariwisata Dunia. Masih banyak aspek yang menjadi kelemahan kota Manado bila ingin mengkategorikan dirinya sebagai Kota Pariwisata Dunia.</p>
<p>Belum terintegrasinya pembangunan kepariwisataan di daerah ini merupakan salah satu faktor penting yang telah terabaikan. Masing-masing Kabupaten-Kota terkesan membangun bidang pariwisata dengan konsep sendiri-sendiri. Belum terlihat suatu Grand Concept of North Sulawesi Tourism Development Program yang di terapkan dalam pembangunan kepariwisataan Sulut. Semua daerah terkesan membangun dengan gayanya sendiri-sendiri dan melakukan promosi secara sendiri-sendiri pula.</p>
<p>Memang upaya ini harus kita hargai, namun dengan tidak memiliki perencanaan yang matang baik secara jangka pendek, menengah dan panjang, maka pembangunan kepariwisataan Sulut akan menjadi tidak terarah dan tidak bertahan lama.</p>
<p>Apalagi Manado sebagai Pintu Gerbang Utara juga belum berbenah diri. Kemacetan lalu lintas, banjir, krisis air bersih, krisis listrik, belum adanya tourism information centre, Rumah Sakit skala Internasional, sanitasi resto dan profesionalisme para pelaku pariwisata yang masih kurang masih menjadi pemandangan umum saat ini.</p>
<p>Bagaimana kita berani menyambut Serbuan Turis Mancanegara dengan kenyataan Kota Manado yang masih belum memenuhi standar &#8220;minimal&#8221; sebagai sebuah kota pariwisata dunia? Masyarakat tidak lagi bodoh, Pemkot Manado harus mampu menunjukkan hasil upaya dan kerja keras mereka dibidang Pariwisata bukan hanya melalui indikator kuantitas kunjungan turis! Tapi apa yang bisa didapatkan dan dinikmati oleh masyarakat Manado itu sendiri dari pembangunan kepariwisataan yang berdampak langsung bagi masyarakat.</p>
<p>Segala macam promosi dan publikasi serta kunjungan-kunjungan keluar negeri sudah menjadi lagu lama, yang malah terkesan sebagai ajang jalan-jalan tanpa ada hasil yang jelas!</p>
<p>Saat ini masyarakat Manado menginginkan bukti, bahwa ternyata Manado memang sudah menjadi Kota Pariwisata Dunia minimal dengan kenyamanan berlalu lintas, mudahnya mencari informasi (papan-papan petunjuk yang jelas), bersihnya WC-WC umum di Resto-Resto, pelayanan waitress yang sopan, ramah dan berkualitas, angkutan-angkutan umum yang bersih dan taat berlalu lintas, Rumah Sakit yang bersih dan nyaman, taman kota yang asri dan terawat dan yang terpenting adalah terjaga dan terawatnya lokasi-lokasi Wisata Kota yang semua itu bukan hanya akan dinikmati oleh para Turis, tetapi juga oleh masyarakat tuan rumah sendiri.</p>
<p>Semoga memasuki tahun 2010 ini ada sebuah Grand Concept yang akan disiapkan oleh Pemkot dalam menyongsong pergantian Kepala Daerah yang pastinya nanti memiliki Visi yang berbeda pula.</p>
<p>Maju Manado, Viva Manado!</p>
<p>Penulis:<br />
<strong>Stefan Obadja Voges</strong><br />
Nyong Manado 1996.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritamanado.com/2010/01/11/kolom-manado-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng Untuk Rakyat Mitra</title>
		<link>http://beritamanado.com/2009/07/15/dongeng-untuk-rakyat-mitra/</link>
		<comments>http://beritamanado.com/2009/07/15/dongeng-untuk-rakyat-mitra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 03:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[kura-kura]]></category>
		<category><![CDATA[lakban]]></category>
		<category><![CDATA[mitra]]></category>
		<category><![CDATA[ratatotok]]></category>
		<category><![CDATA[tombatu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritamanado.com/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seekor kura-kura yang berkawan karib dengan dua ekor burung bangau.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1449" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-1449" title="john damongilala" src="http://beritamanado.com/wp-content/uploads/2009/07/john-damongilala.jpg" alt="john damongilala" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">john damongilala</p></div>
<p>Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seekor kura-kura yang berkawan karib dengan dua ekor burung bangau. Mereka bertiga hidup berdampingan secara damai di sepetak huma persawahan di kawasan Minahasa Tenggara. Namun di siang hari kura-kura sering kesepian ditinggal terbang kedua sahabatnya itu dan malam harinya kura-kura mendengar kisah-kisah menarik tentang keindahan tempat-tempat yang dikunjungi kedua kawannya. Ada pantai Lakban yang indah di Ratatotok, ada danau Bulilin di Tombatu dengan mujairnya yang gurih, ada kawasan Banga-Lowatag dengan potensi hortikultura yang permai di Touluaan, ada pula buah salak yang ranum legit di Pangu Ratahan.</p>
<p>Dalam angan sang kura-kura terbersit keinginan kuat untuk bisa terbang, melihat langsung panorama kawasan yang didengarnya. Di satu pagi cerah muncul gagasan cemerlang di benak sang kura-kura. Ide tersebut diutarakan kepada dua bangau sahabatnya. Ketiganya bersorak karena kini kura-kura dapat terbang bersama. Sepotong dahan kering digigit bagian tengahnya oleh si kura-kura, sementara kedua bangau mematuk dua sisi ujung potongan dahan. Dan… si kura-kurapun dibawa terbang, tinggi. Luar biasa, ketiganya bersukaria. Ternyata gagasan yang diwujud-nyatakan sungguh luar biasa. Kura-kura yang habitatnya hanya di persawahan dan perairan, kini bisa terbang.</p>
<p>Ketika melintasi kawasan pertanian, ketiga sobat karib ini mendengar celotehan beberapa petani, katanya : “Wah… betapa cemerlangnya gagasan kedua bangau itu”. Yang lain berujar : “Oh…luar biasa kreatif kedua bangau itu”. Mereka bertepuk tangan dan memuji gagasan kreatif kedua unggas itu. Beberapa ekor ular yang bersembunyi di semak belukar hanya mencibir sambil mengamati fenomena menarik itu.</p>
<p>Mendengar tuturan petani, si kura-kura merasa tersinggung dan sakit hati. “Ini ide saya, ini murni gagasanku..” katanya dalam hati. Tak puas cuma bicara dalam hati, si kura-kura serta-merta bicara langsung…&#8230; astaga, dia membuka mulutnya, kedua sahabatnya terperangah. Para petani berseru, “Kura-kura, jangan ambil keputusan keliru, tutup mulutmu”. Sang kura-kura tak mampu menahan gejolak hatinya. Harga diri dan keangkuhannya mengalahkan gagasan yang cemerlang. Bumi menariknya, terhempas. Hancur lebur. Para petani yang awalnya bersorak-riang, diam terpaku. Lalu muncul suara-suara sumbang, “Betapa tololnya si kura-kura, sudah dibawa terbang tapi melepaskan kesempatannya menikmati pemandangan indah. Dasar kura-kura, tempatnya memang di sawah bukan di angkasa”. Tamat.</p>
<p>Gagasan cemerlang tidak selamanya cemerlang dalam aplikasinya. Ide brilian yang salah tempat dan salah waktu justru bisa berubah menjadi bumerang. Jangan paksakan gagasan jika tujuannya cuma untuk cari nama.</p>
<p>Inspirasi di Banga, Touluaan, Mitra<br />
12 Juli 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritamanado.com/2009/07/15/dongeng-untuk-rakyat-mitra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Untuk Publik</title>
		<link>http://beritamanado.com/2009/07/14/seni-untuk-publik/</link>
		<comments>http://beritamanado.com/2009/07/14/seni-untuk-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 02:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal sastra manado]]></category>
		<category><![CDATA[manado]]></category>
		<category><![CDATA[Mawale Cultural Center]]></category>
		<category><![CDATA[neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[sulut]]></category>
		<category><![CDATA[tomohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritamanado.com/?p=1429</guid>
		<description><![CDATA[Era dunia saat ini adalah kapitalisme, tak terkecuali Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1430" class="wp-caption alignleft" style="width: 118px"><img class="size-full wp-image-1430" title="Andre GB" src="http://beritamanado.com/wp-content/uploads/2009/07/andre.jpg" alt="Andre GB" width="108" height="130" /><p class="wp-caption-text">Andre GB</p></div>
<p>Era dunia saat ini adalah kapitalisme, tak terkecuali Indonesia. Beberapa ekonom kritis bahkan menghadiahkan nama baru untuk sistem ini –melihat perkembangannya- di akhir abad 20: neoliberalisme. Secara ekonomi politik, ciri dasar kapitalisme adalah tentang bagaimana suatu aspek kehidupan, yang seharusnya dapat diakses oleh semua orang, menjadi milik segelintir orang yang beruntung (secara ekonomi). Kerja-kerja kesenian, semacam lukisan-lukisan, kerajinan tangan ataupun ukir-ukiran dan sebagainya, bukanlah pengecualian dari hukum umum ini.</p>
<p>Dewasa ini, kondisi tersebut bagaimanapun telah menjadi suatu realitas di Indonesia. Kita bisa tengok bagaimana lukisan-lukisan indah, patung-patung berestetika tinggi, sampai ke kerajinan-kerajinan tangan bermutu dipajang dan dijual dengan harga sangat tinggi di galeri-galeri bonafit. Masih ingat terjualnya lukisan Sonny Lengkong ketika pameran tunggalnya diadakan di salah satu hotel mewah di kota Manado mencapai total lebih dari Rp 100 juta beberapa waktu silam? Tentu saja akhirnya, para penikmat seni yang datang ke galeri ataupun pameran pun relatif mapan secara ekonomi. Tak jarang sebuah karya seni mahal tersebut laku terjual, dibawa pulang ke rumah untuk dinikmati oleh pribadi ataupun keluarganya. Sebuah karya seni telah kehilangan sifat publiknya.<br />
Manusia tidak dapat dipisahkan dari kesenian- termasuk menikmati karya seni. Karya seni telah semakin teralienasi seiring berjangkitnya neoliberal sebagai perkembangan tertinggi kapitalisme dunia. Setiap thesis tentu memiliki anti-thesis. Realitas kesenian di bawah jejaring kapitalisme pasti memiliki kontradiksi internal dalam dirinya. Untuk dapat membongkarnya, pertama-tama kita harus mengetahui dengan benar bagaimana wujud kerja kapitalisme dalam kesenian.</p>
<p><strong>MISTIFIKASI SENI</strong><br />
Secara teori, museum maupun galeri dimaksudkan untuk menjamin akses publik terhadap kesenian, menyediakan ruang tertentu agar nyaman dalam menikmatinya, dan memang sukses tetapi dalam derajat tertentu. Meskipun demikian, masih banyak massa rakyat ,terutama yang berkemampuan ekonomi lemah, berpikir bahwa tempat-tempat semacam itu bukanlah dibuat untuk kalangan mereka. Suasana khidmat museum dan galeri membuat mereka terintimidasi, sebagaimana kenyataan bahwa tempat-tempat itu memang “ada” untuk kaum menengah maupun kelas atas. Sialnya, sangat tepat untuk watak masyarakat kita yang masih kurang percaya diri dalam mengapresiasi maupun menghasilkan karya seni.</p>
<p>Seorang teoritikus seni terkenal, John Berger, menggambarkan proses ini sebagai bagian dari tren umum “mistifikasi” terhadap kesenian di bawah dunia kapitalisme. Pierre Bourdieu, ahli sosiologi Perancis, melakukan obsevasi yang mirip. Penelitiannya menemukan bahwa terdapat perbedaan cara pandang terhadap kesenian untuk kelas sosial yang berbeda. Secara hegemonis maupun ekonomis, kelompok masyarakat kelas bawah dipaksa untuk menganggap karya-karya seni yang dipajang di galeri-galeri adalah suatu hal yang sakral (bukan untuk kalangan mereka) dan tidak terjangkau.</p>
<p>Langkah kedua tentang bagaimana upaya kapitalisme mencegah akses massa terhadap kesenian adalah dengan menjadikan karya seni sebagai komoditi mewah untuk diperjual belikan di pasar. Seniman-seniman profesional didorong untuk mengikuti polah pasar untuk bertahan hidup. Sekelompok kecil individu-individu kaya raya menguasai karya-karya seni yang mashyur dan mahal. Tak ketinggalan, institut-institut kesenian, sebagai alat ideologi formal pencetak seniman-seniman, secara seragam mengajarkan kepada anak didiknya untuk bagaimana berkesenian agar mampu terjual dengan harga tinggi nantinya. Secara tak sadar akhirnya, mereka berkesenian tidak menggunakan sense, melainkan logika pasar. Sayangnya logika tersebut pada perjalanannya, semenjak lahirnya di abad 18, tak pernah seiring dengan logika mayoritas rakyat.</p>
<p><strong>TURUN KE JALANAN</strong><br />
Bagaimanakah cara untuk melawan arus kapitalisme kesenian? Salah satu caranya adalah dengan mengeluarkan kesenian dari museum ataupun galeri ke jalanan. Biarkan seluruh rakyat, dari tua muda, kaya miskin, mampu menikmatinya. Galeri-galeri mewah itu terlalu sakral untuk kaum yang miskin. Setidaknya meletakkan kesenian di jalanan akan menghancurkan elitisme dari galeri-galeri, mendapatkan kembali ruang publik- dan mempersulit pengkomoditian kesenian.</p>
<p>Hal ini contohnya telah banyak dilakukan oleh seniman-seniman muda di Sulawesi Utara. Pentas teater jalanan yang diadakan oleh KKBR selama rentang tahun 2006-2007, peluncuran buku puisi yang hanya diadakan di kedai kecil yang terbuka akan akses para apresian, ataupun pentas-pentas di berbagai tempat yang dapat terjangkau oleh publik.</p>
<p>Tentu saja, hanya dengan adanya kesenian di jalan tidak secara otomatis menjadikan kesenian tersebut radikal. Kita pasti ingat, bahwa para penguasa di negeri manapun selalu membangun patung-patung atau monumen-monumen mengenai diri atau kekuasaan mereka untuk ditampilkan di tempat-tempat publik. Maksud bangunan-bangunan tersebut adalah untuk mengintimidasi rakyat dan membuat agar kita menganggap bahwa kekuasaan mereka alamiah. Tidak perlu jauh-jauh, para penguasa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Nusantara pun tidak lupa melakukannya. Berbagai prasasti, patung-patung dan artefak lainnya peninggalan zaman mereka telah menunjukkan kecenderungan itu.</p>
<p>Tetapi kesenian model penguasa yang dipertontonkan pada rakyat adalah sangat berbeda dari kesenian jalanan yang sejati. Mereka (karya-karya seni penguasa) hanyalah merupakan alat propaganda penguasa untuk rakyat demi langgengnya kekuasaan. Kesenian jalanan yang sejati memperlihatkan suatu potensi untuk sebuah dunia di mana kesenian adalah bagian integral dari hidup kita, sebuah perayaan atas kretivitas kita dan kekayaan atas imajinasi kita. Program-program yang bersifat massal (misal: program sejuta mural untuk rakyat) di seluruh kota haruslah menjadi prioritas pertama untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni. Sehingga nantinya, masyarakat Indonesia yang halus, beretika, dan berbudaya tidak hanya sekedar dongeng.</p>
<p>Oleh: <strong>Andre GB</strong><br />
<em>(Sastrawan, Mantan Pimred Jurnal Sastra Manado, Peneliti Budaya di Mawale Cultural Center-Tomohon)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritamanado.com/2009/07/14/seni-untuk-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukit Inspirasi di Tahun Berlian GMIM Bersinode</title>
		<link>http://beritamanado.com/2009/06/21/bukit-inspirasi-di-tahun-berlian-gmim-bersinode/</link>
		<comments>http://beritamanado.com/2009/06/21/bukit-inspirasi-di-tahun-berlian-gmim-bersinode/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 16:42:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama dan Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[gmim]]></category>
		<category><![CDATA[sinode]]></category>
		<category><![CDATA[ukit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritamanado.com/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Belum usai kisah hangar-bingar UKIT, muncul lagi kabar baru yang akhir-akhir ini merebak di kalangan warga GMIM.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_963" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-963" title="John Karl Barth Damongilala" src="http://beritamanado.com/wp-content/uploads/2009/06/john-damongilala.jpg" alt="John Karl Barth Damongilala" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">John Karl Barth Damongilala</p></div>
<p>Belum usai kisah hangar-bingar UKIT, muncul lagi kabar baru yang akhir-akhir ini merebak di kalangan warga GMIM. Berita ini menjadi salah satu topik menarik yang menjadi buah bibir warga jemaat. Konon kabarnya, gedung Auditorium Bukit Inspirasi direhabilitasi oleh pihak ketiga dengan konsesi pengelolaan beberapa tahun ke depan diimbuhi pendekatan bisnis.<span id="more-964"></span></p>
<p>Menurut info yang belum terlalu layak dipercaya, auditorium ini akan dijadikan rumah makan. Gosip yang lain menuturkan, auditorium akan dibisniskan untuk tempat konverensi. Entah mana yang benar, pokoknya gedung ini katanya akan beralih fungsi.</p>
<p>Percaya atau tidak, pada akhir tahun 70-an dan awal 80-an untuk kawasan Indonesia timur, gedung ini yang paling megah di masa itu. Bukit yang hampir mustahil dibenahi, puncaknya diratakan. Motivasi luar biasa menyeruak di dada warga GMIM. Ribuan pasang tangan jemaat yang ditopang oleh sepasang kaki, lengkap dengan mata warga yang berbinar-binar, bahu-membahu menyusun satu persatu batu, pasir dan adukan semen.</p>
<p>Batu demi batu yang didatangkan dari hampir semua penjuru tanah Minahasa, di susun dengan semangat mapalus, maka jadilah puluhan anak tangga yang memungkinkan ribuan jemaat dengan mudah mencapai aula besar yang menjadi kebanggaan kita semua.</p>
<p>Batu, pasir dan manusia GMIM bercampur-baur di bak-bak truk, dengan mesin meraung-raung menuju bukit kebanggaan. Tidak ada yang mengeluh. Semua peluh dan kelelahan seakan sirna manakala ribuan warga gereja dari semua penjuru angin, datang menghadiri Sidang DGI tahun 1980 di Tomohon dan Manado.</p>
<p>Bukit inspirasi dengan Auditorium megah ini menjadi saksi kebesaran semangat mapalus warga. Sekaligus membuktikan bahwa motivasi yang tulus dari dalam tubuh yang renta sekalipun, mampu membangun apa saja. Pdt. Rein M. Luntungan salah seorang pemrakarsa pembangunan adalah motivator ulung yang tidak sempat menyaksikan kemegahan gedung ini.</p>
<p>Prof Dr Donald West mengumpamakan Pdt RM Luntungan sebagai ‘seorang perawat yang merawat bayi kecil GMIM dan hendak membesarkannya, sesudah pelayanan kebidanan Ds. Wenas.’ Menurut Pdt. Luntungan, masa depan yang cerah bagi GMIM berdasar theologi pembangunan dan pembaharuan yang menekankan kesukacitaan dalam mengabdi selaku pemimpin sekaligus gembala bagi GMIM.</p>
<p>Di usia berlian 75 tahun bersinode, jangan lagi kita terkejut oleh berita seputar kinerja ‘top eksekutif GMIM’ saat ini. Bila terlalu banyak kejutan, warga jemaat bisa jantungan. Mari songsong periode baru dengan pemimpin yang tidak mengejutkan, tapi kinerjanya masehi dan injili.</p>
<p>John Karl Barth Damongilala<br />
Kolom 26 GMIM Imanuel Bahu<br />
16 Juni 2009 (HUT 81 GMIM Bahu)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritamanado.com/2009/06/21/bukit-inspirasi-di-tahun-berlian-gmim-bersinode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pariwisata dan Perubahan Lingkungan</title>
		<link>http://beritamanado.com/2009/06/06/pariwisata-dan-perubahan-lingkungan/</link>
		<comments>http://beritamanado.com/2009/06/06/pariwisata-dan-perubahan-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 16:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlano Daud]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritamanado.com/?p=620</guid>
		<description><![CDATA[Industri pariwisata (tourism) merupakan salah satu isu utama di millenium ke-3 ini selain transportasi, telekomunikasi, dan teknologi (4T).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_621" class="wp-caption alignleft" style="width: 170px"><img class="size-full wp-image-621" title="JR Pahlano Daud" src="http://beritamanado.com/wp-content/uploads/2009/06/jr-pahlano-daud.jpg" alt="JR Pahlano Daud" width="160" height="160" /><p class="wp-caption-text">JR Pahlano Daud</p></div>
<p>Industri pariwisata (tourism) merupakan salah satu isu utama di millenium ke-3 ini selain transportasi, telekomunikasi, dan teknologi (4T).</p>
<p>Ini berarti, pariwisata menjadi salah satu industri yang tumbuh dominan dan memiliki peran penting dalam aspek kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. Beberapa waktu lalu dalam dunia pariwisata muncul isu mengenai Greenspeak dan Go Green.<span id="more-620"></span></p>
<p>Kedua isu ini berkaitan erat dengan wisata yang berbasis pemeliharaan dan pelestarian alam. Lingkungan alam dijadikan basis pengembangan hampir keseluruhan industri, dan pariwisata merupakan salah satu industri yang tidak luput dari tuntunan aplikasi pengembangan industri berwawasan pemeliharaan alam (konservasi) yang sustainable way (berkelanjutan).</p>
<p>Peran utama pariwisata sebagai katalisator perubahan dimulai ketika disadari bahwa masyarakat dunia mengeluarkan biaya untuk mengadakan perjalanan ‘travel’ ke tempat tujuannya (lebih dari 25 mil dari tempat tingalnya) melebihi US$ 2 trilyun di tahun 1986, sedangkan anggaran Militer dunia hanya mengeluarkan biaya tidak lebih dari US$ 1 trilyun sampai tahun 1987. Jumlah turis internasional berkembang dari 170 juta di tahun 1971 menjadi 635 juta di tahun 1998. Di tahun 2000, 700 juta orang mengadakan perjalanan ke luar negeri dan 62 persen diantaranya dengan tujuan berekreasi dan bersenang-senang (leisure). Seiring dengan berkembangnya teknologi penerbangan dengan bertambahnya jumlah ‘seat’ penumpang pesawat udara serta teknologi komputer/internet sebagai fasilitas pendukung perjalanan, maka pariwisata dunia secara umum diperkirakan akan terus mengalami peningkatan. Organisasi Pariwisata Dunia (WTO, World Tourism Organisation, 2002) memprediksi di<br />
tahun 2020 sebanyak 1,5 milyar turis akan menghabiskan US$ 2 trilyun atau lebih dari US$ 5 milyar setiap hari.</p>
<p>Pariwisata menyumbang lebih dari 10 persen dari total GNP (Gross National Product) dunia dan secara langsung maupun tak langsung menampung sekitar 200 juta pekerja baru. Secara global maupun dalam skala nasional, pariwisata merupakan sektor ekonomi penting yang bertumbuh cepat sampai hari ini dan menjadi kontributor GDP (Gross Domestic Product) dari berbagai negara terutama di negara berkembang yang memiliki pulau tropis. Seperti halnya di Karibia, 30-50 persen dari total pendapatannya bersumber dari pariwisata. WTO (2002) mengestimasi pendapatan dari sektor ini sekitar 25 persen dari total ekspor dari negara-negara sekitar Pasifik (Pasific Rim) dan lebih dari 35 persen khusus untuk kepulauan Karibia.</p>
<p>Tidaklah sulit mengamati bagaimana daerah yang memiliki pulau tropis merupakan tujuan utama wisata dunia. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan memiliki garis pantai kedua terpanjang di dunia setelah Kanada plus merupakan pusat keanekaragaman flora dan fauna dunia (Hotspot Sundaland, Walacea, Tropical Wildernes Papua dan Heart of Coral Triangle). Pariwisata di wilayah pesisir dan laut bersumber pada nilai keanekaragaman hayati, karena semakin tinggi ‘keanekaragaman’ maka semakin tinggi daya jualnya.  Keunikan dan keindahan lingkungan alam tropis ini merupakan sumberdaya potensial penting yang kita miliki dibanding daerah dan negara lain. Tidak mengherankan obyek pengembangan pariwisata telah bertumpu pada lingkungan ekosistem pesisir dan laut seperti aktifitas rekreasi Skin/SCUBA diving, Kayaking, dsb. Sebagai multiplier effect bagi pembangunan kelautan, tentunya keberlanjutannya tak lepas dari<br />
ketergantungan usaha pariwisata terhadap lingkungan tersebut. Sehingga kelestarian sumberdaya dan keanekaragaman hayati di dalamnya perlu dipertahankan dan dijaga keberadaanya.</p>
<p>‘SUSTAINABLE WAY’<br />
Industri pariwisata umumnya didasarkan atas ketersediaan sumberdaya alam seperti udara, daratan dan air. Sumberdaya alam tersebut dijadikan obyek sekaligus produk bagi industri pariwisata. Ekosistem alam akan rusak jika perencanaan, pengembangan dan pengoperasiannya tidak diatur dengan pantas. Di lain pihak jika dikembangkan secara berkelanjutan, pariwisata dapat menjadi kekuatan positif bagi konservasi lingkungan.</p>
<p>Satu diantara sekian karakter dari pariwisata adalah bahwa pariwisata sangat tergantung pada kebersihan atau lingkungan yang asli dan alami. Hal ini mengarah pada argumen bahwa pariwisata, karena itu, harus membenahi diri secara alami dengan konsep pembangunan berkelanjutan (‘mass’ ke ‘soft tourism’). Semenjak hal tersebut digaungkan dan dipromosikan untuk memproteksi dan melestarikan lingkungan, maka suksesnya pembangunan berkelanjutan khususnya pariwisata sangatlah bergantung pada kualitas lingkungan. Meskipun terdapat beberapa kategori pariwisata yang kurang hubungannya dengan lingkungan, tapi secara umum kenyamanan berwisata tetap tergantung pada lingkungan yang bersih baik di pemukiman maupun di pusat kota. Pada saat turis berada di tempat tujuannya, mereka akan terusik dan tergangu jika terlihat sampah dimana-mana, kesemrawutan, udara yang kotor/berasap mengiringi perjalanannya serta tidak tersedianya sarana pendukung yang layak.</p>
<p>Dari tinjauan ekologis, hal inipun secara langsung maupun tidak langsung berhubungan erat dengan keberadaan lingkungan. Satu yang tak dapat dipungkiri bahwa pariwisata seperti berwisata di wilayah pesisir dan pulau memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan dan kebersihan air laut. Yang pasti banyak hotel dan resort walaupun setidak-tidaknya telah mengklaim lokasinya dengan keberadaan lingkungan yang alami. Faktor-faktor lingkungan yang umum seperti keberadaan pantai dan matahari tropis yang hangat dapat menarik turis. Turis tak akan datang kembali jika daerah tujuan tersebut telah tercemar, kotor dan tidak menarik lagi. Hal yang ingin ditekankan disini, bahwa pariwisata sangat bergantung dan membutuhkan lingkungan yang besih, alami dan asli sesuai keinginan turis. Hal ini juga tentunya seiring dengan keinginan kita masyarakat yang menghendaki adanya kebersihan, ketertiban dan keharmonisan dengan lingkungan.</p>
<p>Turis tidak hanya tertarik pada perspektif mengenai keanekaragaman dan keunikan biota, namun yang lebih penting bagaimana proses dan hasil dari lingkungan alam serta kaitannya dengan manusia yang mendiami dan menggunakan lingkungannya. Keteraturan, kebersihan kota dan lingkungannnya merupakan cermin dari masyarakat/manusia yang mendiaminya. Hal ini akan berdampak pada keberlangsungan keanekaragaman hayati di wilayah pesisir yang menunjang kesimbangan sistem ekologis. Kombinasi dari hal tersebut juga tentunya akan mengguntungkan bagi keberlangsungan usaha pariwisata itu sendiri.</p>
<p>Pariwisata dinilai merupakan industri yang tak berasap dan tidak memiliki produk, namun tak dapat dihindari fakta dimana pembangunan hotel, marina, mall dan pengoperasian fasilitas wisata secara mendasar merubah lingkungan dan komunitasnya. Semenjak awal tahun 1970-an pembangunan berkelanjutan telah menjadi kesatuan konsep untuk perencanaan lingkungan. Walaupun demikian, dalam pelaksanaanya masih kurang dipahami. Konsep tersebut menjembatani hubungan antara konservasi lingkungan dan kualitas hidup sosial-ekonomi tetapi tetap meninggalkan isu perdebatan mengenai bagaimana keseimbangan pemanfaatan yang berkelanjutan atau bagaimana nilai suatu lingkungan.</p>
<p>Berbagai organisasi dunia menyangkut pariwisata dan lingkungan menyepakati bahwa pariwisata hendaknya merangkul prinsip-prinsip berkelanjutan dengan menghargai daya dukung lingkungan (carrying capacity), tanggungjawab sosial dan kesatuan aktifitas pariwisata dengan keinginan penduduk lokal. Tourism Concern (TC) dan Worlwide Fund for Nature (WWF) mendefinisikan pariwisata berkelanjutan adalah sebagai pariwisata dan infrastrukturnya yang :<br />
• Beroperasi dengan kapasitas alami untuk regenerasi dan masa depan produktifitas alam, sosial dan budaya;<br />
• Mengakui kontribusi dimana masyarakat dan komunitas, kebiasaan dan gaya hidup sekarang dan yang akan datang menjadi pengalaman bagi pariwisata;<br />
• Menerima bahwa masyarakat memiliki pembagian yang adil dan wajar dari keuntungan pariwisata;<br />
• Diarahkan dari yang ‘berkepentingan’ kepada masyarakat dan komunitas di sekitar wilayah wisata khususnya.</p>
<p>Dengan usaha yang berkelanjutan diharapkan nantinya aktifitas pariwisata menjadi alat informasi pengetahuan, mendukung kesatuan ekosistem, memberi keuntungan bagi penduduk, memelihara lingkungan dan menghormati budaya serta tradisi lokal.. Ukuran suksesnya pariwisata bukan hanya jumlah pengunjung belaka (kuantitas) tetapi oleh lamanya tinggal, uang yang dipakai selama kunjungan dan kualitas pengalaman. Pada akhirnya dicapai kepuasan, memberi gairah kepada turis dengan membawa pengetahuan baru di tempat asalnya dan membagi cerita kepada teman-temannya apa yang diperolehnya. Hal ini tentunya akan menarik pengunjung baru dan akan tetap memberi peluang bagi kelanjutan bisnis pariwisata terus menerus.</p>
<p>Prinsip dari pengembangan pariwisata berkelanjutan dinyatakan dengan penggunaan secara optimal sumberdaya alam dan budaya dalam kerangka keseimbangan dan menyokong pengembangan perekonomian nasional secara keseluruhan. Menyediakan kesan khusus bagi turis di satu sisi, dan disisi lain meningkatkan kualitas kehidupan penduduk lokal. Ini bisa dicapai hanya dengan kerjasama permanen antara pemerintah, sektor swasta dan penduduk lokal. Pariwisata berkelanjutan adalah industri yang diusahakan menekan dampak negatif pada lingkungan dan budaya lokal, dengan membantu meningkatkan pendapatan, pekerjaan, dan konservasi ekosistem setempat. Hal ini merupakan pariwisata bertanggungjawab yang sensitif terhadap nilai-nilai ekologi dan budaya seperti ‘ecotourism’.</p>
<p>‘ECOTOURISM’<br />
Ecotourism atau eko-wisata atau pariwisata ekologi di sub-kategorikan dari pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) atau salah satu segmen pasar dari pariwisata berbasis lingkungan alam. Pariwisata berbasis lingkungan alam (pariwisata hutan/pariwisata bahari) hanya merupakan aktivitas kunjungan ke tempat alamiah seperti melihat burung di hutan atau biota unik lainnya pada ekosistem pesisir (seperti rekreasi SCUBA diving). Sedangkan ‘ecotourism’ memberi keuntungan bagi lingkungan, budaya, dan ekonomi komunitas lokal seperti mengamati burung atau biota unik lainnya dengan ‘guide’ orang lokal, tinggal bersama penduduk lokal atau pondokan alami (eco-lodge) yang disediakan penduduk masyarakat dan memberi kontribusi ekonomi bagi penduduk local (eco-charge). Haruslah dibedakan antara konsep dari ‘ecotourism’ (wisata ekologi) dan ‘sustainable tourism’ (pariwisata berkelanjutan), dimana pengertian ‘ecotourism’ merujuk pada segmen dari<br />
sektor pariwisata, sedangkan prinsip ‘sustainability’ diterapkan pada segala tipe aktifitas, operasi, pembuatan/pendirian dan proyek pariwisata termasuk bentuk yang konvensional maupun alternatif.</p>
<p>‘Ecotourism’ mutlak memperhatikan pemeliharaan lingkungan alam (conservation), bukan sebaliknya mengubah keaslian alam sehingga menganggu keseimbangan alam. Pemahaman pariwisata ekologi adalah untuk menyokong atau menopang keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan alamnya. Kualifikasi aktivitas dalam ecotourism senantiasa berorientasi terhadap cara-cara pengembangan dan pemeliharaan keutuhan alam yang berkelanjutan.</p>
<p>United Nations of Environment Programme (UNEP) telah merangkum karakteristik umum mengenai ‘ecotoursim’ yaitu :<br />
1. Berdasar atas bentuk pariwisata alam dengan motivasi utama turis adalah untuk pengamatan dan mengapresiasi serta menghargai alam sama seperti budaya tradisional dalam kesatuan daerah alami, seperti kesatuan ekosistem pulau.<br />
2. Berisi pendidikan dan interpretasi mengenai obyek alam yang dijadikan target (misalnya pada objek alam ekosistem hutan, gunung, pulau atau ekosistem pesisir dan laut).<br />
3. Secara umum memiliki kelompok kecil turis yang diorganisasi oleh sekelompok kecil specialist dan bisnisnya dimiliki dan dijalankan orang lokal.. Operator dari luar negeri dengan berbagai ukuran juga diatur, dioperasikan dan/atau dipasarkan dalam kelompok-kelompok kecil yang tentunya bekerjasama dengan penduduk setempat.<br />
4. Seminim mungkin mengurangi dampak negatif pada lingkungan alam dan sosial-budaya lokal.<br />
5. Mendukung perlindungan daerah alam.</p>
<p>Sebagai sarana pengembangan, ‘ecotourism’ dapat memajukan 3 tujuan utama dari konvensi keanekaragaman biologi (Convention on Biological Diversity), yaitu :<br />
• Melestarikan keanekaragaman biologi (dan budaya), dengan penguatan sistem pengelolaan daerah yang dilindungi (public/private) dan meningkatkan nilai suatu ekosistem ;<br />
• Mempromosikan pemanfaatan keanekaragaman berkelanjutan, dengan pemerataan pendapatan, pekerjaan dan kesempatan berusaha dalam bidang ‘ecotourism’ dan jaringan usahanya ; dan<br />
• Membagi keuntungan yang sama dari pengembangan ‘ecotourism’ dengan komunitas dan penduduk lokal/asli, seperti dengan cara menerima persetujuan penduduk lokal dan partisipasi penuh dalam perencanaan dan pengelolaan usaha/bisnis ‘ecotourism’.</p>
<p>Dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik, ‘ecotourism’ telah terbukti menjadi alat yang efektif bagi konservasi jangka panjang bagi keanekaragaman hayati disamping usaha-usaha lainnya. Bagaimanapun ‘ecotourism’ telah bergerak maju bagi industri pariwisata di negara pesisir seperti di Malaysia, Australia, beberapa Negara Afrika, Meksiko, Jepang, Maldive dan Negara-negara di Karibia. Bagi keberlangsungan aktifitas ‘ecotourism’ diperlukan pengaturan yang pantas dan penanganan khusus seperti pengaturan pada ekosistem yang asli dan dilindungi (Taman Nasional atau Cagar alam). Karena dampak dari ‘ecotourism’ itu sendiri akan lebih parah dari batasan pariwisata pada umumnya . Hal ini termasuk pengalaman belajar/interpretasi operator ‘ecotourism’, pengaturan jumlah kelompok turis dalam skala kecil, dan sensitifitas terhadap ketegangan dengan pemilik dan penghuni komunitas setempat khususnya masyarakat lokal.</p>
<p>Beberapa penyimpangan dari tujuan ‘sustainable way’ dan ’ecotourism’ itu sendiri sering terjadi hanya karena mengejar keuntungan ekonomi semata. Banyak praktisi pariwisata mengklaim dan membesar-besarkan kerjasamanya dalam perencanaan dengan menjamin dan mendukung keberlanjutan kelestarian lingkungan, namun pada kenyataanya mengancam budaya, perekonomian dan sumberdaya masyarakat lokal. Beberapa kritik untuk eco-tourism seperti ini dikenal sebagai ‘eco-façade’ dalam praktek eksploitasi sumberdaya. Eco-tourism juga kedengarannya ‘ramah’, namun yang sering menerima dampak serius adalah pengambilalihan teritorial ‘alami’ dari taman Nasional, Cagar alam atau daerah perlindungan lainnya yang dipaketkan bagi ‘ecotourist’ sebagai pilihan utama tanpa alternatif produk sendiri. Seperti halnya aktifitas wisata pesisir dan laut ; skin/SCUBA diving yang mengantungkan obyek wisata alamnya hanya pada ‘diving-diving point’ yang memang<br />
secara alamiah telah ada. Ironisnya, banyak operator-operator diving menggunakan daerah konservasi seperti di Taman Nasional Bunaken sebagai ajang pelatihan selam. Dimana, penyelam-penyelam rekreasi ini menggunakan sumberdaya alam yang telah ada tersebut untuk aktivitas latihan atau ‘pre-dive’ bagi penyelam pemula.</p>
<p>Berbagai aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat lokalpun telah diganti dengan aktifitas pariwisata. Pekerjaan yang ada hubungannya dengan pariwista memonopoli komunitas lokal dan masyarakat lokal sering hanya dibayar dengan gaji rendah sebagai ‘guide’, buruh, penjaja makanan dan souvenir, dan hal inipun tidak berlangsung sepanjang tahun. Yang diuntungkan sama seperti pariwisata konvensional lainnya yaitu jasa penerbangan luar negeri, operator wisata dan pengembang yang terkait yang umumnya datang dari Negara maju. Mega-resorts, termasuk hotel yang ‘lux’, condominium (daerah yg dikuasai dan diperlakukan sebagai milik sendiri), dan shopping centres (Mall) meningkat pembangunannya dalam daerah perlindungan dengan mengatasnamakan ‘ecotourism’. Hal ini merupakan `eco-terrorism&#8217;, dan mengancam ekosistem dan lingkungan seperti pembangunan daratan buatan atau marina (reklamasi) yang jelas memusnahkan kehidupan tumbuhan dan organisme di dalamnya.<br />
Demikian pula pengrusakan budaya lokal yang sering terjadi seiring dengan kerusakan ekosistem lingkungan.<br />
Memang, industri pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan perekonomian negara, sekaligus berpotensi memproteksi lingkungan. Namun lebih dari itu, pariwisata dan aktifitas pembangunan lainnya dapat menjadi kekuatan besar yang merusak sumberdaya alam dan lingkungan, termasuk manusia di dalamnya. Pariwisata sangat tergantung pada lingkungan, maka tidak mengherankan berbagai macam usaha dari organisasi pariwisata dunia dan juga organisasi lingkungan mendengung-dengungkan mengenai pembangunan yang berkelanjutan. Badan dunia pun seperti PBB di tahun 2002 telah menerima usulan dan menjadikan tahun tersebut sebagai tahun bagi ‘Ecotourism’ (International Year of Ecotourism), hal ini juga sebagai wujud usaha perlindungan lingkungan.</p>
<p>Memang, pemanfaatan ekosistem yang berkelanjutan tidak hanya berhenti dan bergantung dari usaha-usaha yang telah dilakukan tersebut. Kesadaran secara menyeluruh dari masyarakat, ‘yang berkepentingan’ dan teristimewa pemerintah untuk lebih menghargai lingkungannya akan memberi nilai bagi keberlangsungan pembangunan itu sendiri.</p>
<p>Commemorated yearly on 5 June worldwide awareness of the environment :<br />
&#8216;Your Planet Needs You-UNite to Combat Climate Change&#8217;.</p>
<p>Copyright J.R.Pahlano Daud</p>
<p>Salam bae<br />
J.R.Pahlano Daud</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritamanado.com/2009/06/06/pariwisata-dan-perubahan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilgub Sulawesi Utara, Mulai Digulirkan!</title>
		<link>http://beritamanado.com/2009/06/01/pilgub-sulawesi-utara-mulai-digulirkan/</link>
		<comments>http://beritamanado.com/2009/06/01/pilgub-sulawesi-utara-mulai-digulirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 22:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[pilgub]]></category>
		<category><![CDATA[rml]]></category>
		<category><![CDATA[sarundajang]]></category>
		<category><![CDATA[SHS]]></category>
		<category><![CDATA[sulut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beritamanado.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[TABEA! Harian Manado Pos edisi Jumat, 29/5, mewacanakan pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Utara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_435" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-435" title="Eric Mf Dajoh" src="http://beritamanado.com/wp-content/uploads/2009/06/erick-dajoh-crop-300x158.jpg" alt="Eric Mf Dajoh" width="300" height="158" /><p class="wp-caption-text">Eric Mf Dajoh</p></div>
<p>TABEA! Harian Manado Pos edisi Jumat, 29/5, mewacanakan pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Utara.</p>
<p>Salah satu tawarannya, adalah prediksi calon gubernur–calon wakil gubernur (cagub-cawagub) Provinsi Sulawesi Utara, periode 2010-2015.<span id="more-434"></span></p>
<p>Berikut, Prediksi Cagub-Cawagub Sulawesi Utara Periode 2010-2015:<br />
1.Sinyo Harry Sarundayang – Ny. Sus Sualang-Pangemanan (PDI-P);<br />
2.Ramoy Markus Luntungan – Abdi Buchari (Golkar);<br />
3.E.E. Mangindaan – Ny. Marlina Moha-Siahaan (Demokrat-Golkar);<br />
4.Wenny Warouw – Syenni Watulangkouw (Demokrat);<br />
5.Lucky Korah – Winsulangi Salindeho (Golkar);</p>
<p>Mencermati nama-nama cagub-cawagub di atas, hampir pasti tak ada nama baru yang muncul. Beberapa di antaranya, adalah nama-nama lama langganan suksesi Sulut. Ada mantan Gubenur Sulut (E.E. Mangindaan), mantan Plt. Gubernur Sulut (Lucky Korah), cagub periode lalu (Wenny Warouw), dan Gubernur Sulut yang masih menjabat (Sinyo Harry Sarundayang). Lima nama lainnya, masih menduduki jabatan Bupati/Wakil Walikota, atau Plt. Walikota, yaitu: Ramoy Markus Luntungan (Bupati Minsel), Abdi Buchari (Plt. Walikota Manado), Ny. Marlina Moha-Siahaan (Bupati Bolmong), Syenni Watoelangkow (Wakil Walikota Tomohon), dan Winsulangi Salindeho (Bupati Sangihe). Sedangkan Ny. Sus Sualang-Pangemanan, adalah kader PDI-P, Ketua DPRD Minut, dan istri dari Ketua DPD PDI-P Sulut, Freddy H. Sualang.</p>
<p>Sebagai sebuah prediksi, sah-sah saja, karena formasi ini pun belum permanen. Yah, namanya juga sebuah prediksi! Harian Manado Pos mewacanakan ini, karena nama-nama di atas, ramai dibicarakan, dan disodorkan masyarakat dalam berbagai pemberitaan media di daerah ini. Artinya, tim sukses masing-masing calon, sudah mulai bekerja, dan menebar pesona calonnya dalam upaya menggaet simpati masyarakat.</p>
<p>Hal yang disayangkan, belum munculnya nama-nama baru, yang lebih muda, segar, dan cerdas sebagai calon pemimpin Sulut. Mudah-mudahan beberapa waktu berikut ini, dapat muncul ke permukaan nama-nama orang muda, yang masih segar dan lebih cerdas, sebagai calon pemimpin Sulut masa depan. Agar proses pengkaderan pemimpin tak dibiarkan mandul dan macet, hanya karena segelintir kepentingan yang tetap berupaya memelihara status quo demi kelangsungan kekuasaan yang sempit.</p>
<p>Dalam pemberitaan edisi hari berikutnya, Sabtu, 30/5, Harian Manado Pos, menampilkan nama-nama baru. Tampaknya, nama-nama itu masih segar, berusia muda, dan (mudah-mudahan) cerdas. Beberapa di antaranya, tidak asing lagi, karena kiprah mereka yang menonjol, seperti Benny Jozua Mamoto, pamen Polri/pakar teroris, yang pemerhati seni budaya Sulut, dan telah banyak menyelenggarakan kegiatan seni budaya, di Manado dan Jakarta. Ada juga, Jefrey Kairupan, bankir muda, tentu selain Hengky Wijaya (pengusaha, dan pemilik beberapa pertokoan di Manado), dan Maya Rumantir (penyanyi pop, dan kini banyak berkecimpung sebagai aktivis sosial).</p>
<p>Di kursi cawagub, muncul tiga orang muda, yang dalam Pemilu 2009 lalu, berhasil terpilih melalui partainya masing-masing sebagai Anggota DPR-RI, mewakili Sulut. Dua di antaranya, adalah anak dari gubernur dan bupati yang tengah berkuasa, yaitu: Vanda Sarundayang (anak Gubernur Sulut, S.H. Sarundayang), dan Aditya Didi Moha (anak Bupati Bolmong, Ny. M. Moha-Siahaan). Sementara Yasty Soepredjo adalah pengurus PAN Sulut, dan Taufik Pasiak adalah Sekretaris MUI Sulut.</p>
<p>Berikut nama-nama Cagub dan Cawagub yang ditawarkan, tanpa pasangan, yaitu:<br />
Nama-nama Cagub:<br />
1.Benny Jozua Mamoto (Pemerhati Kebudayaan Sulut, dan Pamen Mabes Polri;<br />
2.Jefrey Kairupan (Kepala Bank Indonesia Sulawesi Utara);<br />
3.Hengky Wijaya (Pengusaha);<br />
4.Maya Rumantir (Aktivis Sosial);</p>
<p>Nama-nama Cawagub:<br />
1.Vanda Sarundayang (Caleg Terpilih PDI-P Sulut untuk DPR-RI 2009);<br />
2.Yasty Soepredjo (Caleg Terpilih PAN Sulut untuk DPR-RI 2009);<br />
3.Taufik Pasiak (Sekretaris MUI Sulut);<br />
4.Aditya Didi Moha (Caleg Terpilih Golkar Sulut untuk DPR-RI 2009);</p>
<p>Menyambut suksesi di Sulawesi Utara, saya mengajak semua pihak mencermati wacana prediksi di atas, melalui pendapat, saran dan usul, serta penilaian-penilaian yang obyektif, dengan data dan alat ukur yang konkret akurat, atas diri masing-masing calon yang diajukan.</p>
<p>Tentu saja, Anda pun dapat menghadirkan nama lain/calon lain, di luar prediksi di atas, sepanjang yang bersangkutan memenuhi kriteria yang lazim bagi seorang calon pemimpin.</p>
<p>Kita berharap, siapapun yang terpilih, adalah pemimpin yang sanggup mengelola Sulawesi Utara, dengan berbagai potensi sumber daya manusia, dan sumber daya alamnya (termasuk sumber daya adat dan kebudayaannya), sebagai sebuah totalitas dalam khasanah pembangunan.</p>
<p>Sudah tentu, kita memerlukan infrastruktur yang memadai dan lengkap, tetapi jika itu tak ditopang oleh pembanguan moral/spritual dan rohani yang terencana serta terpelihara dengan baik, maka semuanya akan menjadi sia-sia.</p>
<p>Kita butuh rumah ibadat, tetapi jika pembangunan itu tak ditindaklanjuti dengan program-program konkret pembinaan rohani umat secara berkesinambungan dan sungguh-sungguh, serta pelayanan diakonia secara menyeluruh kepada sesama, maka semua upaya ini akan menjadi batu sandungan di kemudian hari.</p>
<p>Kita gembira melihat kota semakin dijejali gedung-gedung bertingkat nan megah, jalan-jalan raya berhotmiks bak permadani, hotel-hotel berkelas nan mewah, kerlap-kerlip pusat-pusat pertokoan bernuansa metro, seolah menutup gambaran pasar-pasar tradisional yang kumuh dan kotor, serta berbagai kemajuan fisik lainnya. Namun, jika pelbagai ikhtiar itu tak disertai dengan penataan program perdagangan dan perekonomian, perhubungan, pariwisata, kebudayaan, dan semua sektor terkait secara menyeluruh dan konkret, maka sama saja kita membiarkan berbagai kesuraman masa lalu, terulang kembali. Sama serupa, (kita merelakan) wajah dan rupa Bunaken, serta berbagai obyek adat dan wisata lainnya, tampak buruk, kumuh, miskin aktivitas dan kreativitas, serta terlunta-lunta tiada solusi. Yang ada, sekadar upaya ‘tiba saat, tiba akal’, mendukung penyelenggaraan iven-iven temporer di daerah. Setelah itu, tak ubahnya ‘kuburan purba’ yang menakutkan! Ini cuma salah satu contoh.</p>
<p>Suatu saat, kita hanya bisa menemukan ‘catatan’ demi ‘catatan’ tentang Bunaken, obyek-obyek wisata, adat budaya, dan berbagai potensi adat istiadat serta budaya kita, dalam kenangan pada tetua, yang mengumbar mimpi-mimpinya dari mulut ke mulut, turun temurun, dari warung kopi ke warung kopi.</p>
<p>Data konkret pun, kita tak punya. Perpustakaan dan museum, kosong melempem! Yang ditemukan, cuma: catatan-catatan minor ‘pemimpin-pemimpin’ kita yang korup, penuh skandal, dan gagal! Betapa sia-sianya kita selama ini: membangun sebuah negeri, tanpa akar dan adat kebudayaan yang konkret, tanpa spirit, dan rohani yang luruh-lurus! Orekei! Orekei!</p>
<p>Pemimpin yang baik, cerdas, dan berhikmat, tentu sangat memahami hal ini. Lalu, apa pendapat, saran dan usul, serta penilaian Anda? Terima kasih. – ED.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beritamanado.com/2009/06/01/pilgub-sulawesi-utara-mulai-digulirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
