Kolom : Manado 2010

Stefan Obadja Voges

Stefan Obadja Voges

Memasuki tahun 2010 Kota Manado mempunyai PR yang tidak sedikit di Bidang Kepariwistaan. Visi Pemkot “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010″, masih jauh dari kenyataan. Pemkot Manado sesungguhnya telah terbantukan dengan gebrakan Pemprov Sulut yang telah menanamkan Benih Pariwisata Dunia dengan suksesnya penyelenggaraan iven-iven Skala Internasional di Manado. (WOC, CTI Summit dll.)

Namun sayangnya laju gerak sepak terjang Pemprov Sulut tidak diimbangi oleh Pemkot Manado, sehingga saat ini apa yang kita lihat dari kota Manado, masih sangat sulit untuk dikatakan sebagai salah satu Kota Pariwisata Dunia. Masih banyak aspek yang menjadi kelemahan kota Manado bila ingin mengkategorikan dirinya sebagai Kota Pariwisata Dunia.

Belum terintegrasinya pembangunan kepariwisataan di daerah ini merupakan salah satu faktor penting yang telah terabaikan. Masing-masing Kabupaten-Kota terkesan membangun bidang pariwisata dengan konsep sendiri-sendiri. Belum terlihat suatu Grand Concept of North Sulawesi Tourism Development Program yang di terapkan dalam pembangunan kepariwisataan Sulut. Semua daerah terkesan membangun dengan gayanya sendiri-sendiri dan melakukan promosi secara sendiri-sendiri pula.

Memang upaya ini harus kita hargai, namun dengan tidak memiliki perencanaan yang matang baik secara jangka pendek, menengah dan panjang, maka pembangunan kepariwisataan Sulut akan menjadi tidak terarah dan tidak bertahan lama.

Apalagi Manado sebagai Pintu Gerbang Utara juga belum berbenah diri. Kemacetan lalu lintas, banjir, krisis air bersih, krisis listrik, belum adanya tourism information centre, Rumah Sakit skala Internasional, sanitasi resto dan profesionalisme para pelaku pariwisata yang masih kurang masih menjadi pemandangan umum saat ini.

Bagaimana kita berani menyambut Serbuan Turis Mancanegara dengan kenyataan Kota Manado yang masih belum memenuhi standar “minimal” sebagai sebuah kota pariwisata dunia? Masyarakat tidak lagi bodoh, Pemkot Manado harus mampu menunjukkan hasil upaya dan kerja keras mereka dibidang Pariwisata bukan hanya melalui indikator kuantitas kunjungan turis! Tapi apa yang bisa didapatkan dan dinikmati oleh masyarakat Manado itu sendiri dari pembangunan kepariwisataan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Segala macam promosi dan publikasi serta kunjungan-kunjungan keluar negeri sudah menjadi lagu lama, yang malah terkesan sebagai ajang jalan-jalan tanpa ada hasil yang jelas!

Saat ini masyarakat Manado menginginkan bukti, bahwa ternyata Manado memang sudah menjadi Kota Pariwisata Dunia minimal dengan kenyamanan berlalu lintas, mudahnya mencari informasi (papan-papan petunjuk yang jelas), bersihnya WC-WC umum di Resto-Resto, pelayanan waitress yang sopan, ramah dan berkualitas, angkutan-angkutan umum yang bersih dan taat berlalu lintas, Rumah Sakit yang bersih dan nyaman, taman kota yang asri dan terawat dan yang terpenting adalah terjaga dan terawatnya lokasi-lokasi Wisata Kota yang semua itu bukan hanya akan dinikmati oleh para Turis, tetapi juga oleh masyarakat tuan rumah sendiri.

Semoga memasuki tahun 2010 ini ada sebuah Grand Concept yang akan disiapkan oleh Pemkot dalam menyongsong pergantian Kepala Daerah yang pastinya nanti memiliki Visi yang berbeda pula.

Maju Manado, Viva Manado!

Penulis:
Stefan Obadja Voges
Nyong Manado 1996.

Dongeng Untuk Rakyat Mitra

john damongilala

john damongilala

Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seekor kura-kura yang berkawan karib dengan dua ekor burung bangau. Mereka bertiga hidup berdampingan secara damai di sepetak huma persawahan di kawasan Minahasa Tenggara. Namun di siang hari kura-kura sering kesepian ditinggal terbang kedua sahabatnya itu dan malam harinya kura-kura mendengar kisah-kisah menarik tentang keindahan tempat-tempat yang dikunjungi kedua kawannya. Ada pantai Lakban yang indah di Ratatotok, ada danau Bulilin di Tombatu dengan mujairnya yang gurih, ada kawasan Banga-Lowatag dengan potensi hortikultura yang permai di Touluaan, ada pula buah salak yang ranum legit di Pangu Ratahan.

Dalam angan sang kura-kura terbersit keinginan kuat untuk bisa terbang, melihat langsung panorama kawasan yang didengarnya. Di satu pagi cerah muncul gagasan cemerlang di benak sang kura-kura. Ide tersebut diutarakan kepada dua bangau sahabatnya. Ketiganya bersorak karena kini kura-kura dapat terbang bersama. Sepotong dahan kering digigit bagian tengahnya oleh si kura-kura, sementara kedua bangau mematuk dua sisi ujung potongan dahan. Dan… si kura-kurapun dibawa terbang, tinggi. Luar biasa, ketiganya bersukaria. Ternyata gagasan yang diwujud-nyatakan sungguh luar biasa. Kura-kura yang habitatnya hanya di persawahan dan perairan, kini bisa terbang.

Ketika melintasi kawasan pertanian, ketiga sobat karib ini mendengar celotehan beberapa petani, katanya : “Wah… betapa cemerlangnya gagasan kedua bangau itu”. Yang lain berujar : “Oh…luar biasa kreatif kedua bangau itu”. Mereka bertepuk tangan dan memuji gagasan kreatif kedua unggas itu. Beberapa ekor ular yang bersembunyi di semak belukar hanya mencibir sambil mengamati fenomena menarik itu.

Mendengar tuturan petani, si kura-kura merasa tersinggung dan sakit hati. “Ini ide saya, ini murni gagasanku..” katanya dalam hati. Tak puas cuma bicara dalam hati, si kura-kura serta-merta bicara langsung…… astaga, dia membuka mulutnya, kedua sahabatnya terperangah. Para petani berseru, “Kura-kura, jangan ambil keputusan keliru, tutup mulutmu”. Sang kura-kura tak mampu menahan gejolak hatinya. Harga diri dan keangkuhannya mengalahkan gagasan yang cemerlang. Bumi menariknya, terhempas. Hancur lebur. Para petani yang awalnya bersorak-riang, diam terpaku. Lalu muncul suara-suara sumbang, “Betapa tololnya si kura-kura, sudah dibawa terbang tapi melepaskan kesempatannya menikmati pemandangan indah. Dasar kura-kura, tempatnya memang di sawah bukan di angkasa”. Tamat.

Gagasan cemerlang tidak selamanya cemerlang dalam aplikasinya. Ide brilian yang salah tempat dan salah waktu justru bisa berubah menjadi bumerang. Jangan paksakan gagasan jika tujuannya cuma untuk cari nama.

Inspirasi di Banga, Touluaan, Mitra
12 Juli 2009

Seni Untuk Publik

Andre GB

Andre GB

Era dunia saat ini adalah kapitalisme, tak terkecuali Indonesia. Beberapa ekonom kritis bahkan menghadiahkan nama baru untuk sistem ini –melihat perkembangannya- di akhir abad 20: neoliberalisme. Secara ekonomi politik, ciri dasar kapitalisme adalah tentang bagaimana suatu aspek kehidupan, yang seharusnya dapat diakses oleh semua orang, menjadi milik segelintir orang yang beruntung (secara ekonomi). Kerja-kerja kesenian, semacam lukisan-lukisan, kerajinan tangan ataupun ukir-ukiran dan sebagainya, bukanlah pengecualian dari hukum umum ini.

Dewasa ini, kondisi tersebut bagaimanapun telah menjadi suatu realitas di Indonesia. Kita bisa tengok bagaimana lukisan-lukisan indah, patung-patung berestetika tinggi, sampai ke kerajinan-kerajinan tangan bermutu dipajang dan dijual dengan harga sangat tinggi di galeri-galeri bonafit. Masih ingat terjualnya lukisan Sonny Lengkong ketika pameran tunggalnya diadakan di salah satu hotel mewah di kota Manado mencapai total lebih dari Rp 100 juta beberapa waktu silam? Tentu saja akhirnya, para penikmat seni yang datang ke galeri ataupun pameran pun relatif mapan secara ekonomi. Tak jarang sebuah karya seni mahal tersebut laku terjual, dibawa pulang ke rumah untuk dinikmati oleh pribadi ataupun keluarganya. Sebuah karya seni telah kehilangan sifat publiknya.
Manusia tidak dapat dipisahkan dari kesenian- termasuk menikmati karya seni. Karya seni telah semakin teralienasi seiring berjangkitnya neoliberal sebagai perkembangan tertinggi kapitalisme dunia. Setiap thesis tentu memiliki anti-thesis. Realitas kesenian di bawah jejaring kapitalisme pasti memiliki kontradiksi internal dalam dirinya. Untuk dapat membongkarnya, pertama-tama kita harus mengetahui dengan benar bagaimana wujud kerja kapitalisme dalam kesenian.

MISTIFIKASI SENI
Secara teori, museum maupun galeri dimaksudkan untuk menjamin akses publik terhadap kesenian, menyediakan ruang tertentu agar nyaman dalam menikmatinya, dan memang sukses tetapi dalam derajat tertentu. Meskipun demikian, masih banyak massa rakyat ,terutama yang berkemampuan ekonomi lemah, berpikir bahwa tempat-tempat semacam itu bukanlah dibuat untuk kalangan mereka. Suasana khidmat museum dan galeri membuat mereka terintimidasi, sebagaimana kenyataan bahwa tempat-tempat itu memang “ada” untuk kaum menengah maupun kelas atas. Sialnya, sangat tepat untuk watak masyarakat kita yang masih kurang percaya diri dalam mengapresiasi maupun menghasilkan karya seni.

Seorang teoritikus seni terkenal, John Berger, menggambarkan proses ini sebagai bagian dari tren umum “mistifikasi” terhadap kesenian di bawah dunia kapitalisme. Pierre Bourdieu, ahli sosiologi Perancis, melakukan obsevasi yang mirip. Penelitiannya menemukan bahwa terdapat perbedaan cara pandang terhadap kesenian untuk kelas sosial yang berbeda. Secara hegemonis maupun ekonomis, kelompok masyarakat kelas bawah dipaksa untuk menganggap karya-karya seni yang dipajang di galeri-galeri adalah suatu hal yang sakral (bukan untuk kalangan mereka) dan tidak terjangkau.

Langkah kedua tentang bagaimana upaya kapitalisme mencegah akses massa terhadap kesenian adalah dengan menjadikan karya seni sebagai komoditi mewah untuk diperjual belikan di pasar. Seniman-seniman profesional didorong untuk mengikuti polah pasar untuk bertahan hidup. Sekelompok kecil individu-individu kaya raya menguasai karya-karya seni yang mashyur dan mahal. Tak ketinggalan, institut-institut kesenian, sebagai alat ideologi formal pencetak seniman-seniman, secara seragam mengajarkan kepada anak didiknya untuk bagaimana berkesenian agar mampu terjual dengan harga tinggi nantinya. Secara tak sadar akhirnya, mereka berkesenian tidak menggunakan sense, melainkan logika pasar. Sayangnya logika tersebut pada perjalanannya, semenjak lahirnya di abad 18, tak pernah seiring dengan logika mayoritas rakyat.

TURUN KE JALANAN
Bagaimanakah cara untuk melawan arus kapitalisme kesenian? Salah satu caranya adalah dengan mengeluarkan kesenian dari museum ataupun galeri ke jalanan. Biarkan seluruh rakyat, dari tua muda, kaya miskin, mampu menikmatinya. Galeri-galeri mewah itu terlalu sakral untuk kaum yang miskin. Setidaknya meletakkan kesenian di jalanan akan menghancurkan elitisme dari galeri-galeri, mendapatkan kembali ruang publik- dan mempersulit pengkomoditian kesenian.

Hal ini contohnya telah banyak dilakukan oleh seniman-seniman muda di Sulawesi Utara. Pentas teater jalanan yang diadakan oleh KKBR selama rentang tahun 2006-2007, peluncuran buku puisi yang hanya diadakan di kedai kecil yang terbuka akan akses para apresian, ataupun pentas-pentas di berbagai tempat yang dapat terjangkau oleh publik.

Tentu saja, hanya dengan adanya kesenian di jalan tidak secara otomatis menjadikan kesenian tersebut radikal. Kita pasti ingat, bahwa para penguasa di negeri manapun selalu membangun patung-patung atau monumen-monumen mengenai diri atau kekuasaan mereka untuk ditampilkan di tempat-tempat publik. Maksud bangunan-bangunan tersebut adalah untuk mengintimidasi rakyat dan membuat agar kita menganggap bahwa kekuasaan mereka alamiah. Tidak perlu jauh-jauh, para penguasa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Nusantara pun tidak lupa melakukannya. Berbagai prasasti, patung-patung dan artefak lainnya peninggalan zaman mereka telah menunjukkan kecenderungan itu.

Tetapi kesenian model penguasa yang dipertontonkan pada rakyat adalah sangat berbeda dari kesenian jalanan yang sejati. Mereka (karya-karya seni penguasa) hanyalah merupakan alat propaganda penguasa untuk rakyat demi langgengnya kekuasaan. Kesenian jalanan yang sejati memperlihatkan suatu potensi untuk sebuah dunia di mana kesenian adalah bagian integral dari hidup kita, sebuah perayaan atas kretivitas kita dan kekayaan atas imajinasi kita. Program-program yang bersifat massal (misal: program sejuta mural untuk rakyat) di seluruh kota haruslah menjadi prioritas pertama untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni. Sehingga nantinya, masyarakat Indonesia yang halus, beretika, dan berbudaya tidak hanya sekedar dongeng.

Oleh: Andre GB
(Sastrawan, Mantan Pimred Jurnal Sastra Manado, Peneliti Budaya di Mawale Cultural Center-Tomohon)

Bukit Inspirasi di Tahun Berlian GMIM Bersinode

John Karl Barth Damongilala

John Karl Barth Damongilala

Belum usai kisah hangar-bingar UKIT, muncul lagi kabar baru yang akhir-akhir ini merebak di kalangan warga GMIM. Berita ini menjadi salah satu topik menarik yang menjadi buah bibir warga jemaat. Konon kabarnya, gedung Auditorium Bukit Inspirasi direhabilitasi oleh pihak ketiga dengan konsesi pengelolaan beberapa tahun ke depan diimbuhi pendekatan bisnis. (more…)

Pariwisata dan Perubahan Lingkungan

JR Pahlano Daud

JR Pahlano Daud

Industri pariwisata (tourism) merupakan salah satu isu utama di millenium ke-3 ini selain transportasi, telekomunikasi, dan teknologi (4T).

Ini berarti, pariwisata menjadi salah satu industri yang tumbuh dominan dan memiliki peran penting dalam aspek kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. Beberapa waktu lalu dalam dunia pariwisata muncul isu mengenai Greenspeak dan Go Green. (more…)

Pilgub Sulawesi Utara, Mulai Digulirkan!

Eric Mf Dajoh

Eric Mf Dajoh

TABEA! Harian Manado Pos edisi Jumat, 29/5, mewacanakan pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Utara.

Salah satu tawarannya, adalah prediksi calon gubernur–calon wakil gubernur (cagub-cawagub) Provinsi Sulawesi Utara, periode 2010-2015. (more…)

IKLAN

Dibaca lebih banyak orang setiap hari dari seluruh dunia! Tepat untuk promosikan usaha anda!
Iklan dan Promosi hubungi kami melalui form isian, klik disini


Log in - Hosted by Tadulako Hosting and design by WebManado.com