Penulis: ayk | 10/04/2012.

Pingkan Kapoh dan Victorine Lengkong (foto ist)
Bitung—Camat Aertembaga dan Ranowulu, Victorine Lengkong serta Pingkan Kapoh emosi ketika mengetahui mereka diberitakan ikut dalam studi banding penuntasan kemiskinan di Pacitan bersama enam camat lainnya. Bahkan keduanya menuding pemberitaan tersebut hanya mengada-ada dan tidak sesuai dengan kenyataan.
“Selama ini saya tidak pernah berbuat jahat kepada wartawan tapi kenapa sampai diberitakan demikian, seolah-olah pekerjaan kami hanya keluar-keluar dan hanya jalan-jalan,” kata Kapoh dan Lengkong ketika dihubungi sejumlah wartawan, Selasa (10/4).
Kapoh sendiri menjelaskan soal kehadirannya di festival Maleseung beberapa waktu lalu di Jakarta. Dimana menurutnya, ia membawa tim dari Kota Bitung dalam fesival tersebut. Karena kebetulan yang ditunjuk mewakili Kota Bitung adalah warganya, sehingga harus ikut hadir.
“Bagimana tidak ada kaitan jika saya yang membawa tim ke Festival Malesung sedangkan lurah yang ikut bersama saya menggunakan SPPJ agar bisa ikut,” kata Kapoh dengan nada emosi.
Kapoh juga meminta agar tujuan keberangkatan mereka keluar daerah diinformasi ke semua wartawan memang dalam rangka studi banding, bukan untuk jalan-jalan dan tidak usah memberitakan hal-hal yang negatif tanpa konfirmasi. “Kami tidak mau dianggap masyarakat hanya jalan-jalan, tidak semua masyarakat berpikiran bagus. Emang semua masyarakat itu berpikiran sama,” katanya seraya mengoper ponselnya ke Lengkong.
Lengkong sendiri dengan logat Jakarta juga mengaku tidak senang dengan pemberitaan tersebut. Padahal menurutnya, setiap dirinya dan Kapoh keluar daerah memang dalam ragka tugas bukan jalan-jalan.
“Kenapa kalian tulis demikian, kami tidak pernah plesir-plesir karena plesir itu konotasinya negatif, harusnya ditulis tugas luar, ok,” kata Lengkong.
Ia menanyakan kenapa tidak menanyakan terlebih dulu baru memuat berita. Apalagi menurutnya, mereka tidak berbuat salah sehingga diberitakan demikian. “Jangan hanya klarifikasi ke Sekkot, harusnya kami juga diklarifikasi dong,” katanya.
Lengkong juga membantah jika selama ini dirinya selalu berpergian dengan Kapoh. Apalagi keluar daerah, ia hanya beberapa kali bersamaan dengan Kapoh. “Waktu festival Melesung saya berangkat atas dasar ijin berobat, tidak seperti Kapoh yang memang mendampingi masyarakat yang akan tampil dalam festival tersebut dan sekali lagi saya dan Kapoh tidak pelisir, dan kami berdua tidak selalu jalan sama-sama. Heran deh,” katanya.
Lebih lanjut Lengkong meminta wartawan agar menanyakan ke walikota dan wakil kenapa harus mereka berdua terus yang diajak keluar daerah. Bukan camat lain atau pejabat lain yang selalu dipanggil untuk mendampingi walikota dan wakil walikota.
“Dan saat ini kami sementara bersama Pak Wali di Pemkot Surabaya dalam ragka studi banding strategi penanggulangan kemiskinan dan kebersihan. Besok hari kami akan ke Pacitan untuk tujuan yang sama,” katanya.
Tak hanya itu, dalam klarifikasi tersebut, Lengkong dan Kapoh mengaku tidak menerima klarifikasi yang telah diberikan Sekkot Bitung, Edison Humiang soal keberangkatan mereka. “Sekkot kan hanya bilang ke Pacitan dalam rangka studi banding penuntasan kemiskinan, tapi dia tidak tau apa yang kami dapatkan. Makanya setelah mendapatkan klarifikasi dari Sekkot silakan hubungi kami untuk klarifikasi,” kata keduanya.
Lengkong dan Kapoh sendiri merasa selama ini selalu dipojokkan wartawan dalam setiap pemberitaan. Seperti judul pemberitaan yang hanya menyebutkan nama mereka, tidak menyebutkan nama camat lain yang ikut berangkat.
“Kenapa sih harus kami berdua yang jadi sasaran pemberitaan,” ujar Lengkong.(en)
Tags: Camat Aertembaga, Camat Ranowulu, Pingkan Kapoh, Victorine Lengkong
boom
11/04/2012 at 22:00
Ada apa yach dgn mereka berdua ??
sinyo
13/04/2012 at 04:56
Keren juga nih camat bitung, kaya artis sinetron jadi wajarlah kalau pimpinannya seringa ngajak keluar daerah. Kan yang harus ditonjolin harus bagus2 biar orang tertarik datang ke bitung
x
30/04/2012 at 22:54
ayam
kaktif
01/05/2012 at 01:06
Pecat jo pa dorAng
rina
03/06/2012 at 10:30
jang tanya KENAPA mar mengapa?
1. “Kami tidak mau dianggap masyarakat hanya jalan-jalan, tidak semua masyarakat berpikiran bagus.
2. Emang semua masyarakat itu berpikiran sama,” katanya seraya mengoper ponselnya ke Lengkong.
aahaaaaa………….
bukang maeng…., pande ngoni noh..!